MULTIMEDIA & VIDEO ART

Lokakarya

21 Mar 2019 ~ 23 Mar 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 08.00 WITA

Kemajuan dunia audio-visual memang tak selamanya menjadi rahmat. Melekat dalam media-media modern itu sebentuk kecanggihan yang penuh godaan. Melalui mata kamera dan seperangkat alat studionya, peristiwa nyata bisa hadir lebih estetis dan jauh dari realita yang sebenarnya. Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, namun sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton– terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawai–dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

Menyadari kecenderungan penggunaan media audio visual/multimedia berpotensi disalahgunakan, terutama oleh generasi milenial, Subdit Seni Media, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kali ini bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali mengetengahkan sebuah lokakarya seni media dan video art. Bukan semata menguraikan pemanfaatan teknologi IT terkini, melainkan juga mengedepankan pendalaman pengalaman sewaktu proses cipta serta bagaimana dalam video yang pendek, berdurasi 1 hingga 5 menit, kuasa menampilkan keutuhan visual dan menyampaikan pesan yang esensial sebagaimana diharapkan.

Patut menjadi catatan, media-media modern, sengaja atau tidak, meringkas fakta menjadi sekuen-sekuen rekaan yang tipis batasnya dengan fiksi. Kemudian yang mengemuka adalah dunia yang serba hitam-putih, serba didramatisir menjadi si pecundang atau si pemenang, sarat suguhan melodramatik. Tak ayal lagi, tanpa kontrol publik yang berarti, media-media tersebut seringkali terbawa hanyut ke dalam pusaran realitas virtual ciptaannya sendiri, entah karena pertimbangan rating atau perolehan iklan, akhirnya tergelincir menjadi media partisan yang tak jelas juntrungannya.

Lokakarya seni media ini menjadi penting, terlebih lagi masyarakat kita sedang dalam tahapan transisi menuju demokrasi yang lebih sehat dan dewasa. Patutlah disadari bahwa media-media modern audio-visual, terlebih televisi, media online, cenderung lebih menyuguhkan realitas imajiner, dunia rekaan yang seakan-akan lebih nyata dari kenyataan yang sebenarnya. Tak heran, bila citraan-citraan semu ini ‘mencekam’ sebagian masyarakat dengan aneka peristiwa rekayasa yang manipulatif atau ‘hoax’, dipenuhi sosok-sosok ‘fiktif’ yang tiba-tiba menjadi figur-figur publik, serta hal-hal sebaliknya–di mana tokoh dan pelaku sesungguhnya malah terpinggirkan, tak memperoleh pemberitaan yang adil dan semestinya.

Lokakarya ini juga diniatkan sebagai upaya memperkenalkan ragam video art,kreativitas, dan kerja seni, berikut penggalian wacana dalam konteks yang lebih luas, internasional, guna menemukan perspektif baru bagi generasi mudakini di tengah penggunaan video dan teknologi canggih semata hanya untuk memuaskan gaya hidup dan hal -hal yang cenderung tidak kreatif. Tampil sebagai narasumber yakni Bandu Darmawan (seniman visual dan video art) dan Dr. I Wayan Kun Adnyana (Kurator, Dosen FSRD ISI Denpasar). 

Lokakarya video art kali ini akan mengetengahkan pembekalan teori, diskusi, praktik pengambilan gambar di sekitar lokasi, hingga penyuntingan video yang diakhiri evaluasi & video screening hasil peserta workshop.  Pada acara penutupan, video art karya peserta diputar secara khusus dan diselenggarakan secara terbuka untuk umum, dimaknai pula dengan pertunjukan kolaborasi seni, sastra, teater, dan multimedia oleh sanggar/ komunitas setempat, boleh dikata merupakan pra-acara menuju Festival Video Art 2019/2020 di Bentara Budaya Bali.

Bandu Darmawan, kelahiran 7 Mei 1989, adalah seniman media yang lulus dari studi intermedia, Institut Teknologi Bandung (2012). Ia telah mengerjakan berbagai proyek multimedia dan motion graphic, serta terlibat dalam banyak pameran. Antara lain: "In Harmonia Parodisio", Dago Tea House, Bandung (2010), "Kelelawar Malam", Galeri Kita, Bandung (2011), "Those Good Old Days", Galeri Kita, Bandung (2012),  “Indonesia Contemporary Fiber Art #1: Mapping“, Art:1 New Museum, Jakarta (2012),“Pecundang Malam Minggu“, Platform, Bandung(2014), “Cryptobiosys“, Japan Media Arts Festival, Selasar Sunaryo, Bandung(2015), “Bandu Darmawan The Occult Detective“ , Galeri Gerilya, Bandung (2015), Indonesian Pavilion at London Design Biennale, Somerset House, London (2016),  “Mild Encounter“,Boston Gallery, Manila(2016), Pekan Seni Media 2017,Bandar Seni Raja Ali Haji,Pekanbaru (2017), Artjog “Enlightenment“,Jogja National Museum,Yogyakarta (2018),  ArtBali “Beyond The Myth“,Nusa Dua, Bali (2018), Instrumenta “Sandbox“,Galeri Nasional (2018) dan lain-lain. 

Dr. Wayan Kun Adnyana, pengajar FSRD ISI Denpasar. Selain intensif mengikuti pameran seni rupa di berbagai kota, Kun juga menulis kritik seni rupa dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, majalah Visual Arts, dll. Buku-bukunya antara lain: “Nalar Rupa Perupa“(Buku Arti, Denpasar, 2007), Bersama DR. M. Dwi Marianto menulis buku Gigih Wiyono; Diva Sri Migrasi, Galeri 678, Jakarta, 2007. Bersama Dr Jean Couteau, dan Agus Dermawan T menulis buku Pita Prada (Biennale Seni Lukis Bali Tradisional), Bali Bangkit, Jakarta, 2009. Turut merintis Bali Biennale 2005, sebagai committee dan juga kurator Pra-Bali Biennale-Bali 2005. Telah mengkurasi berbagai pameran seni rupa untuk: Tony Raka Art Gallery Ubud, Pure Art Space Jakarta, Ganesha Gallery Four Seasons Resort Jimbaran, Gaya Fusion Art Space Ubud, Danes Art Veranda Denpasar, Tanah Tho Art Gallery Ubud, Syang Art Space Magelang, Kendra Art Space Seminyak, Mondecor Jakarta, dan lain-lain. Penghargaan: finalis UOB Art Awards 2011, Finalis Jakarta Art Awards (2010), Nominasi Philip Morris Indonesian Art Awards (1999), Kamasra Price Seni Lukis Terbaik (1998), dll.

agenda acara bulan ini
  • Orkes Keroncong Mekar Arum

    Bermula dari kegemaran nongkrong bersama di wedangan, atau warga solo menyebutnya HIK (Hidangan Istimewa Kampung), sekumpulan anak muda ini akhirnya membentuk orkes Keroncong Mekar Arum.
    Di sebuah kampung daerah Mutihan acap kali terdengar lantunan musik sederhana yang terdiri dari gitar dan cuk, seiring berjalannya waktu kegemaran yang intens tersebut menimbulkan inisiatif berpikir, bagaimana caranya agar bisa membentuk grup musik yang lebih berkualitas dan tidak hanya gadon saja.