MENGALIR JAUH

Keroncong Bale Orkes Keroncong Swastika

Rabu, 18 September 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB


September tahun 2019, Keroncong Bale akan menghadirkan Orkes Keroncong (OK) Swastika. OK Swastika yang beralamatkan di Jln. Kana no. 2, Mangkubumen RT 6 RW II Surakarta ini terbentuk sejak tahun 1994. Hingga sampai sekarang setiap hari rabu malam teman- teman Swastika memiliki agenda rutin kumpul dan latihan bersama.

OK Swastika yang pernah beberapakali pentas di dalam maupun luar negeri ini memiliki semboyan, “Sinubyung winasis ambangun seni tumuju ing kaendahan adi“ yang artinya berkontribusi serta didukung oleh para pemusik handal untuk menciptakan seni yang tinggi. O.K Swastika sampai sekarang masih setia menekuni jalur tradisi pada musik keroncong, serta melakukan inovasi dalam tataran wacana serta praktik ekspresi bermusiknya.

Kali ini lagu-lagu yang akan dinyanyikan pada Keroncong Bale bertemakan alam, khususnya air yang terwadahi pada sungai, telaga/waduk, lautan dan air terjun. Judul lagu tersebut meliputi Bengawan Solo, Telaga Sarangan, di Tepinya Sungai Serayu, Sungai Barito, Tirtonadi, Ombak Samudera, Air Laut, Air Terjun Tawangmangu, Telaga biru dan Waduk Gajah Mungkur.

Lagu-lagu yang telah dipilih ini menggambarkan betapa besarnya peran air menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lainya di Bumi. Alam raya sangat bergantung atas ketersediaan air, sumber daya air yang Allah karuniakan di alam raya ini jumlahnya terbatas. menjadikan kita harus belajar, menjaga serta merawatnya. Karena Keterbatasan ini yang diharapkan manusia pandai untuk mengelolah dan mengaturnya agar bisa digunakan dengan sebaik-baiknya bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya.

agenda acara bulan ini
  • AIR MATA AIR BENGAWAN

    Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.

  • PANGGUNG MAESTRO FILM TAN TJENG BOK

    Kehidupan Tan Tjeng Bok yang menarik ini meninggalkan cukup banyak artefak yang unik dan menarik. Berbekal artefak-artefak ini lah kemudian kisah kehidupan Tan Tjeng Bok dibukukan dalam bentuk Biografi oleh Fandi Hutari dan Deddy Otara.