MENCARI BALI YANG BERUBAH

Pustaka Bentara

Sabtu, 12 Januari 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Pulau Bali, sedini era kolonial dan bahkan jauh sebelum itu, telah menarik banyak para kelana budaya, antropolog, sosiolog, dan juga para seniman. Selain membuat kajian secara mendalam, tak sedikit terinspirasi untuk menghasilkan karya-karya di bidang seni dan pemikiran yang cemerlang, serta jejaknya masih terlacak hingga kini, bahkan mempengaruhi lahirnya karya-karya era kontemporer yang lintas zaman.  Pustaka Bentara kali ini akan membahas buku terkini karya antropolog I Ngurah Suryawan bertajuk “Mencari Bali yang Berubah“ (Penerbit Basa Basi, 2018). 

Buku ini terdiri dari delapan bab yang bagian awal atau versi awalnya telah diterbitkan dalam buku atau artikel jurnal. Keseluruhan bab dalam buku ini dibingkai oleh sebuah tema besar tentang politik kebudayaan Bali. Cikal bakalnya adalah sebuah imajinasi tentang Bali, yang menurut Suryawan, dibangun berdasarkan konstruksi (bentukan) yang sangat kolonialistik. 

Dua pembahas pada Pustaka Bentara kali ini yakni sastrawan Oka Rusmini dan sastrawan sekaligus akademisi Kadek Sonia Piscayanti, mereka akan membincangkan apa yang disuratkan melalui kajian Suryawan perihal dinamika sosial kultural Bali modern yang bermuara pada dua gugusan besar. Pertama adalah golongan yang selalu bimbang pada kelangsungan Bali, yang meyakni Bali akan redup, bahkan pada akhirnya tinggal sejarah. Gugus kedua adalah mereka yang selalu yakin Bali akan tetap Bali. Mereka optimis perubahan-perubahan yang terjadi di Bali cuma permukaan saja, tidak menyentuh inti. Bali diyakini memiliki benteng sosial kultural yang tangguh, ketaatan warganya pada tradisi memperteguh keyakinan itu. Nada optimis ini sejalan dengan keyakinan bahwa masyarakat Bali akan sanggup beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. 

Dua gugusan atau dua sisi pandangan terhadap Bali modern ini akan didialogkan secara mendalam, bukan semata merunut kajian-kajian tentang Bali lampau, melainkan juga kontekstual dengan kenyataan kini serta refleksinya terhadap masa depan. 

I Ngurah Suryawan, dilahirkan di Denpasar Bali 25 Februari 1979. Pendidikan formal ditempuhnya di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali (2006) dengan skripsi berjudul "Bertutur Di Balik Senyap: Studi Antropologi Kekerasan Pembantaian Massal 1965-1966 di Kabupaten Jembrana, Bali.“ Pendidikan Magister diselesaikannya di Program Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana (2009) dengan tesis berjudul “Bara di Tepi Kuasa: Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern di Kabupaten Buleleng Bali.“ Pendidikan Doktor diselesaikan di Program Ilmu-ilmu Humaniora (Antropologi) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (2015) dan menulis disertasi yang berjudul “Siasat Elit Mencuri Kuasa Negara di Papua Barat“. Program penelitian pascadoktoral dimulainya dari tahun 2016-2017 tentang ekologi budaya orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua dalam skema ELDP (Endangered Languages Documentation Programme) dan Australian National University (ANU). Menjadi peneliti tamu di KITLV (Koninklijk Instituut voor taal-, Land- en Volkenkunde), Universiteit Leiden 2017 - 2018 untuk menulis penelitiannya tentang terbentuknya elit kelas menengah di pedalaman Papua. Bukunya tentang Papua diantaranya adalah: Jiwa yang Patah (2014), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perpecahan dan Perubahan Budaya (2017), Suara-Suara yang Dicampakkan: Melawan Budaya Bisu (2017), Ruang Hidup yang Redup: Gegar Ekologi Orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua (2018), Kitong Pu Mimpi: Antropologisasi dan Transformasi Rakyat Papua (2018), Mencari Bali yang Berubah ( 2018).   

Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Tinggal di Denpasar, Bali. Menulis puisi, novel dan cerita pendek. Banyak memperoleh penghargaan, antara lain : Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2003, 2012), Anugerah Sastra Tantular , Balai Bahasa Denpasar (2012). South East Asian (SEA) Write Award , Bangkok Thailand (2012) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2013/2014). Sering diundang dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional, antara lain Festival Sastra Winter­nachten di Den Haag dan Amster­dam, Belanda dan menjadi penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman (2003) dan Universitas Napoli, Italia (2015); Singapore Writers Festival di Singapura (2011); OZ Asia Festival di Adelaide, Australia (2013) dan Fankfurt Book Fair , Frankfurt Jerman (2015). Bukunya yang telah terbit : Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Akar Pule (2012), Erdentanz (novel Tarian Bumi edisi Jerman, 2007, 2015), Jordens Dans (novel Tarian Bumi edisi Swedia, 2011), Earth Dance (novel Tarian Bumi edisi Inggris, 2011) La danza della terra (Tarian Bumi edisi Italia, 2015), Tarian Bumi edisi Korea (2015), Pandora (2008), Tempurung (2010), dan Saiban (2014).

Kadek Sonia Piscayanti lahir di Singaraja, 4 Maret 1984, merupakan Dosen Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Ia mengajar bidang sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Ia pernah diundang sebagai pembicara pada Ubud Writers and Readers Festival (2012-2013), Creative Writing Progra, Griffith University, Gold Coast, Australia (2011-2012), serta pada ajang OzAsia Festival, Adelaide Australia (2013). Ia menulis sekaligus menyutradarai naskah “Layonsari“ di Belanda dan Prancis pada acara Culture Grant dari Direktorat Pendidikan Tinggi Indonesia (2014). Ia juga telah menerbitkan beberapa buku diantaranya, “Karena Saya Ingin Berlari Saya Ingin Berlari“ (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2007), Buku Sastra “Literature is Fun“ (Pustaka Ekspresi, 2012), “The Story of A Tree“ (Mahima Institute Indonesia, 2014), The Art of Drama, The Art of Life (Graha Ilmu, 2014), A Woman Without A Name“ (Mahima Institute Indonesia, 2015).


agenda acara bulan ini
  • MULTIMEDIA & VIDEO ART

    Kemajuan dunia audio-visual memang tak selamanya menjadi rahmat. Melekat dalam media-media modern itu sebentuk kecanggihan yang penuh godaan. Melalui mata kamera dan seperangkat alat studionya, peristiwa nyata bisa hadir lebih estetis dan jauh dari realita yang sebenarnya. Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, namun sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton– terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawai–dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

  • MUNCULNYA IDENTITAS BALI DI ERA KOLONIAL

    Institut Français d’IndonĂ©sie (IFI) dan Alliance française Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali menyelenggarakan seminar atau timbang pandang seputar munculnya identitas Bali di era kolonial. Sebagai narasumber yakni Michel Picard, seorang peneliti dan anggota pendiri Pusat Studi Asia yang berpusat di Paris, Prancis.

  • KISAH SUTRADARA DAN FILM ANTI KORUPSI

    Sinema Bentara kali ini terbilang khusus karena memaknai Hari Film Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Maret. Film yang dipilih sebagaian besar tertaut pada memoar atau kisah seseorang yang tumbuh menjadi sutradara, termasuk juga film-film yang merupakan buah cipta dari para pelopor sinema di Indonesia, antara lain Asrul Sani melalui film Pagar Kawat Berduri (1961, 123 menit), dan Teguh Karya lewat Di Balik Kelambu (1983, 94 menit). Serta tidak ketinggalan Nuovo Cinema Paradiso (Italia, 1988, 124 menit) yang merupakan refleksi perjalanan hidup sang sutradaranya sendiri, Giuseppe Tornatore.

  • KARTUN BER(B)ISIK

    Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menyelenggarakan pameran kartun. Jauh sebelumnya, yaitu Benny & Mice Expo (20-29 Mei 2010) dan 9th Kyoto International Cartoon Exhibition (9 – 15 Oktober 2010). Bahkan pada tahun 2017 secara khusus menghadirkan pameran tunggal kartunis legendaris GM Sudarta yang sohor dengan sosok Oom Pasikom (….).