Obrolan Seni Rupa

KONSERVASI DI STUDIO SENIMAN: MENGAPA DAN BAGAIMANA?

Senin, 14 Mei 2018 Bentara Budaya Jakarta | 15.00 WIB


Bersama Michaella Anselmini
Moderator Enin Supriyanto

Restorator seni Michaella Anselmini akan membagikan pengalamannya selama menekuni restorasi dan konservasi karya seni di galeri-galeri di Eropa. Baginya, upaya restorasi dan konservasi perlu dilakukan sejak di dalam studio sang seniman, bukannya ketika karya tersebut telah mengalami beberapa kerusakan; hal yang selama ini masih sering kita jumpai dalam dunia seni rupa di berbagai belahan dunia. 

Peninggalan budaya rentan akan ancaman berbagai bentuk. Mulai dari pencurian, vandalisme, hama, polusi, kelembaban, temperatur, keadaan darurat berkaitan dengan alam dan kerusakan diakibatkan cahaya dan lainnya. 

Efek yang timbul dari masalah ini dapat diatasi dan sebenarnya malah bisa dilakukan penangan sebaliknya yaitu, melakukan konservasi agar kerusakan yang dimaksud tidak terjadi. Awal karir Michaela dimulai saat ia berusia  25 tahun. Sebagai seorang restorator dan konservator profesional khusus dalam, seni modern dan kontemporer. Menurut Emi, panggilannya,  adalah bagaimana para perupa harus meminimalisir dampak ancaman kerusakan tersebut saat mereka membuat karya seni. 

Emi dibesarkan di Italia dengan dikelelilingi benda-benda antik masa itu. Dia bisa cepat mempelajari bahwa  konservasi seni karya abad XV lebih mudah ketimbang melestarikan senirupa modern dan seni kontemporer.

Setelah lulus dari restorasi dan konservasi Emi mulai berlatih dalam seni modern dan kontemporer. Dia bisa membedakan karya seni yang dikerjakan oleh seniman yang mengerti material yang dipakainya  VS  seniman  yang hanya memakai produk  yang “mudah didapat-mudah dibeli“ tanpa mengetahui komposisi ataupun kandungan materialnya sendiri.
 Ini adalah kesenjangan atara generasi masa kini dan para maestro masa lalu. 

Ini salah satu alasan mengapa seorang professional selalu menginginkan kualitas terbaik untuk menghindari kerusakan yang tidak semestinya terhadap karya seni ataupun warisan budaya. Dan ceu Emi, panggilan akrabnya selama berkunjung ke Bandung berharapa akan ada banyak seniman yang belajar pengetahuan tentang material senirupa dan bagaimana penggunaannya.

Metode yang dia lakukan dalam upaya restorasi dan konservasi meliputi dokumentasi digital, pemindaian ultraviolet, penanganan antijamur, pelapisan ulang kanvas, pembersihan anionik, dan sebagainya. Kehadirannya di Bentara Budaya Jakarta adalah sehubungan dengan usaha restorasi koleksi pilihan Bentara Budaya. Ia berharap diskusi ini dapat sedikit membantu Indonesia untuk memiliki konservator professional, yang terlatih dan memiliki program yang sesuai yang dikenal secara internasional, walau tentu saja hal ini tidak bisa diperoleh hanya dengan workshop singkat saja. 


agenda acara bulan ini
  • SUBUR MAKMUR

    Subur Makmur, sebuah jargon yang acapkali terdengar di masyarakat. Subur dapat diartikan sebagai kemampuan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang biak secara sempurna. Sedangkan makmur dimaksudkan sebagai hasil yang serba berkecukupan. “Subur Makmur“ menjadi tajuk dalam pameran karya seni rupa seniman Gigih Wiyono yang akan diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta pada bulan Juli 2019.

    Sejumlah karya berupa lukisan dan patung akan ditampilkan di dalam pameran ini. Gigih Wiyono, yang lahir dan tumbuh di daerah pertanian kabupaten Sukoharjo (Jawa Tengah) membuat tema kesuburan dan kemakmuran selalu lekat dalam setiap karyanya. Setelah pada periode sebelumnya ia menggali tema tentang mitos Dewi Sri, pada kali ini ia akan mencoba mengembangkannya lagi dalam konsep kesuburan dan kemakmuran.