OBITUARI NYOMAN TUSTHI EDDY

Dialog Sastra #70

Minggu, 15 Maret 2020 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Tidak hanya dikenal sebagai sastrawan mumpuni, Nyoman Tusthi Eddy, kelahiran Pidpid, Karangasem 12 Desember 1945, juga merupakan salah satu tokoh yang giat menggairahkan kehidupan susastra di Bali, khususnya tempat kelahirannya di Bali Timur. Selain menulis puisi dan cerpen berbahasa Bali, ia juga esais yang karya-karyanya rutin diterbitkan sejumlah koran, semisal Bali Post, Suara Karya, Kompas, Horison, Basis, Warta Hindu Dhrama, Sarad, termasuk dimuat pada jurnal-jurnal budaya yang diterbitkan di Malaysia dan Brunei. Pada 2009, Nyoman Tusthi Eddy menerima hadiah sastra Rancage melalui kumpulan puisi berbahasa Balinya Somah (Buratwangi, 2008).

Sastrawan yang berpulang pada 17 Januari 2020 ini setidaknya telah melahirkan 16 buku kumpulan esai dan ulasan sastra , antara lain: Nukilan (Nusa Indah; Yayasan Kanisius, 1983), Pengantar Singkat Keragaman dan Periodisasi Pembaruan Puisi Indonesia (Nusa Indah, 1984), Analisis Perbandingan Kata dan Istilah bahasa Malaysia-Indonesia (Nusa Indah, 1987), Gumam Seputar Apresiasi Sastra : Sejumlah Esei dan Catatan (Nusa Indah, 1985), Kamus Istilah Sastra Indonesia (Nusa Indah, 1991), Mengenal sastra Bali Modern : Dua Buah Esei (Balai Pustaka, 1991), Wajah Tuhan : di Mata Penyair (Pustaka Manikgeni, 1994), Duh Ratnayu : Tembang Kawi Mendamba Cinta (Upada Sastra, 2001), Tafsir Simbolik Cerita Bagus Diarsa (Yayasan Dharma Sastra, 2002).

Buku kumpulan puisi berjudul: Seputar Dunia – Terjemahan (Nusa Indah, 1984), Sajak-sajak Timur Jauh dalam Terjemahan (Nusa Indah, 1985), Rerasan Sajeroning Desa – kumpulan puisi berbahasa Bali (Buratwangi & Balai Bahasa Denpasar, 2000), Ning Brahman (Balai Bahasa Denpasar, 2002), dan SungaiMu (Balai Bahasa Denpasar, 2004). Kumpulan cerpennya Kenangan demi Kenangan (1981) diterbitkan oleh penerbit Nusa Indah, Ende, NTT dan kumpulan dongengnya Cerita Rakyat dari Bali 2 (1997) diterbitkan oleh penerbit Grasindo, Jakarta.

Pada tahun 2011, bersama penyair Umbu Landu Paranggi, dan Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, Nyoman Tusthi Eddy juga pernah menjadi juri dalam Lomba Cipta Puisi Nasional yang diselenggarakan Bentara Budaya Bali, serta mengisi satu seri program Dialog Sastra (kala itu masih bernama Sandyakala Sastra) yang mengetengahkan tematik “Religiusitas Sastrawan Bali“.

Program Dialog Sastra #70 kali ini mengetengahkan Obituari bagi sastrawan Nyoman Tusthi Eddy, sebentuk penghormatan bagi capaian, dedikasi serta sumbangsih beliau untuk kehidupan susastra di Bali. Sebagai  narasumber yakni I Made Sujaya, S.S., M.Hum, seorang jurnalis, kritikus, dan dosen di IKIP PGRI Bali. Acara akan dimaknai pula pembacaan puisi dan nukilan cerpen karya Nyoman Tusthi Eddy.

Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Budaya Bali. Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya. Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar, maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga, sastrawan NH. Dini, dan penyair Reina Caesilia.

I Made Sujaya, kini tercatat sebagai dosen tetap yayasan di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP PGRI Bali. Selain sebagai pengajar, Sujaya juga jurnalis dan editor lepas di harian warga kota DenPost, menjadi penjaga gawang rubrik sastra dan budaya pada terbitan edisi Minggu DenPost. Tapi, tulisan-tulisannya juga dimuat di Bali Post serta The Jakarta Post. Buku pertamanya, Sepotong Nurani Kuta: Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002 yang terbit tahun 2004 menjadi satu di antara sedikit buku mengenai Tragedi Bom Bali yang ditulis jurnalis Bali. Tahun 2007, menerima penghargaan “Widya Pataka“ dari Gubernur Bali untuk buku kedua, Perkawinan Terlarang: Pantangan Berpoligami di Desa-desa Bali Kuno.

agenda acara bulan ini
  • TANAH AIR DAN KITA

    Sinema Bentara bulan Maret ini akan menayangkan sejumlah film panjang lintas negeri yang berkisah tentang rasa cinta terhadap Tanah Air. Film-film yang diputar tidak hanya menghadirkan tokoh sarat perjuangan, namun juga sosok pribadi yang memiliki semangat kemanusiaan, keindahan seni dan pertiwi berikut mengedepankan hubungan welas asih sesama manusia yang universal.