Kelas Kreatif Bentara

MENULIS RESENSI FILM #2

Minggu, 19 Agustus 2018 Bentara Budaya Bali | 15.00 WITA

Bersama Ni Ketut Sudiani


Kelas Kreatif  kali ini merupakan kelanjutan dari program serupa pada bulan Juli lalu yang mengedepankan upaya berbagi pengalaman dan pemahaman terkait menulis resensi film. Setelah sebelumnya dipaparkan perihal dasar-dasar penulisan, struktur dan sistematika penulisan resensi, juga langkah-langkah menulis resensi serta contoh-contohnya, kini akan difokuskan pada pendalaman. 

Peserta akan diajak memahami langkah-langkah menganalisis film berdasarkan pembacaan atas tema, latar historis film dimaksud, sejarah perfilman Indonesia dan dunia, serta silang referensi dengan film-film lain bertema serupa, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan resensi atau ulasan sinema.

Adapun Kelas Kreatif Bentara: Menulis Resensi Film ini dirancang sebagai sebuah lokakarya yang berkelanjutan serta memadukan antara pembekalan teori serta praktik. Program ini akan diselaraskan dengan agenda Sinema Bentara sebagai sumber film-film yang akan diresensi atau diulas. Karya-karya terpilih akan diupayakan dipublikasikan di media koran dan onlin, serta dibincangkan bersama sebagai bagian dari pendalaman lebih jauh. Tampil sebagai pemateri yakni Ni Ketut Sudiani (Redaktur Tribun Bali). 

Rangkaian kelas kreatif telah dimulai sedini awal tahun 2012 dalam bentuk lokakarya di berbagai bidang, semisal fotografi bersama M. Bundhowi, Ida Bagus Putra Adnyana, Ida Bagus Andi Sucirta, dll; teater bersama Abu Bakar, Kaseno, Iswadi Pratama, Eugenio Barba, Julia Varley, Godi Suwarna, Wawan Sofwan, Sahlan Mutchaba, Heliana Sinaga, Cok Sawitri, Putu Satria Kusuma dll; tari bersama I Nyoman Sura, Ni Luh Menek, dan Ni Ketut Arini dll; film bersama Happy Salma, Garin Nugroho, Putu Kusuma Widjaja, Agung Bawantara, Denny Chrisna, dan Gusti Aryadi. Sedangkan sedari bulan Mei 2016 lalu, telah diselenggarakan lokakarya dasar-dasar jurnalistik oleh wartawan senior, Maria Hartiningsih, kemudian workshop penulisan feature (berita kisah) dan fiksi (cerpen) bersama Putu Fajar Arcana dan penulisan esai bersama Arif Bagus Prasetyo, Rofiki Hasan, serta Made Sujaya. 

Ni Ketut Sudiani menulis puisi, cerpen, esai dan novel. Alumni Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana ini kini merupakan redaktur di Tribun Bali. Tulisan-tulisannya dimuat di sejumlah media, seperti Kompas Minggu, Media Indonesia, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Bali Post, Jurnal Sundih, Radar Bali dan lainnya. Tulisannya terangkum dalam antologi bersama seperti Buku Kumpulan Esai, Menteri Lingkungan Hidup, Jakarta, 2006, antologi Puisi, “Jalan Angin“, 2006, antologi Puisi “Kota di Utara Peta“, 2007, antologi Puisi “100 Puisi Terbaik’, INTI dpp Jakarta, 2007, buku Biography Kreatif, “Waktu Tuhan (Wianta)“, 2008, antologi Puisi “Kampung Dalam Diri“, 2008, antologi Puisi “Keranda Emas“, 2008, antologi Cerita Pendek, Akademika, 2009 dan antologi Puisi dwibahasa , Indonesia – Prancis “ Warna Perempuan“ 2011. Meraih Juara III Journalist Award Bali, mengikuti Youth Forum di Manila, Filipina, 2009; Pertukaran Pemuda Indonesia – Kanada, 2011 -2012, Pertukaran Penulis Muda Indonesia – Australia, 2014, Ubud Writers and Readers Festival, 2014.

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara #KhususMisbar

    Setelah bulan lalu mengedepankan film-film dengan tokoh orang biasa di tengah kecamuk perang dan konflik, Sinema Bentara bulan Desember ini menghadirkan film-film cerita panjang dan pendek peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri yang merujuk kisah anak-anak yang mengalami pahit getir kehidupan sedini masa mudanya; tidak memiliki ibu, saudara atau ayah oleh berbagai alasan. Anak-anak “korban“ situasi tertentu ini melihat hidup dan kehidupannya boleh dikata berbeda dengan anak-anak keluarga umumnya.

  • JAIS DARGA NAMAKU

    Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“.