ORKES KERONCONG NADA JUANG

Keroncong Bale

Rabu, 24 Juli 2019 Balai Soedjatmoko | pukul 19.30 WIB

Bentara Budaya Solo, akan menyelenggarakan pementasan musik keroncong dengan tajuk Keroncnong Bale. Keroncong Bale kali ini akan di selenggarakan pada hari Rabu, 24 juli 2019 dengan penampilan Orkes Keroncong Nada Juang.  

Belia, itulah sebutan yang manis untuk Orkes Keroncong Nada Juang. Mulai  dibentuk oleh bapak Hanung Turwaji, 3 tahun yang lalu. Lebih tepatnya sekitar tahun 2016. Meskipun personil Nada Juang tak lagi muda, namun semangat dan optimisme untuk menyanyikan lagu lagu keroncong masih sangat tinggi. Rata-rata semua personilnya berusia 40 tahun. 

Adapun nama Nada Juang, terdiri dari kata Nada yang merupakan bagian dari seni musik dan Juang dari kata perjuangan. Sehingga Orkes Keroncong ini semangatnya akan selalu memperjuangkan kelestarian budaya khususnya musik Keroncong. 

Anggota orkes keroncong yang berasal dari desa Selokaton Kecamatan Gondangrejo ini berjumlah  15 orang, regenerasipun terus dilakukan untuk keberlanjutan pelestarian musik keroncong. 

OK Nada Juang sering mengisi acara untuk kegiatan hajatan di berbagai daerah, dan juga mendapatkan agenda rutin dari pemerintah kabupaten Karanganyar untuk mengisi siaran di RSPD Karanganyar. Tampil pula dibeberapa tempat, seperti di Joglo Sriwedari dan Taman Budaya Jawa Tengah. 

Meskipun masih sangat muda, namun OK Nada Juang pernah menjadi juara 3 Festival Keroncong tingkat kabupaten dalam rangka ulang tahun DPRD Karanganyar. Nantikan penampilan mereka kali ini di Balai Soedjatmoko.

agenda acara bulan ini
  • JULI BLUES BERBUNYI

    Musik Blues dipandang sebagai akar dari perkembangan musik Jazz, Rock, Pop hingga masuk ke dalam dunia industri musik populer. Seperti pada awalnya muncul dilagu lagu Benyamin, Koes Plus, hingga kemudian diera 90’an ada Slank, dan sekarang banyak bermunculan musisi - musisi blues seperti Gugun Blues Shelter, Rama Satria, Ginda Bestari dsb.

  • LAGI-LAGI BICARA “PEREMPUAN“

    Publik barangkali sudah bosan atau malahan muak dengan tema soal perempuan. Pembahasan soal “perempuan“ hari-hari ini mudah sekali dapat generalisasi dengan sebutan feminisme. Sebutan yang di masa lalu pernah ngeri dan jauh karena keterbatasan informasi yang muncul ke hadapan publik. Di Indonesia, titik balik feminisme lekat dengan pengetahuan kita akan sosok Raden Ajeng Kartini. Bersama segenap sikap, tingkat laku, dan tulisan-tulisannya yang –pada masa itu– terbaca penuh perlawanan, Kartini menjadi ikon pahlawan perempuan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang tak lekang oleh zaman.

  • SERAT WIRA ISWARA-GANDRUNG ASMARA

    Serat Wira Iswara adalah termasuk karya besar ISKS. Pakoeboewono IX. Sesuai dengan namanya wira, wara, warah, yang artinya ajaran, petuah; Iswara artinya raja. Jadi Wira Iswara adalah ajaran atau petuah yang disampaikan oleh raja, dan karena isinya maka serat ini dapat digolongkan sebagai karya sastra tutur atau sastra ajar. Serat Wira Iswara adalah merupakan kompilasi atau kumpulan dari berbagai karya beliau, di antaranya Serat Gandrung Asmara, Serat Gandrung Turidha, Serat Wulang Rajaputra, Serat Wulang putri, dan sebagainya.