Kelas Kreatif Bentara

STILL PHOTOGRAPHY BERSAMA SOFYAN SYAMSUL

Minggu, 04 November 2018 Bentara Budaya Bali | pukul 14.00 WITA

Kelas Kreatif Bentara kali ini akan mengetengahkan lokakarya tentang Still Photography selaras program pameran fotografi Melihat yang Tidak Terlihat (Dalam Film Sekala Niskala) karya Sofyan Syamsul. Sebagai fotografer profesional, Sofyan Syamsul telah terlibat sebagai still photographer dalam berbagai film, di antaranya Memburu Harimau, Sepatu Baru, Ada Apa Dengan Cinta? 2, Athirah, Kulari ke Pantai dan The Seen and Unseen. 

Ia akan berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai proses kreatifnya sebagai seorang still photographer, berikut apa itu still photogaphy serta peranannya sebagai salah satu “catatan di balik layar“ atau behind the scence dari proses pembuatan sebuah film. Apakah still photography hanya sebatas mengabadikan potongan-potongan adegan dalam film, ataukah juga kuasa menghadirkan sisi estetik dan kedalaman pesan di sebalik tiap adegan? 

Kelas Kreatif Bentara merupakan sebuah program lokakarya yang dirancang berkelanjutan, telah dimulai sedini awal tahun 2012 dalam bentuk transfer of knowledge di berbagai bidang, semisal fotografi bersama M. Bundhowi, Ida Bagus Putra Adnyana, Ida Bagus Andi Sucirta, dll; teater bersama Abu Bakar, Kaseno, Iswadi Pratama, Eugenio Barba, Julia Varley, Godi Suwarna, Wawan Sofwan, Sahlan Mutchaba, Heliana Sinaga, Cok Sawitri, Putu Satria Kusuma dll; tari bersama I Nyoman Sura, Ni Luh Menek, dan Ni Ketut Arini dll; film bersama Happy Salma, Garin Nugroho, Putu Kusuma Widjaja, Agung Bawantara, Denny Chrisna, dan Gusti Aryadi. Sedari bulan Mei 2016 telah diselenggarakan lokakarya dasar-dasar jurnalistik oleh wartawan senior, Maria Hartiningsih, kemudian workshop penulisan feature (berita kisah) dan fiksi (cerpen) bersama Putu Fajar Arcana dan penulisan esai bersama Arif Bagus Prasetyo, Rofiki Hasan, serta Made Sujaya.

Sofyan Syamsul lahir di Makassar, 30 Januari 1988, menyelesaikan studi S1 jurnalistik di Makassar. Sofyan merupakan seorang fotografer profesional dan aktif dalam perfilman baik berskala komunitas maupun industri di Indonesia. Sebagai seorang fotografer profesional, ia sempat bekerjasama untuk Melbourne University, Femina, Mongabay Indonesia, Federation Internationale De L’ Automobile (Asia Pacific Rally Championship) juga Vanity Fair Italy. Beberapa pameran fotografi yang pernah digelar: “Halaman Yang Hilang“ (The Lost Sheet Page) di Kampung Buku oleh Tanaindie (2014); “Faces“ di Rumata’ Artspace kolaborasi dengan Japan Foundation Indonesia (2016); “Common Room“ (Ruang Bersama) pada Makassar International Writers Festival (2017). Hingga kini aktif sebagai fotografer di Rumata’ Art Space sejak tahun 2012.

agenda acara bulan ini
  • JAIS DARGA NAMAKU

    Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“.