LAGI-LAGI BICARA “PEREMPUAN“

Sorot Kelir Bentara Putar Film & Diskusi

Jumat, 26 Juli 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Pembicara :
Ririn Setyowati dan Thea Arnaiz Le 
Moderator : 
Rizka Nur Laily Muallifa


Publik barangkali sudah bosan atau malahan muak dengan tema soal perempuan. Pembahasan soal “perempuan“ hari-hari ini mudah sekali dapat generalisasi dengan sebutan feminisme. Sebutan yang di masa lalu pernah ngeri dan jauh karena keterbatasan informasi yang muncul ke hadapan publik. Di Indonesia, titik balik feminisme lekat dengan pengetahuan kita akan sosok Raden Ajeng Kartini. Bersama segenap sikap, tingkat laku, dan tulisan-tulisannya yang –pada masa itu– terbaca penuh perlawanan, Kartini menjadi ikon pahlawan perempuan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang tak lekang oleh zaman. 

Kita lupa di masa sebelum itu, ada Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan banyak lagi perempuan yang “melawan“ dengan beragam cara. Kegemaran “lupa“ itu rasa-rasanya masih terus kita amini. Perempuan keren bagi kebanyakan kita itu ialah perempuan yang berkarya atau bekerja di institusi-institusi ternama atau berprestasi di sekian bidang. Pendeknya, perempuan keren adalah perempuan yang bukan bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga. 

Adi Marsono melalui film Sunday Story (2017) mengajak kita menyaksikan bagaimana perempuan-ibu rumah tangga melakukan tugas-tugas domestik sehari-hari. Pekerjaan yang repetitif dan tak kenal tanggal merah itu rupanya bisa membuat perempuan-ibu rumah tangga lupa bahwa hari Minggu itu ada. Kita juga bisa membaca narasi soal perempuan-ibu rumah tangga dalam film Adi Marsono yang lain, Semalam Anak Kita Pulang (2015). Seorang ibu menjadi linglung akibat rindu yang keterlaluan pada anaknya yang merantau ke kota dan tak kunjung pulang. 

Sorot Kelir Bentara kali ini menghadirkan para pencerita muda yang akan berbagi cerita mengenai pengalaman menonton film Sunday Story dan Semalam Anak Kita Pulang. Kita akan berdiskusi dengan Ririn Setyowati  dan Thea Arnaiz Le, dua anak muda yang punya kisah menarik bertaut dengan kedua film tersebut dan lebih jauh lagi. Diskusi akan dimoderatori oleh Rizka Nur Laily Muallifa. Mari menonton dan berdiskusi dengan riang gembira. Tsah!

agenda acara bulan ini
  • AIR MATA AIR BENGAWAN

    Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.

  • PANGGUNG MAESTRO FILM TAN TJENG BOK

    Kehidupan Tan Tjeng Bok yang menarik ini meninggalkan cukup banyak artefak yang unik dan menarik. Berbekal artefak-artefak ini lah kemudian kisah kehidupan Tan Tjeng Bok dibukukan dalam bentuk Biografi oleh Fandi Hutari dan Deddy Otara.