MACA PUISINE SINDHU "AIR PUISI SINDHUNATA"

Kamis, 19 Desember 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30 WIB

Sindhunata tidak pernah membayangkan akan menulis puisi, apalagi menerbitkan buku puisi. Ketika masih muda Sindhunata menekuni dunia jurnalistik, menjadi wartawan muda di Majalah Teruna kemudian berlanjut menjadi wartawan Kompas. Dari jurnalistik pula Sindhunata memulai kegiatan menulisnya. Dunia yang ditekuni hingga saat ini. Ketika Kompas memintanya untuk mengisi ruang kosong dengan cerita bersambung, Sindhunata menulis kisah wayang Ramayana yang kemudian kita mengenalnya dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin. Beberapa tahun kemudian cerita bersambung itu diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama.

Tahun 1982 Sindhunata bersama dengan wartawan Kompas lainnya menginiasiasi berdirinya Bentara Budaya di Yogyakarta. Kehadiran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) dengan semangatnya untuk menjadi ruang bagi seni yang terpinggirkan, mulai saat itu BBY menjadi tempat titik pijak berkembangnya seni pinggiran. Orang tidak akan membayangkan payung Juwiring, Wayang Suket, atau Tenun Troso akan dipamerkan serta dikenal banyak orang. Dari BBY mereka yang terpinggirkan memiliki suara untuk tampil, untuk menyatakan pada publik bahwa mereka merupakan kekayaan kita yang terlupakan, dan sudah saatnya untuk menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat luas.

Bukan hanya keseniannya yang ditampilkan, tapi juga seniman – seniman yang berada di luar lingkaran para elite seniman Indonesia juga dihadirkan di BBY dengan karya – karya mereka. Maka tidak mengherankan jika nama – nama seperti Martopangrawit, Gondodarman, Mbah Gepuk, Bu Dewi penari topeng tampil di BBY. Merekalah seniman – seniman yang memiliki ketekunan dan menghabiskan sisa hidupnya untuk kesenian. Dari mereka yang terpinggirkan ini juga Sindhunata menuliskan puisi – puisinya, selain pengalaman – pengalaman hidup yang lainnya tentu saja.

Sindhunata menulis puisi dengan mengalir seperti air yang muncul dari mata air, kemudian dari hulu menuju lembah, melewati hilir dan berakhir di muara. Puisi – puisi Sindhunata tidak berbicara tentang orang – orang besar, tapi berbicara tentang masyarakat kecil, seperti semangatnya bersama BBY, puisi – puisi Sindhunata tidak memiliki kosa kata yang indah, bukan puisi melankolis atau permainan kata – kata yang indah dari bait ke bait. Keindahan puisi – puisi Sindhunata justru terletak pada kisah – kisah yang dia ceritakan pada puisi – puisinya, kisah – kisah kehidupan orang – orang yang tetap berani untuk hidup, berani memilih hidup dengan segala resikonya, puisi yang berbicara pahit getir kehidupan sosial kita tanpa harus nyinyir terhadap situasi yang dihadapi. 

Maka tidak perlu heran seandainya puisi – puisi Sindhunata tidak terlalu popular sebagai karya sastra, karena bukan hal itu Sindhunata kemudian menulis sebuah puisi. Membaca puisi – puisi Sindhunata adalah membaca kehidupan kita sendiri. Puisi Sindhunata seperti feature dalam surat kabar, karena Sindhunata memang memiliki kelebihan dalam menulis feature. Puisi – puisi Sindhunata memberikan kita gambaran hidup manusia yang sesungguhnya. Maka sangat tepat kalau judul puisi Sindhunata selalu memakai kata air, karena seperti itulah puisi – puisi Sindhunata.

agenda acara bulan ini
  • SKETSA - SKETSA KAWASAN MALIOBORO

    Gambar-gambar tangan Hendro Purwoko bukan buah keterampilan semata-mata tetapi juga ekspresi ajakan untuk membaca Malioboro sebagai kawasan kehidupan, kawasan budaya, yang sangat mewarnai keragaman perjalanan sejarah Yogyakarta. Motif sketsa Hendro Purwoko pantas untuk tidak hanya dibedah dari pencapaian wujud visual, melainkan juga dari motif konservasi ingatan dan picuan inspirasi konservasi, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatkan warisan budaya.

  • PEKAN REYOG PONOROGO

    Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Reyog Ponorogo tergolong luar biasa. Sebagai contoh, berangkat dari tradisi bijak dalam menghadapi situasi, tokoh Batoro Katong lebih memilih mundur dari kemapanan hidup daripada menghakimi pemimpin yang salah dalam melangkah. Dalam dirinya seperti tumbuh kesadaran bahwa langkah-langkah yang konfrontatif seperti demo atau perbuatan makar lainnya, hanya akan melahirkan jatuhnya korban dari orang-orang yang tak berdaya. Selanjutnya, dalam rangka menggalang dukungan, leluhur kita yang cerdik tidak memilih menggunakan tangan besi (walau sanggup melakukan itu), tetapi justru memilih seni yang langsung bersentuhan dengan hati nurani.