OBITUARI PENYAIR REINA CAESILIA

Dialog Sastra #65

Sabtu, 18 Mei 2019 Betara Budaya Bali | pukul 17.00 WITA

Pembacaan Karya, Musikalisasi & Dialog

Penyair Reina Caesilia, adalah nama akrab dari Caesilia Nina Yanuariani, hingga berpulangnya pada 2 April 2019, belum sempat menerbitkan buku antologi tunggal puisinya. Dilahirkan di Surakarta, 29 Januari 1965 tapi besar di Singaraja hingga tamat di SMAN 1 kota tersebut, sosok pendiam ini sesungguhnya terbilang produktif menciptakan karya-karya puisi dan esai sedini masa SMA-nya. 

Sebagai penyair, Reina terbilang gigih, aktif bergaul dalam berbagai komunitas sastra serta kerap menghadiri berbagai pertemuan, termasuk di Jatijagat Kampung Puisi (JKP) Bali di bawah arahan Umbu Landu Paranggi. Puisi-puisinya terbit di berbagai media serta terangkum dalam berbagai kumpulan bersama, semisal “Saron“ (2018), “Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta“ (2016), “Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut“ (2015), “Dendang Denpasar Nyiur Sanur“ (2013), “Pedas Lada Pasir Kuarsa“ (2009) dll. Bakatnya mulai terasah dengan perhatian yang lebih sungguh setelah terlibat di dalam tahapan pawai, kompetisi dan budaya di Bali Post, di mana Umbu Landu Paranggi sebagai mentor atau redaktur yang tak segan memuat karya-karyanya secara “solo run“ atau sendiri dengan sejumlah karya pilihan yang unggul. 

Jauh sebelum mengemuka perdebatan perihal feminisme dalam susastra Indonesia, Reina, melalui karya-karya puisinya yang bersudut pandang perempuan, telah meluapkan gugatan terhadap budaya patriarki yang dirasa tidak adil dan menghalangi kebebasan berekspresinya sebagai kreator. Karya-karyanya tak hanya bersifat soliloqui, yang soliter, melainkan juga menyuratkan pesan-pesan yang bersifat solider, sebentuk kepedulian pada hal-hal sosial–namun tetap diungkap dengan bahasa yang segar penuh metafor. Dibandingkan angkatan kompetisinya di Bali Post, puisi-puisi Reina Caesilia tak sedikit yang bersifat naratif dengan deskripsinya yang terjaga. Hal ini mengingatkan sisi dirinya yang sempat mendalami secara sungguh bidang jurnalistik sebagai wartawan hingga posisi redaktur dari mulai di Bali Post, Nusa Bali hingga media-media online belakangan. 

Sosoknya yang terbilang pendiam dan penyendiri namun juga kukuh dan keras atau tegas, tergambar pada keputusannya untuk meninggalkan posisi-posisi di berbagai media, termasuk keputusannya untuk berpindah jurusan dari Sastra Inggris ke Sastra Indonesia, di Fakultas Sastra Universitas Udayana, bahkan kemudian memilih keluar (tidak tamat). Ia kemudian menyelesaikan sarjana (S1) di FIKOM Universitas Dwijendra, Denpasar. 

Karya-karya dan sosok Reina Caesilia akan dibahas oleh sastrawan Wayan Jengki Sunarta, adapun kiprah dan pergaulan kreatifnya akan ditimbang oleh penulis dan pengamat seni budaya Hartanto Yudo Prastyo. Termasuk bahasan pentingnya sebentuk Lembaga Solidaritas bagi peseduluran susastra di Bali.

Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Buday Bali. Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya. Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar, maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga dan sastrawan NH. Dini.

Hartanto Yudho Prastyo lahir di Surakarta, 1958 dan tinggal di Denpasar. Ia pernah bekerja sebagai wartawan majalah Matra. Menulis sejak SMP, karya-karyanya dimuat Bali Post, Nusa Tenggara, Suara Karya, majalah Hai dan Jurnal Kebudayaan CAK. Puisinya terbit dalam antologi Ladrang (1995). Belakangan menjadi "petani" di Bali Utara.

Wayan "Jengki" Sunarta, lahir di Denpasar, 1975. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Menulis sejak awal tahun 1990-an, karya-karyanya dimuat Bali Post, Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi bersama seperti Nyanyian Fajar (1993), Getar (1995), Kidung Kawijayan (1996). Buku puisi tunggalnya Pada Lingkar Putingmu (2005), Impian Usai (2007), Malam Cinta (2008) dan terkini Petualang Sabang (2018). Meraih penghargaan Widya Pataka oleh Gubernur Bali (2007).

agenda acara bulan ini
  • SACRED ENERGY

    Ini adalah pameran tunggal I Made Sumadiyasa setelah Solo Exhibition “The Backlash Of The East“ di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 tahun lalu. Mengedepankan tajuk “Sacred Energy“ sebuah MetaRupa, seniman kelahiran Tabanan ini mengulik energi alam dan kehidupan dalam dimensi immaterial melalui penciptaan drama piktorial seturut gerak spontan tak terduga, bahkan meluap lepas dan melepas batas. Selama dua puluh lima tahun lebih karir kekaryaannya, seniman ini suntuk mencipta seni rupa abstrak ekspresionisme dengan aspek emotif yang sangat kuat melampaui menifestasi bentuk-bentuk “objektif“ alam itu sendiri. Yaitu ekspresionisme dalam gerak bebas semesta batin yang subjektif sekaligus wahana penjelajahan ketakterbatasan energi kosmik yang sangat dinamis dalam skala kolosal.