Mitos dari Lebak : Sastra dalam Kelindan Politik dan Sejarah

Diskusi Buku

Kamis, 07 November 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.00 WIB

Pembicara:
JJ Rizal (Sejarawan)
Kuncoro Hadi (Dosen Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta)
Moderator:
FX Domini Hera (Mahasiswa Pascasarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada)

Mitos dari Lebak merupakan sebuah telaah kritis tentang pandangan hidup Douwes Dekker, asisten residen di Lebak pada abad ke-19, dalam kasus yang terkenal karena tuduhannya terhadap bupati Lebak, dan permintaan berhenti sebagai sisten residen yang diajukannya kepada Gubernur Jenderal Belanda. Tanpa berbasa-basi dan dengan diksi-diksi tajam yang “menusuk“, Rob Nieuwenhuys berhasil menelisik lebih jauh tentang peristiwa sejarah yang terjadi di Lebak, Banten, hampir dua abad lalu. Melalui studi sejarah, ia menguak peran Douwes Dekker alias Multatuli alias Max Havelaar sewaktu menjadi asisten residen di Lebak yang kemudian menjadi latar masalah dalam mahakaryanya, Max Havelaar. Buku hasil terjemahan Sitor Situmorang ini dapat juga dipandang sebagai kritik atas romantisme sejarah terhadap baik Dekker sendiri maupun karyanya Max Havelaar itu. 

Diskusi buku yang bekerjasama dengan Yayasan Sitor Situmorang dan Komunitas Bambu ini akan membahas sisik melik seputar Mitos dari Lebak. Bersama pembicara JJ Rizal (Sejarawan) dan Kuncoro Hadi (Dosen Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta), diskusi juga menelaah bagaimana karya-karya sastra seperti Max Havelaar berkelindan dalam situasi politik dan sejarah di Indonesia. 

agenda acara bulan ini
  • JAZZ MBEN SENEN

    Pagelaran musik mingguan : 4, 11, 18 dan 25 November 2019

  • KUNOKINI

    Kunokini menampilkan karya fotografer Antara yang bertugas di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tema “Tradisi dan Kebudayaan Jawa Tengah dan Yogyakarta“ dipilih untuk merangkai foto-foto yang dipamerkan. Sebelumnya, acara ini diselenggarakan di Makassar, Surabaya, dan Semarang di mana kegiatan ini merupakan pameran rutin yang digelar oleh Galeri Foto Antara.

  • Dragonfly : Pengetahuan dan Citra karya Wahyu (IDS) Sigit

    Stefanus Wahyu Sigit Rahadi merespons keberadaan serta keanekaragaman capung ke dalam sepilihan karya-karya fotografinya. Ia menyusuri berbagai wilayah demi mengabadikan capung, mulai dari tepian sawah hingga kawasan-kawasan hutan. Pria kelahiran Temanggung, 3 Agustus 1969 ini dulunya alumnus fakultas sastra Universitas Sanata Dharma, sempat bekerja guru sosiologi di Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) St Albertus Malang, Jawa Timur sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan focus ‘berburu’ capung. Pada 15 September 2010, ia mendirikan Indonesia Dragonfly Society (IDS), sebuah komunitas pecinta capung Indonesia.
    Dalam pameran ini, kita akan menyaksikan foto-foto terpilih karya Wahyu Sigit termasuk kreasi instalasi capung. Seluruhnya dihadirkan untuk memberikan pengetahuan serta membangkitkan kesadaran publik atas betapa kayanya spesies capung di Indonesia.