Lukisan Tradisional Bali & Keramik

Pameran Koleksi Bentara Budaya

19 Sep 2019 ~ 29 Sep 2019 Bentara Budaya Jakarta | 10.00 - 18.00 WIB

Di bulan September, Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran koleksi Bentara Budaya berupa lukisan tradisional Bali dan keramik. Pameran ini sekaligus digelar untuk memeriahkan hari ulang tahun Bentara Budaya. Sejumlah 63 lukisan dan lebih dari 50 buah keramik-keramik antik akan ditampilkan dalam pameran ini. Adapun pameran berlangsung pada 19 – 29 September 2019 pukul 10.00 – 18.00 di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan No. 17 Jakarta.

Bentara Budaya, sebuah lembaga kebudayaan yang bernaung di bawah Kompas Gramedia, didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 26 September 1982. Hingga 37 tahun kehadirannya, Bentara Budaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat pameran dan pertunjukan seni tetapi juga memiliki koleksi karya seni rupa baik seni lukis, patung, instalasi, dan lain-lain. Boleh dikata, selama ini Bentara Budaya telah memberi ruang bagi seniman-seniman tradisi dan kontemporer, baik para maestro maupun yang tengah meneguhkan eksistensinya.

Lukisan tradisional Bali dan keramik yang dipamerkan kali ini merupakan koleksi kumpulan Bapak PK. Ojong, pendiri Kompas Gramedia. Ditemani kartunis GM. Sudarta, pada tahun 1971 Bapak PK Ojong pergi ke Bali untuk mendatangi satu-per-satu rumah pelukis-pelukis tradisional di sekitar Ubud dan Batuan. Ketika mengunjungi galeri milik Wayan Barwa di sekitar Banjar Mas, mereka bertemu dengan Ketut Nama. Pemuda inilah yang kemudian mengantarkan Bapak PK Ojong dan Bapak GM Sudarta ke banjar-banjar sekitar Tebesaya, Padang Tegal, Pengosekan, Penestanan, dan Batuan untuk bertemu dengan pelukis-pelukis tradisional Bali.

Sejumlah nama besar pelukis-pelukis tradisional Bali seperti I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made, Wayan Turun, Anak Agung Gede Sobrat, Anak Agung Gede Maregrek, I Gusti Ketut Kobot, dan Made Widja akan ditampilkan karya-karyanya pada pameran kali ini. Karya-karya mereka pertama kali dipamerkan pada ulang tahun Harian Kompas ke 10 tahun 1975. 

“Incomparable, tak tertandingi. Begitulah kata paling tepat untuk menyebut koleksi lukisan Bali yang dikumpulkan oleh Bapak PK. Ojong. Kini karya-karya mereka menjadi sejarah panjang yang tak ternilai dan menjadi acuan untuk penelitian-penelitian tentang perkembangan seni lukis di Bali.“ ungkap Ipong Purnama Sidhi selaku kurator dari Bentara Budaya Jakarta.

Tidak hanya mengumpulkan lukisan saja, sejak tahun 1980an, Bapak PK Ojong juga merintis koleksi keramik-keramik antik yang memiliki nilai sejarah; mulai dari celengan babi dari Trowulan hingga keramik-keramik dinasti Sung, Yuan, Tang, Ming, dan Ching. Bahkan keramik-keramik lokal dari daerah Singkawang, Cirebon, Bali, dan Plered juga tidak luput dari perhatian beliau.

Setiap daerah dan dinasti memiliki pengaruh baik dalam gaya maupun proses pembuatan dari keramik-keramik tersebut. Contohnya, tempayan dan guci dari masa Dinasti Tang dan Sung yang terbuat dari tanah liat stoneware memiliki gaya yang sederhana, sementara itu Dinasti Ming terkenal akan gerabah yang penuh dengan dekorasi berupa cap tangan, wajah, sulur flora dan fauna yang disempurnakan dengan teknik glasir coklat maupun hijau.

“Bentara Budaya ingin berbagi pengalaman sejarah dan estetik lewat keragaman bentuk benda-benda tanah liat dengan segala keunikannya. Tidak hanya keramik yang bernilai historis, melainkan juga keramik kontemporer abad kini dengan kekayaan bentuk yang unik.“ Kata Ika W. Burhan selaku Ketua Pengelola Bentara Budaya Jakarta.

Mengiringi kegiatan ini, Bentara Budaya juga menggelar pameran Galeri Sisi yang menampilkan berbagai koleksi wayang, seperti wayang kulit, wayang golek hingga wayang rumput. Ini merupakan sebagian kecil dari koleksi wayang Bentara Budaya dan dalam pameran ini kita dapat menyaksikan karya-karya wayang yang mencirikan gaya estetiknya tersendiri.