Pameran Drawing Hotland Tobing

OLEH-OLEH DARI DESA

Selasa, 23 Januari 2018 19.30 WIB | Bentara Budaya Yogyakarta


Pembukaan pameran:  Selasa, 23 Januari 2018 | Pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung: 23 - 31 Januari 2018

Setelah menyelesaikan studi pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada program seni murni pada tahun 1995. Hotland Tobing berkeinginan untuk menguji kemampuan dan hijrah ke Jakarta pada tahun yang sama.

Selama kurang lebih lima tahun dia bekerja sebagai disainer, ilustrator dengan segala antusias. Ketika ayahnya  meninggal di kampung halaman Tapanuli, Tarutung, dia pulang kampung.

Sementara di dalam persiapan kembali ke Jakarta, dia mendapat order seni macam-macam. Kemudian berlanjut menerima mengerjakan proyek-proyek seni dari Pemda setempat, setelah sekian tahun kemudian dia  berkolaborasi dengan penduduk/membuat handycraft bertujuan untuk melestarikan ukiran/patung tradisional batak.

Di dalam berolah seni dengan teman-teman di sana, dia  tetap meluangkan waktu untuk berkarya, berekspresi seni rupa murni. Satu demi  dikumpulkan sebab dia merasa passion-nya di sana.

Dalam perjalanan panjang menekuninya, tibalah waktunya untuk memamerkannya, setelah lama vakum dalam perhelatan seni rupa di kota-kota besar di Indonesia. Akhirnya, Hotland Tobing  kembali ke Jawa/Jakarta membawa oleh-oleh dari desa.

Pada Pameran “Oleh-Oleh dari Desa“ yang hendak dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, 23 – 31 Januari 2018 lebih pada karya drawing. Temanya lebih pada masalah-masalah kemanusiaan sebagai bentuk keterlibatan dalam lingkup sosial.
Menurutnya, karya seni tanpa keterlibatan lingkup sosialnya merupakan nasi tanpa lauk. Karya drawingnya mengulik masalah-masalah sosial membaca, mencatat zaman seperti perilaku negatif manusia seolah mundur ke zaman purba, sifat ego manusia yang ingin menguasai lainnya, manusia tertawan harta, sifat materialistis  mempertahankan takhta menjadikan korupsi.  Dia juga menyorot tentang perang yang tidak berkesudahan sampai saat ini, kekerasannya menteror generasi baru lahir di TV, media cetak.

Perang tidak hanya menghitung nyawa yang hilang tetapi menelorkan dendam kepada generasi ke generasi.  Korupsi sebagai momok di negeri ini menyengsarakan hayat hidup rakyat Indonesia uang rakyat yang dikorupsi, seharusnya untuk membangun infrastruktur, rumah sakit, sekolah dan lain-lainnya dari Sabang – Merauke. Latar belakang pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang  menjadi bijaksana tetapi bisa menjadi berperilaku hewan, memangsa tidak pernah kenyang. Dengan tidak malu/pongah mempertontonkan hasil korupsinya pada masyarakat sekelilingnya. Pembabatan hutan di mana-mana di Indonesia adalah hasil karya koruptor. Latar belakang karya drawing   merupakan teknik yang tua dalam karya rupa yang ditinggalkan sebagian besar  perupa.

Garis sebagai kekuatan/tumpukan untuk sebuah lukisan adalah sangat vital. Garis yang kemudian menjadi sketsa, gambar rancangan untuk lukisan. Di sini dia tidak menorehkan cat atau semacamnya, hanya meneruskan sketsa tadi menjadi gambar/drawing utuh membentuk figur bentuk dengan penekanan hitam–putih. Pengamatan, ketertarikan  pada karya hitam putih sangat mempesonanya karena sangat kuat menampilkan figur, bentuk dan lainnya.

Teknik yang ditekuninya dalam  karya drawing adalah  teknik arsir menumpuk. Hal ini menantang ketekunannya yang mungkin jarang ditampilkan perupa lain.

agenda acara bulan ini