MUNCULNYA IDENTITAS BALI DI ERA KOLONIAL

Timbang Pandang

Jumat, 22 Maret 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.00 WITA

Institut Français d’Indonésie (IFI) dan Alliance française Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali menyelenggarakan seminar atau timbang pandang seputar munculnya identitas Bali di era kolonial. Sebagai narasumber yakni Michel Picard, seorang peneliti dan anggota pendiri Pusat Studi Asia yang berpusat di Paris, Prancis. 

Seturut penggabungan Bali dalam kuasa kolonial Hindia Belanda, pada pergantian abad ke-20, tak pelak mendorong tumbuhnya kehidupan intelektual Bali. Hal mana disebabkan pemerintah kolonial kala itu membutuhkan penduduk asli yang berpendidikan untuk menjadi jembatan atau penghubung antara penduduk lokal dan pendatang asing dari mereka. Generasi pertama Bali yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan era kolonial itu, turut serta terlibat dalam proses identifikasi diri sebagai orang Bali.  Mereka mendirikan organisasi modern dan mulai menerbitkan majalah dalam bahasa Melayu, yang konten dan bentuk terbilang inovatif atau kreatif. 

Dalam terbitan-terbitan ini, orang Bali menafsirkan identitas Kebaliannya - yang mereka sebut sebagai "Balineseness"- dalam istilah "agama" (agama), "tradisi" (adat) dan "budaya" (budaya). Kala itu, masih jauh dari ekspresi esensi primordial, sebagaimana akan lebih mengemuka belakangan, kategori-kategori konseptual ini adalah hal baru dan harus diselaraskan serta ditafsirkan oleh orang Bali sesuai dengan referensi dan keprihatinan serta pengharapan mereka sendiri. Mengemukanya pergulatan intelektual dan upaya pengindentifikasian diri sebagai orang Bali tecermin pada empat majalah yang diterbitkan di Bali selama era kolonial: Bali Adnjana (1924-1930), Surya Kanta (1925-1927 ), Bhawanagara (1931-1935), dan Djatajoe (1936-1941).

Timbang pandang kali ini serangkaian Hari Frankofoni Internasional atau la journée de la francophonie, yakni perayaan bagi para penutur Bahasa Prancis di seluruh dunia, yang diperingati setiap tanggal 20 Maret. Pekan Frankofoni menjadi pertemuan budaya dalam berbagai bentuk, seperti pertunjukan seni, pemutaran film, diskusi, kuliner serta pameran. Tercatat bahwa bahasa Prancis telah menjadi bahasa pengantar di dunia yang dipakai oleh 220 juta orang yang tersebar di lima benua. Bahasa Prancis juga menjadi bahasa resmi di berbagai organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa, serta lembaga-lembaga nirlaba antara lain Palang Merah Internasional dan Amnesti Internasional. Di Asia Tenggara, bahasa Prancis diajarkan di sekolah-sekolah dasar maupun menengah, Alliance Française dan institusi Prancis lainnya.

Turut memaknai perayaan Hari Frankofoni Internasional di Bali, akan ditampilkan pembacaan dan dramatisasi puisi oleh Teater Kalangan, pemutaran video art, serta persembahan musik Prancis DJ Soundsekerta. 

Michel Picard sempat sekian lama menjadi peneliti resmi di Pusat Nasional Perancis untuk Riset Ilmiah (CNRS) dan anggota pendiri Pusat Studi Asia Tenggara ("Pusat Asie du Sud-Est", CNRS-EHESS-INALCO) di Paris. Lahir pada tahun 1946, ia memegang gelar PhD dari École des Hautes Études en Sciences Sociales (1984). Dia telahs menerbitkan secara luas di bidang studi Bali, khususnya pada pariwisata, budaya, identitas, etnis dan agama. Dia adalah penulis Kebalian. Dialog konstruksi La de lidentident balinaise (2017) dan Bali. Wisata Budaya dan Budaya Wisata (1996), dan telah mengedit beberapa volume kolektif, seperti The Appropriation of Religion in Asia Tenggara and Beyond (2017), The Politics of Religion in Indonesia. Sinkretisme, Ortodoksi, dan Pertarungan Agama di Jawa dan Bali (2011), L'etnicité reconsidérée. Éclairages sud-est asiatiques (2008), Tourisme et sociétés locales en Asie orientale (2001), Pariwisata, Etnisitas, dan Negara di Masyarakat Asia dan Pasifik (1997), dan Bali. L'ordre cosmique et la quotidienneté (1993).

agenda acara bulan ini
  • MULTIMEDIA & VIDEO ART

    Kemajuan dunia audio-visual memang tak selamanya menjadi rahmat. Melekat dalam media-media modern itu sebentuk kecanggihan yang penuh godaan. Melalui mata kamera dan seperangkat alat studionya, peristiwa nyata bisa hadir lebih estetis dan jauh dari realita yang sebenarnya. Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, namun sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawaidari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

  • KISAH SUTRADARA DAN FILM ANTI KORUPSI

    Sinema Bentara kali ini terbilang khusus karena memaknai Hari Film Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Maret. Film yang dipilih sebagaian besar tertaut pada memoar atau kisah seseorang yang tumbuh menjadi sutradara, termasuk juga film-film yang merupakan buah cipta dari para pelopor sinema di Indonesia, antara lain Asrul Sani melalui film Pagar Kawat Berduri (1961, 123 menit), dan Teguh Karya lewat Di Balik Kelambu (1983, 94 menit). Serta tidak ketinggalan Nuovo Cinema Paradiso (Italia, 1988, 124 menit) yang merupakan refleksi perjalanan hidup sang sutradaranya sendiri, Giuseppe Tornatore.

  • KARTUN BER(B)ISIK

    Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menyelenggarakan pameran kartun. Jauh sebelumnya, yaitu Benny & Mice Expo (20-29 Mei 2010) dan 9th Kyoto International Cartoon Exhibition (9 – 15 Oktober 2010). Bahkan pada tahun 2017 secara khusus menghadirkan pameran tunggal kartunis legendaris GM Sudarta yang sohor dengan sosok Oom Pasikom (….).