Orkes Keroncong Winada, Solo

Keroncong Bale

Jumat, 14 Desember 2018 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Beralamat di Tempen Baturono RT 01 RW III Joyosuran Pasar Kliwon Solo, Orkes Keroncong Winada yang dipimpin oleh Ibu Winahyu Harjito, terbentuk secara resmi pada tanggal 5 Pebruari 2015. Bagi Ibu Winahyu, mendirikan OK Winada hanya bagian terkecil bentuk kepedulian terhadap kemajuan musik keroncong. Karena, diawali dari kepedulian dan memiliki jiwa penuh kegembiraan, menurutnya hal itu yang sementara ini bisa mewakili tentang kata “melestarikan budaya“ Khususnya Musik keroncong yang sudah turun temurun.  Orkes Keroncong Winada ini yang sudah berjalan 3 tahun, sedikit banyak sudah berbartisipasi dalam kegitan masyarakat, Beraneka macam bentuk kegitan yang telah dimasuki seperti acara keagamaan, Hajatan, Pemerintahan, Kampung dan Gelar Budaya yang bersifat Formal dan Non Formal. 

OK Winada didukung oleh beberapa personel dalam pementasannya, instrumen flute ada pak Wawan, instrumen Biola ada pak Heru, intrumen Gitar ada pak Asek, intrumen Cuk ada pak Sarno, intrumen Cak ada pak Agung, intrumen Cello ada pak Sigit, dan intrumen Bass ada pak Endrayatno. Dari penyanyi ada Lagu Wiwit Aku Isih Bayi yang di nyanyikan ibu Winahyu, lalu Lagu Kroncong Tanah Airku dan Tanjung Perak, bapak Yuwono menyanyikan lagu setambul Dewa Dewi dan lagu Setya Janjiku, lalu ibu Titik Widiati menyanyikan Langgam Jawa Meh Rahino dan Langgam Jawa Dadi Ati dan Bapak  Sarjiyanto menyanyikan Langgam Jawa Nyungging ati dan Langgam Jawa Ngimpi. 

Untuk pementasan diacara Keroncong Bale ini, kami juga akan menambah personil di instrumen Cuk (Ukulele) yang dimainkan oleh ananda Gading siswa SDN Mangkubumen wetan kelas 5 dan Penyanyi Ananda Margaretha Rahma Deo siswa klas 5 SDN Mangkubumen Wetan no 63 yang akan menyayikan lagu Bengawan Solo, Bunda Cinta siswa klas 2 SMP Alumnus SDN Mangkubumen Wetan  no 63 dengan lagu You raise me up. Alasan kami melibatkan Anak – anak  hanyalah memerikan ruang untuk mengenal Musik keroncong.

agenda acara bulan ini
  • Tulisan Itu “IBU“

    Pada 1928, kaum perempuan bersuara untuk segala pemajuan dan pemenuhan harapan-harapan. Di Jogjakarta, kaum perempuan berpidato dan bercakap mengurusi pelbagai halam mengenai kewajiban-hak perempuan berlatara Indonesia ingin mulia. Mereka memilih menulis teks pidato dengan bahasa Indonesia. Suara mereka di muka umum menandai ada kemauan mengabarkan ide dan perasaan minta tanggapan publik. Pada 1928, kita mengenang mereka gara-gara tulisan dan pidato.

  • LOVE ‘N’ PEACE

    Mengangkat tema Love n peace, Blues On Stage ingin menyampaikan pesan cinta damai kepada masyarakat. Tahun politik dan perkembangan sosmed sering memberi dampak negatif berupa penyebaran hoax,ujaran kebencian, penghinaan dsb.