LENTERA BATUKARU

Pustaka Bentara

Rabu, 29 Mei 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Belakangan, banyak penerbit besar ataupun indie yang antusias menghadirkan buku-buku biografi, entah tokoh politik, negarawan, seniman, budayawan dan bahkan selebriti. Sebut saja kisah BJ. Habibie dan istri terkasih Ainun, riwayat Gus Dur, pelukis Jeihan, penyanyi Krisdayanti, olahragawan Rudi Hartono hingga buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 karya Peter Carey. 

Tapi sungguhkah memoar-memoar tersebut bisa sepenuhnya dianggap sebagai dokumen sejarah? Tidakkah buku jenis ini terkadang dipenuhi kisah-kisah pribadi yang sarat pandangan-pandangan subyektif dari tokoh bersangkutan? Bukankah kajian sejarah selalu berlandaskan pada data atau fakta yang obyektif? Di sisi lain, ada persepsi dalam masyarakat, bahwa hanya ‘tokoh’ dan bukan orang biasalah yang layak diabadikan dalam buku-buku biografi, benarkah anggapan ini?

Seturut pertanyaan di atas, Pustaka Bentara kali ini akan membincangkan buku karya Putu Setia “Lentera Batukaru“ (Penerbit KPG, 2019), sebuah novel memoar yang bertutur tentang keluarga-keluarga sederhana di lereng Gunung Batukaru, Bali. Sebagaimana situasi zaman itu, tahun 1960-an, keluarga miskin tanpa pendidikan memadai ini terbawa pusaran arus sejarah yang kemudian disebut tragedi G-30-S/PKI, berlanjut hingga pemilu pertama Orde Baru, 1971. Kemelut itu, yang sering tidak jelas siapa kawan mana lawan, sering diwarnai sederetan kisah kemanusiaan yang pilu. 

Putu Setia, yang kini menyandang nama pendeta Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, menuturkan cerita pedih ini dengan memilih pendekatan jurnalistik. Dia mengedepankan reportase dan teknik jurnalistik yang berimbang dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sastra, dengan demikian tragedi dituturkan tanpa kemarahan, bahkan tanpa nada benci. Pesan yang dikedepankan adalah bagaimana seseorang pasrah menerima takdir namun tetap beritikad memperbaiki diri lewat pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia mengajak untuk memilih jalan kedamaian atau jalan spiritual, dengan menyalakan lentera di lereng Batukaru yang indah dan sejuk itu.

Pergulatan panjang Putu Setia itu terkisahkan juga, sedini perjuangannya bersekolah, upaya meraih masa depan melalui profesi jurnalistiknya (Bali Post, Tempo, dan sejumlah media lain), hingga berketetapan hati mendirikan pasraman Manikgeni di Pujungan, Tabanan dan ditasbihkan sebagai Pendeta Nabe pada 3 Juli 2012. 

Pustaka Bentara kali ini, kerja sama dengan Penerbit KPG, menjadi lebih menarik karena narasumbernya adalah Widminarko (77), pelaku sejarah pada era 1960-an, sekaligus juga seorang jurnalis yang meraih puncak karir sebagai pimpinan redaksi di Bali Post dan Ketua PWI Bali selama dua periode. Turut bertimbang pandang sebagai narasumber budayawan Wayan Westa (54) yang juga menekuni dunia jurnalistik. 

Widminarko adalah jurnalis senior Bali, lahir di Banyuwangi, 8 April 1942 dan menetap di Bali sedari tahun 1962. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Mengawali karir sebagai wartawan di Bali Post sejak tahun 1965 dan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi/Wakil Penanggung Jawab Bali Post sedari 1 Mei 1968 hingga 31 Desember 2000. Ia juga pernah menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Tokoh serta menjabat  Ketua PWI Bali (periode 1983-1991). Ia juga telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain : Widminarko Mandiri Belajar Sendiri (2013), Bali Dalam Ledakan Penduduk (2012),  Era Aji Mumpung (2012), Tantangan Profesi Wartawan Berita Kisah (2001) dll.

Wayan Westa, lahir di Klungkung, 27 Januari 1965. Menekuni dunia jurnalistik, tulisannya tersebar di sejumlah media; Mingguan Karya Bhakti, Harian Nusa, Bali Post, Kompas, dan Radar Bali. Tahun 2000-2009 bekerja sebagai Redaktur Majalah Gumi Bali SARAD. Tahun 2010-2012 dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah SABDA. Menyunting sejumlah buku diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, Wulan Sedhuwuring Geni (Antologi Cerpen dan Puisi Daerah), Seribu Kunang-Kunang di Manhatan (Terjemahan dalam 13 Bahasa Daerah), dan Sunari (Novel Basa Bali karya Ketut Rida). Rabindranath Tagore, Puisi Sepanjang Zaman, Penerbit Yayasan Darma Sastra, 2002. Menulis buku Tutur Bali, diterbitkan Yayasan Deva Charity, Utrecht, The Netherlands.

Putu Setia (Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda) kelahiran Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, 4 April 1951. Ia pernah pula menjadi wartawan di beberapa media, di antaranya : Angkatan Bersenjata edisi Nusatenggara, Berita Yudha, Bali Post, dan Forum Keadilan. Ia menulis kolom bertajuk Cari Angin di Koran Tempo (dirangkum dan diterbitkan tahun 2014). Cerita-cerita pendeknya terkumpul dalam sebuah buku antologi berjudul Intel dari Comberan (1994). Dua cerita pendeknya juga pernah dimuat dalam sebuah antologi berjudul Bali Behind The Seen (1996), yang disunting oleh Vern Cork. Ia juga menulis esai tentang kehidupan di Bali, yang dikompilasikan ke dalam buku berjudul Menggugat Bali (1986), edisi revisi terbit tahun 2014 dengan judul Bali Menggugat. Buku ini pun memiliki sekuel berjudul Mendebat Bali (2002) dan Bali yang Meradang (2006). Menerbitkan buku berjudul Wartawan Jadi Pendeta (2013), yang berisi tentang kisah hidupnya beralih profesi dari wartawan menjadi pemuka agama.

agenda acara bulan ini
  • BANGKU SEKOLAH DAN CITA-CITA

    Sinema Bentara bulan ini menghadirkan film-film fiksi pendek dan panjang, juga dokumenter pendek yang mengetengahkan tema seputar pendidikan, sekolah, dan cita-cita. Program ini memaknai Hari Pendidikan Nasional yang jatuh tanggal 2 Mei.

  • MANAJEMEN PRODUKSI PERTUNJUKAN #1

    Bila tidak didukung oleh manajemen produksi, tata artistik, tata lampu, tata suara yang mumpuni, sebuah pertunjukan seni bersiaplah untuk gagal. Memang, kesuksesan sebuah pertunjukan atau seni pemanggungan tidak lepas dari manajeman produksi, meliputi berbagai elemen yang harus saling bersinergi; mulai dari administrasi dan keuangan, publikasi, tata panggung, tata lampu, tata suara, tata rias dan busana, dan sebagainya.