MEMEDI SAWAH

Pameran Seni Rupa Hari Budiono

Kamis, 14 Maret 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Pembukaan Pameran:
Kamis, 14 Maret 2019  | Pukul 19.30 WIB
Dibuka oleh:
Purwohadi Sanjoto 
(Owner Orion Solo)
Dimeriahkan :
Paguyuban Lesung Bonoroto, Desa Plesungan
Pameran Berlangsung :
15 – 20 Maret 2019 | Pukul 09.00 – 21.00 WIB


Memedi sawah bukan lagi sekadar replika manusia untuk menakut-takuti burung perusak/pemangsa biji padi petani. Ia kini jadi pemicu bencana sosial. Jutaan memedi sawah menjelma jadi genderuwo�hantu yang konon serupa manusia tinggi besar dan berbulu tebal, menakut-takuti, meneror siapa saja. Keberadaannya menghantui hidup dan kehidupan bernegara kita sepanjang waktu. Memedi sawah mewujud makhluk yang siap mati dengan cara menyulut bom di tempat ibadah. Atas nama keyakinan dan kebenaran absolut, memedi sawah secara membabi buta merusak, menghancurkan, menghabisi apa atau siapa saja yang mereka anggap sesat. Memedi sawah ada di antara penonton bola, secara berjamaah mengamuk bila kesebelasannya kalah. Saat jadi pendukung partai dan sewaktu berkampanye, memedi sawah konvoi sambil selalu memainkan gas sekencang-kencangnya.

Memedi sawah mewujud gambar atau kata-kata beraroma kebencian, fitnah, hasutan, dan hoaks, yang ada di media sosial. Memedi sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, tak menghargai, merasa menang/benar sendiri, menjadi manusia intoleran. Tak selayaknya kita menjadi takut oleh teror memedi sawah. Sembari tertawa, simbol kebaikan dan optimisme kita hadapi dan lawan memedi sawah dengan kebersamaan, persatuan. Mari kita kembalikan memedi sawah ke asalnya, sebagai simbol berkah para petani, yang dengan setia menjaga “harta“ petani dari ancaman burung-burung pencuri.

Hari Budiono seniman lulusan sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI“ Yogyakarta pada 1985. Tahun 1978, tergabung dalam komunitas Seni Kepribadian Apa (PIPA) di Yogyakarta. Mengerjakan desain cover buku untuk Penerbit Kanisius, Galang Press, Tjap Petroek, Gramedia, dan Penerbit Kompas. Sesekali membuat ilustrasi cerpen di Kompas edisi Minggu. Pernah menjadi Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Yogyakarta, bidang Seni Budaya. Pada tahun 1982
Saat Jakob Oetama mendirikan Bentara Budaya, lembaga kebudayaan milik Kompas Gramedia di Yogyakarta, bersama Sindhunata, GM Sudarta, JB Kristanto, Hajar Satoto, dan Ardus M. Sawega, menjadi pelaksana angkatan pertama. Redaktur foto Harian Bernas Yogyakarta. Menulis feature dan liputan budaya untuk media Tabloid Citra, majalah Intisari, The Jakarta Post, dan Harian Kompas. Membantu Sindhunata menerbitkan Majalah Basis format baru. Sampai sekarang, sebagai redaktur artistik di majalah kebudayaan dan intelektual yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu. Pameran Tunggal Karya Rupa “Putri Cina“ di Bentara Budaya Jakarta, Orasis Art Gallery Surabaya, dan Darga Gallery Bali.

Aktif mengikuti pameran bersama di dalam dan luar negeri. Berpartisipasi dalam “CHAIRITY 2016: Arts and Design Against Cancer“ di Plaza Indonesia, Jakarta. Sejak 2008, aktif berpartisipasi dalam kegiatan charity komunitas seni rupa Suka Parisuka. Dan saat ini masih aktif sebagai kurator di Bentara Budaya. 

agenda acara bulan ini
  • AIR MATA AIR BENGAWAN

    Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.

  • PANGGUNG MAESTRO FILM TAN TJENG BOK

    Kehidupan Tan Tjeng Bok yang menarik ini meninggalkan cukup banyak artefak yang unik dan menarik. Berbekal artefak-artefak ini lah kemudian kisah kehidupan Tan Tjeng Bok dibukukan dalam bentuk Biografi oleh Fandi Hutari dan Deddy Otara.