KARAWITAN PUJANGGA LARAS

Klenengan Selasa Legen

Senin, 02 September 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Karawitan Pujangga Laras adalah kelompok para empu pangrawit-pesindhen Solo yang didirikan pada tahun 2004. Lima belas tahun sudah usianya . Nama Pujangga Laras timbul dari salah satu anggota yang sudah swargi (meninggal). Karena para empu, ya "pujangga" dan karena karawitan ya "laras", begitu pernyataan Kitsie Emerson, salah satu pengurus Karawitan Pujangga Laras. Para empu yang ikut sejak dahulu ada Bapak Sastrotoegiyo, Bapak Wahyopangrawit, Bapak Daliman, Bapak Wakidjo Warsopangrawit, Nyi Tukinem, Nyai Prenjak. Sudah banyak yang tiada. 

Pengrawit yang masih aktif hingga sekarang ada Bapak Wakidi Dwidjomartono, Bapak Suyadi Tejapangrawit, Bapak Saptono, Bapak Giarto, Bapak Wakiyo, Bapak Sukamso, Bapak Darsono, Bapak Suripto, Bapak Paimin,  Bapak Sularno,  Nyi Cendhanilaras, Nyi Yayuk "Triyagan", Nyi Suparni, Nyi Suyatmi "Condhong Raos", dan masih banyak lagi. Dipimpin oleh Bapak Wakidi Dwidjomartono. Karawitan Pujangga Laras seolah selalu diteropong dari jauh, ada penasihat nun jauh Amerika, sejak 2001 oleh Bapak Harjito dan Prof Dr Sumarsam. 

Ini salah satu kesempatan bagi para pangrawit dari Mangkunegaran, Keraton Solo, RRI Solo, Sriwedari, SMK Negara 8, ISI Surakarta, dan para paguyuban dalang berbaur menjadi satu. Pujangga Laras disponsori sejak tahun 2001 oleh para pelajar dari manca negara. Daftar sponsor adalah 50 orang dari 12 negara. Pujangga Laras disponsori oleh manca supaya para pengrawit bisa belajar dari para Empu Solo. Uniknya adalah tidak adanya sama sekali penabuhnya yang datang dari orang manca negara. Justru terdiri dari para empu di Solo. Belum pernah sekali saja selama 15 tahun ada orang manca yang ikut nabuh, itu salah satu peraturan. Pujangga Laras adalah para empu Solo. 

Hal unik lainnya adalah tidak pakai latihan, karena dianggap sudah empu di Solo sehingga tak membutuhkan latihan. Mereka berkumpul sebulan sekali mengadakan rekaman, tanpa latihan dengan hari yang tidak tentu. Besok 23 Agustus pun rencananya mereka akan ada jadwal rekaman di Klodran, Colomadu.

agenda acara bulan ini
  • AIR MATA AIR BENGAWAN

    Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.

  • PANGGUNG MAESTRO FILM TAN TJENG BOK

    Kehidupan Tan Tjeng Bok yang menarik ini meninggalkan cukup banyak artefak yang unik dan menarik. Berbekal artefak-artefak ini lah kemudian kisah kehidupan Tan Tjeng Bok dibukukan dalam bentuk Biografi oleh Fandi Hutari dan Deddy Otara.