OBITUARI NH. DINI

Dialog Sastra #64

Rabu, 27 Februari 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Dialog Sastra di Bentara Budaya Bali kali ini didedikasikan untuk menghormati pencapaian karya dan totalitas penulis Nh. Dini yang belum lama ini , tepatnya tanggal 4 Desember 2018 berpulang dalam usia 82 tahun. Selain membincangkan tema novel-novelnya yang menyoal pergulatan batin perempuan, berikut latar pengalaman lintas bangsa dan kulturalnya, akan ditayangkan pula film dokumenter proses kreatif pengarang novel La Barka, kelahiran Semarang ini. 

Bekerja sama dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama,  yang menerbitkan buku-buku terpilih karya Nh. Dini, Bentara Budaya menggelar Dialog Sastra di empat lokasi, diawali di Bentara Budaya Jakarta (Desember 2018), lalu di Bentara Budaya Solo Balai Soedjatmoko (Januari 2019), Bentara Budaya Bali (Februari 2019) serta menyusul kemudian di Bentara Budaya Yogyakarta. Tampil sebagai narasumber pada kesempatan dialog di Bentara Budaya Bali yakni kritikus sastra yang juga akademisi Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. dan Cyntha Hariadi. 

Acara ini akan dihadiri putra putri almarhumah Nh. Dini,  Marie Claire Lintang Coffin dan Pierre Louis Padang Coffin, beserta keluarga, dimaknai pula pembacaan karya dan fragmen monolog yang berangkat karya Nh. Dini.

Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Buday Bali. Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya. Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar serta maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga.

Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., adalah guru besar ilmu sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Sejak tahun 2000, Darma mendapat kepercayaan sebagai juri Hadiah Sastra Rancage. Bukunya terbit di Belanda berjudul A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century (KITLV/Brill 2011). Tahun 2017, bersama Diah Sastri, menulis buku Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud. Ia juga menyunting buku Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali (2016). Bersama Henk Schulte Nordholt (Belanda) dan Helen Creese (Australia), menyunting buku Seabad Puputan Badung Perspektif Belanda dan Bali (2006), diterbitkan tepat pada peringatan 100 Tahun perang Puputan Badung. Sebagai penyunting antologi puisi Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2013), antologi cerpen Denpasar Denpasar Kota Persimpangan, Sanur Tetap Ramai (2015).

Cyntha Hariadi, adalah penulis lepas di Jakarta. Buku pertamanya Ibu Mendulang Anak Berlari merupakan pemenang III Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 dan salah satu dari 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Kumpulan cerita pendek ini adalah bukunya yang kedua.

agenda acara bulan ini
  • SOSOK ANAK DALAM ANIMASI

    Sinema Bentara kali ini mengetengahkan film-film animasi terpilih yang mengangkat sosok anak sebagai fokus utama kisahannya. Bukan semata hal-hal lucu dan jenaka yang mengemuka, namun juga sisi-sisi pilu yang mengharukan serta mengundang pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan, kejujuran, hingga kesetiakawanan.

  • JEJARING BUDAYA MASYARAKAT PEGUNUNGAN BALI

    Batur menjadi salah satu wilayah di perbukitan Cintamani yang tercatat dalam prasasti dan lontar yang dimiliki Bali, yaitu Prasasti 001 Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa 804 Saka (19 Januari 882 M). Pada prasasti itu menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bhiku mendirikan pertapaan dan pesraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal (Kintamani). Prasasti ini menjadi penanda penting dan menumental bagi peradaban Bali sekaligus sebagai revolusi aksara yaitu dimulainya peradaban aksara sebagai babakan awal sejarah Bali kuno (Sumarta, 2015: 5).

  • CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

    I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.