LOMBA MUSIKALISASI PUISI SMA/SMK SE-BALI

Akademika Bentara

Minggu, 22 Desember 2019 Bentara Budaya Bali | 08.00 WITA

Memaknai peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, Badan Eksekutif Mahasiswa IKBM Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menyelenggarakan Lomba Musikalisasi Puisi se-Bali. Lomba yang diselenggarakan di Bentara Budaya Bali ini terbuka bagi bagi siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali. 

Adapun lomba ini diniatkan untuk membuka ruang kreativitas dan apresiasi seluasnya bagi generasi muda melalui ragam kesenian kolaboratif yang lintas bidang. Musikalisasi puisi bukan saja mengedepankan unsur-unsur susastra dalam puisi, namun mempertautkan pula seni musik dan pemanggungan atau seni panggung.

Sebagai juri yakni Wendra Wijaya (Pegiat Musikalisasi Puisi), Wayan Sumahardika (Penulis, Sutradara Teater), dan Heri Windi Anggara (Pegiat Musikalisasi Puisi). 

Sebelumnya pada tahun 2018 Bentara Budaya Bali juga bekerja sama dengan BEM UNHI Denpasar guna penyelenggaraan kegiatan serupa. Selain itu pada tahun 2011, Bentara Budaya Bali bekerja sama dengan Udayana Science Club (USC) menyelenggarakan Festival Puisi Bentara Budaya, mengetengahkan Lomba Cipta Puisi dan Baca Puisi se-Indonesia serta Lomba Dramatisasi Puisi se-Bali. Adapun Lomba Cipta Puisi ini diikuti oleh 700 penyair yang berasal lebih dari 130 kota se-Indonesia dengan jumlah karya mencapai 2.251 puisi.

Wendra Wijaya, berasal dari Singaraja, lahir di Denpasar dan membentuk karakter di Negara, Jembrana, Bali. Sejak aktif dalam komunitas seni di Negara-Jembrana, mulai mengasah kemampuan menulis, menghasilkan beberapa karya puisi, cerpen, dan catatan lepas. Sempat pula menjadi wartawan di sebuah tabloid mingguan dan majalah bulanan terbitan Jembrana, serta koran harian di Denpasar. Selain menulis, juga aktif menekuni musikalisasi puisi. Beberapa tahun belakangan, lebih memilih berada di belakang layar pertunjukan seni, menggarap dan melakukan pembinaan musikalisasi puisi di Bali. Saat ini, tinggal dan bekerja di sebuah event organizer di Denpasar.

I Wayan Sumahardika, magister Program Studi Pendidikan Bahasa Undiksha, Singaraja. Menjadi sutradara, penulis naskah sekaligus founder Teater Kalangan. Naskahnya sempat meraih juara I Lomba Naskah Monolog se-Indonesia dalam Pestarama UIN Jakarta, Juara I Lomba Penulisan Naskah Drama Tradisional Naskah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali 2018, dan Juara 1 Lomba Penulisan Naskah Drama Modern Dinas Kebudayaan Provinsi Bali 2017. 

Beberapa karya pertunjukannya dipentaskan pada acara Mimbar Teater Indonesia V, Bali Emerging Writers Festival, Pesta Kesenian Bali, Bali Mandara Nawanatya, Festival Monolog 100 Putu Wijaya, Parade Teater Muda Bali Utara, Festival Dusun Jembrana dan Festival Bulan Bahasa Bali Provinsi Bali.
Tulisan berupa puisi, cerpen, esai, dan ulasan teater pernah dimuat di sejumlah media seperti Indopos, Media Indonesia, Bali Post, Bali Tribun, Tribune Bali, Tatkala.co, Bale Bengong serta terhimpun dalam beberapa buku antologi.

Heri Windi Anggara, Musisi, Song Writer, dan Pegiat Musikalisasi Puisi. Lahir di Singaraja, 16 Juli 1992. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Udayana. Bersama Kelompok Sekali Pentas yang didirikannya, kerap kali menjuarai lomba musikalisasi puisi dari tingkat daerah sampai nasional. Ia juga biasa menggelar workshop ke daerah-daerah di Bali. Konser musikalisasi puisi pertamanya bertajuk “Kidung Jiwa“ 2011 dipentaskan di Bentara Budaya Bali, lalu kembali menggelar konser pada tahun 2017 “Siapa Berani Menemani Mati“ di Ksirarnawa, Art Centre. Pada tahun 2019, konser musikalisasi puisinya "Di Dalam Dada, Jalan Subak Nyepi" digelar di Kalangan Ayodya Art Centre.

Selain bermusikalisasi puisi, Heri kerap diminta berkolaborasi mengisi musik dalam pentas kelompok teater dan sejumlah produksi film. Diantaranya adalah pentas teater 'Kebelet' kolaborasi Teater Kalangan dan Komunitas Sekali Pentas 2017,  pentas teater 'Joged Adar, Kekasihmu dan Kesibukan Melupakannya' oleh Teater Kalangan dalam Pesta Kesenian Bali 2019, pentas teater boneka 'Pangeran Empas' oleh KacakKicak Puppet Theatre dalam hari Anak Nasional 2018, drama musikal Capung Hantu dalam Bali Mandara Nawanatya 2018, dan drama musikal Sukreni Wang Sistri Listuayu dalam Festival Bahasa Bali 2019 oleh Capung Hantu Project. Kini aktif juga menulis lagu sembari solo akustik dengan nama panggung "Karna". Karya-karyanya dapat dinikmati via youtube di chanel music-is-me.

agenda acara bulan ini
  • PUSTAKA BENTARA : SEGALANYA TERHUBUNG

    Segala di dunia ini, mulai dari yang kecil nan halus, yang di dalam diri manusia (mikrokosmos/jagat alit), hingga segala yang terlihat, bisa disentuh, termasuk gugusan benda-benda angkasa (makrokosmos/jagat agung) sesungguhnya saling terhubung satu sama lain. Ilmu fisika lewat nama-nama besar seperti Max Planck, John Wheeler dan David Bohm hingga ahli biologi Vladimir Poponin & Peter Gariaev mengukuhkan kesimpulan itu melalui eksperimen-eksperimen mereka.
    Dalam bukunya The Divine Matrix, Gregg Braden menyebutkan, keterhubungan itu terjadi karena adanya medan energi tunggal yang universal, yang di zaman Yunani kuno disebut Ether. Pada tahun 1600-an, Bapak Sains Modern Sir Isaac Newton juga menggunakan kata Ether untuk mendeskripsikan “substansi tak terlihat yang merembesi dan menyelimuti seluruh alam semesta, yang menyebabkan gravitasi dan juga sensasi di dalam tubuh“.