KISAH SEJARAH DAN CERITA NYATA DALAM KARYA SASTRA INDONESIA

Dialog Sastra #66

Senin, 19 Agustus 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 19.30 WITA

Sebuah karya sastra, terlebih roman atau naskah drama, yang berlatar periode kunci sejarah tertentu, semisal pergulatan historis Indonesia pada awal abad ke-19, sewaktu mulai bertunasnya gagasan identitas kebangsaan, terbukti berpeluang menjadi karya besar yang mencerahkan. Sebut saja, War and Peace karya Leo Tolstoy (1863), novel semi biografi The Sun Also Rises Ernest Hemingway (1926), tetralogi Buru dari Pramoedya Ananta Toer atau karya Conrad, In the Heart of Darkness (1905). Demikian juga sejumlah pengarang terkini Indonesia, berangkat dari kisah nyata atau sebagian realita, guna meraih keutuhan cerita yang mengesankan.

Para penulis tersebut sejatinya tidak semata menuturkan dengan piawai karakter dan konflik antar tokohnya, melainkan sebagaimana keyakinan kaum sejarawan, sesungguhnya menyuguhkan upaya eksplorasi pada Geistzeit atau jiwa zaman. Melalui romannya yang fenomenal itu, Leo Tolstoy dengan realistis menggambarkan kemelut 580 tokohnya, berlatar penyerbuan Napoleon ke Rusia. Sedangkan The Sun Also Rises adalah novel semibiografi berlatar perang saudara di Spanyol, di mana Hemingway bertugas sebagai jurnalis. Adapun Joseph Conrad memaparkan teror yang merundung masyarakat Kongo di bawah kekuasaan Raja Belgia.

Demikian juga sejumlah pengarang Jepang tersohor dan diakui dunia, semisal Yasunari Kawabata, Kenzaburo Oe, Haruki Murakami, dan Yukio Mishima, juga mencipta novel yang menggali Geistzeit. Namun, jiwa zaman tersebut tidak dituturkan secara langsung sebagai penggambaran keadaan, melainkan dideskripsikan dengan sublim dan mendalam melalui kemelut batin tokoh-tokohnya.

Dialog Sastra #66 kali ini akan mendialogkan tentang “Kisah Sejarah dan Cerita Nyata dalam Karya Sastra Indonesia“ bersama penulis Noorca Massardi, dan sejarawan  Dr. Nyoman Wijaya yang telah menulis banyak buku biografi. Noorca telah menulis sejumlah novel yang boleh dikata berangkat dari latar sejarah maupun kisah yang nyata terjadi, sebut saja karyanya yang berjudul September (2006), Setelah 17 Tahun (2016), 180 (2016) dan lain-lain. Bagaimanakah Noorca--yang juga lama bergelut sebagai jurnalis--mengeksplorasi hal-hal yang bersifat faktual atau nyata dan mengelaborasinya menjadi karya sastra yang memikat? 

Namun, di sisi lain, apakah karya sastra yang ditulis berdasarkan peristiwa faktual dapat dianggap sebagai 
dokumen sejarah? Bagaimana pula fakta sejarah dalam karya sastra dapat digunakan untuk mengungkap suatu peristiwa, ataukah sebaliknya; karya sastra membiaskan kenyataan sejarah yang terjadi karena dipenuhi kisah-kisah pribadi yang sarat pandangan-pandangan subyektif?  

Noorca Marendra Massardi, lahir di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954. Lulusan Ecole Superieur de Journalisme (ESJ) Paris, Prancis (1978) ini telah menerbitkan novel antara lain: Sekuntum Duri (1978), Mereka Berdua (1982), September (2006), d.I.a. cinta dan Presiden (2008) -- semuanya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas, Media Indonesia, dan Seputar Indonesia -- dan Straw (2015), serta 180 (2016)-- ang terakhir ini ditulis berdua dengan Mohammed Cevy Abdullah. Pernah menjadi pemimpin redaksi sejumlah majalah, antara lain Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta, Vista FMTV, Majalah Berita Forum Keadilan, Hongshui, AND, i-Life-and-Style, Kultur, dan wakil pemimpin umum tabloid Prioritas, sebelumnya Noorca adalah koresponden Tempo di Paris, dan pewarta di harian Kompas. Menerima penghargaan Pemenang Pertama Lomba Penulisan Lakon Cerita Anak Dirkes Depdikbud (1978), Pemenang Kedua Lomba Penulisan Lakon DKJ (1976), General Award in the Arts, dari The Society for American – Indonesian Friendship, Inc. (1975), Pemenang Pertama Lomba Penulisan Lakon Pemerintah Daerah Jawa Barat (1974), dll.

Dr. Nyoman Wijaya adalah dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana. Ia telah menulis sejumlah buku biografi, antara lain Bening Embun: Perjalanan A. A. Made Djelantik, Biografi Si Pengembala Itik, John Ketut Panca (Pustaka Pelajar, 2001), Serat Salib dalam Lintas Bali (Yayasan Samaritan, 2003), dan sebagainya. Dirinya juga aktif menyusun makalah, penulisan esai populer serta kajian sejarah.

agenda acara bulan ini
  • UTUSAN SOSIAL : KILAT DARURAT!

    Sebuah pameran bertajuk “Utusan Sosial: Kilat Darurat!“ diselenggarakan di Bentara Budaya Bali, buah kerja sama dengan Subdit Seni Rupa Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI. Program unggulan Apresiasi Perupa Muda Indonesia 2019 ini memberikan kesempatan dan membidik Generasi Z Indonesia sebagai ‘cikal bakal’ perupa masa depan, untuk turut berkontribusi bagi kemajuan Indonesia melalui seni rupa yang lintas batas ini.

  • “A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“ #4

    Dua komposer muda unjuk karya dalam Komponis Kini 2019 “A Tribute to Wayan Beratha“ yakni Ni Komang Wulandari (23 tahun) dan Anak Agung Putu Atmaja (30 tahun). Keduanya sedini duduk di bangku sekolah dasar telah menekuni gamelan, serta aktif di berbagai sanggar hingga memutuskan menempuh pendidikan di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar.

  • KISAH SEBUAH KOTA

    Setiap kota selalu punya berlapis kisah lama, juga cerita sehari-hari yang tersembunyi, atau luput dari perhatian kebanyakan orang. Sinema Bentara kali ini akan menayangkan sejumlah film cerita dan dokumenter yang meraih penghargaan nasional dan internasional.