KISAH SEBUAH KOTA

Sinema Bentara #KhususMisbar

29 Agt 2019 ~ 30 Agt 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.00 WITA

Setiap kota selalu punya berlapis kisah lama, juga cerita sehari-hari yang tersembunyi, atau luput dari perhatian kebanyakan orang. Sinema Bentara kali ini akan menayangkan sejumlah film cerita dan dokumenter yang meraih penghargaan nasional dan internasional. 

Tema ini berakat dari kenyataan bahwa sebuah kota tidak saja dihuni oleh manusia individual modern yang sepenuh tenggelam dengan dunianya sendiri, namun juga  terbukti menghadirkan ruang bertemu (meltingpot) yang hangat berikut kisah-kisah tak terduga. Tidak selama sebuah kota yang modern dan kontemporer berisi sosok-sosok yang hedonis, dililit prasangka, atau semata berlaku jahat guna mempertahankan hidupnya sendiri. Film-film terpilih kali ini menyiratkan pentingnya berbagi dan berempati dalam konteks hidup sehari-hari, manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki akal dan budi.

Program ini diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama di ruang terbuka yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT; Denpasar Documentary Film Festival; Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, dan Udayana Science Club.

SINOPSIS FILM

PENEMPA BARA
(Dokumenter, Indonesia, 2018, Durasi: 15 menit, Sutradara: AAI Sari Ning Gayatri)
Didukung oleh Denpasar Documentary Film Festival

Seorang laki-laki muda, Made Gede Suardika menjalani profesi sebagai pande keris pusaka untuk meneruskan tradisi leluhurnya, di tengah berbagai rintngan dan banyaknya pilihan pekerjaan di zaman modern. 

Film ini meraih penghargaan Film terbaik I Denpasar Film Festival kategori pelajar nasional 2018, Film Terbaik I Denpasar Film Festival kategori Pelajar Binaan 2018, Official Selection Sukabumi Movie Award 2018, Film Terbaik I Festival Film Pelajar Jogja 2018, Film Terbaik III Festival Film Pelajar Jogja 2018, Film Terbaik I Festival Film Dokumenter Budi Luhur 2018, Official Selection Malang Film Festival 2019, OFFICIAL ION ORGANIZATION of World Heritage Cities Video Competition 2019 di Krakow, Polandia.

 
SANG PENJAGA BEJI
(Dokumenter, Indonesia, 2017, Durasi: 5 menit, Sutradara: AAI Sari Ning Gayatri)
Didukung oleh Denpasar Documentary Film Festival

Pura Beji merupakan salah satu pura terpenting di Bali, karena fungsinya sebagai “penyengker“ atau penjaga sumber-sumber air di Bali. Belakangan ini, beberapa Pura Beji terganggu keberadaannya akibat perubahan lingkungan di sekitarnya. Jenis gangguan tersebut antara lain menyurutnya air yang mengalir di beberapa panvuran Pura Beji akibat berkurangnya pohon-pohon di kawasan hulu dan semakin banyaknya rumah-rumah di sekitar pura yang menyedot air bawah tanah melalui sumur bor. Film ini akan menuturkan keadaan Pura Beji terkait fungsi, aktivitas spiritual, dan ancaman yang ada melalui penuturan Jro Mangku Wija, yang ditunjuk secara niskala sebagai penjaga Pura Beji di Kesiman.

Film ini meraih penghargaan Film terbaik I Denpasar Film Festival kategori Pelajar Binaan 2017, Official Selection Organization of World Heritage Cities Video Competition 2017, Film Terbaik I Festival Film Batavia 2017, Official Selection Festival Film Surabaya 2018, Official Selection Festival Film Banten 2017.

BANDA  THE DARK FORGOTTEN TRAIL
(Indonesia, Dokumenter, 2017, Durasi: 94 menit, Sutradara: Jay Subiakto)
Didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI, BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT

Di abad pertengahan, segenggam pala di Pasar Eropa dianggap lebih berharga dari sepeti emas.. Perseteruan bangsa-bangsa terjadi akibat rempah-rempah. Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh menjadi kawasan yang paling diperebutkan. Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Di sana pula, sebuah semangat kebangsaan dan identitas multikultural lahir menjadi warisan sejarah dunia.

Film ini meraih penghargaan Piala Maya untuk Film Dokumenter Panjang Terpilih 2017, serta nominasi Piala Iqbal Rais untuk Penyutradaraan Berbakat Film Panjang Karya Perdana 2017, Piala Citra untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik 2017, Piala Maya untuk Tata Kamera Terpilih 2017, Piala Maya untuk Penyuntingan Gambar Terpilih 2017.


LES PARAPLUIES DE CHERBOURG (THE UMBRELLAS OF CHERBOURG)
(Prancis, 1964, Durasi: 95 menit, Sutradara: Jacques Demy)
Didukung oleh Alliance Française Bali dan Institut Français d’Indonésie

Di sebuah kota di Prancis, 1957, seorang wanita muda terpisah dari kekasihnya oleh perang, ia mengahadapi dilema pilihan yang menentukan hidup mendatang. Ini kisah Geneviève Emery dan Guy Foucher dari Cherbourg, disajikan dalam empat babak.  Sebuah film musikal, musiknya ditulis oleh Michel Legrand, dialog filmnya dinyanyikan sebagai sebuah resitatif. 

Film ini mendapat nominasi Best Music, Original Song, Score dan nominasi Best Foreign Language Film pada Academy Awards 1966 , nominasi Best Foreign Language Film pada Golden Globes USA 1966, penghargaan OCIC Award, Palme d’Or dan Technical Grand Prize pada Cannes Film Festival 1964, nominasi Best Original Score Written for a motion Picture pada Grammy Awards 1966, dan Prix Louis Delluc 1963.


UMBERTO D.
(Italia, 1952, Durasi: 89 menit, Sutradara: Vittorio De Sica)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Ini adalah salah satu film neoralis Italia yang berlatar pasca perang dunia II, mengisahkan tentang Umberto Domenico Ferrari, seorang lelaki tua miskin di Roma yang berusaha keras untuk tetap tinggal di kamar sewaannya. Wanita pemiliknya mengusirnya, dan  teman sejatinya adalah pembantu rumah tangga dan anjingnya Flike tidak ada gunanya.
Vittorio De Sica dinominasikan untuk Grand Prix - 1952 Cannes Film Festival atas film ini.    Penghargaan Critics Circle New York Film untuk Film Asing Terbaik (1955) dan Cesare Zavattini dinominasikan untuk Academy Award untuk Cerita Terbaik di Academy Awards ke- 29 pada tahun 1957. Film ini termasuk di dalam "All-TIME 100 Movies" majalah TIME pada tahun 2005.

agenda acara bulan ini
  • UTUSAN SOSIAL : KILAT DARURAT!

    Sebuah pameran bertajuk “Utusan Sosial: Kilat Darurat!“ diselenggarakan di Bentara Budaya Bali, buah kerja sama dengan Subdit Seni Rupa Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI. Program unggulan Apresiasi Perupa Muda Indonesia 2019 ini memberikan kesempatan dan membidik Generasi Z Indonesia sebagai ‘cikal bakal’ perupa masa depan, untuk turut berkontribusi bagi kemajuan Indonesia melalui seni rupa yang lintas batas ini.

  • “A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“ #4

    Dua komposer muda unjuk karya dalam Komponis Kini 2019 “A Tribute to Wayan Beratha“ yakni Ni Komang Wulandari (23 tahun) dan Anak Agung Putu Atmaja (30 tahun). Keduanya sedini duduk di bangku sekolah dasar telah menekuni gamelan, serta aktif di berbagai sanggar hingga memutuskan menempuh pendidikan di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar.