Lagu Puisi

Kamis, 28 Februari 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | 1930 WIB

Puisi selalu hadir di Koran – Koran setiap hari Minggu, puisi selalu sunyi walau pun puisi itu berbicara tentang keramaian hidup. Puisi merupakan karya sastra yang sangat personal, dan paling dekat dengan kita, setiap orang bisa membuat puisi, tidak harus seorang penyair yang bisa berpuisi, banyak orang dengan berbagai latar bisa menulis puisi dengan tema yang berbeda – beda. Menikmati puisi bisa dilakukan dengan beragam cara, mulai dari membaca puisi, menyanyikan dan musikalisasi puisi serta mementaskannya dalam bentuk drama kecil. Lagu puisi merupakan cara lain menikmati puisi, dengan dilagukan sebuah puisi tentu bisa menafsirkan puisi lebih jauh, bisa lebih mudah atau lebih mendalam. Sebuah puisi dalam bentuk yang sangat sederhana sekali pun adalah sebuah narasi, dan kita yang menafsirkannya. Lagu puisi membantu kita untuk menafsirkan puisi lebih dalam dan bermakna. 

agenda acara bulan ini
  • WHEN I'M 64

    Agus Leonardus, fotografer kenamaan kelahiran 11 November 1955, memamerkan sepilihan karya fotonya yang diprotret seiring puluhan tahun perjalanan karir fotografinya. Belum lama dia juga menerbitkan buku foto ‘When I’m 64’ (Nineart Publishing, 2019) yang memuat foto-foto yang diambil di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar negeri.

    Fotografi di dunia digital memang menjanjikan sedemikian rupa kemudahan. Teknologi yang begitu maju memungkinkan fotografer mengeksplorasi teknik demi menghasilkan foto terbaik. Akan tetapi, menurutnya, foto dengan kecakapan teknik saja tetaplah tidak cukup demi menghadirkan karya yang bernilai. Ada nilai maupun makna yang tetap penting dikedepankan.

  • JOGJA KOTA TOLERAN

    Diskusi ini merupakan rangkaian dari peluncuran buku esai “Menangkis Intoleransi Melalui Bahasa dan Sastra“ yang belum lama diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sebagai respons atas munculnya berbagai peristiwa intoleransi di kota ini. Buku esai ini merangkum tulisan berbagai penulis muda yang menuangkan beragam perspektifnya atas fenomena sosial budaya di sekitarnya, dengan penyunting antara lain Ratun Untoro, Mulyanto, Latief S. Nugraha.

    Adapun diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan DIY ini bertujuan untuk memahami lebih jauh kondisi sosial budaya di Yogya. Benarkah Jogja masih dianggap sebagai kota toleran? Apakah yang menyebabkan munculnya peristiwa-peristiwa intoleransi akhir-akhir ini dan bagaimana kita dapat kembali menciptakan ekuilibrium alias keseimbangan dalam berkehidupan sosial budaya?