K A W I T A N

Pameran Lukisan Lintas Generasi

Jumat, 17 Mei 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.30 WITA

Pembukaan : Jumat, 17 Mei 2019, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 18 – 28 Mei 2019, pukul 10.00 – 18.00 WITA 

Pameran kali ini bukan semata menghadirkan karya-karya perupa Bali lintas generasi,  dari yang paling sepuh I Wayan Tohjiwa (b. 1916) hingga yang terkini I Gde Ngurah Panji (b. 1986), akan tetapi adalah juga upaya merunut Kawitan (asal muasal) atau melacak jejak (tematik, stilistik dan estetik) yang mewarnai proses cipta seniman lintas zaman ini. Yang dikedepankan adalah pelukis-pelukis ragam tradisional atau klasik Bali berikut babakan young artist yang rekah dan bertumbuh di kawasan kultural Ubud –hakikatnya mencerminkan pula dinamika seni rupa sebelum dan sesudah era Pita Maha-- didirikan pada 29 Januari 1936 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati (Raja Ubud), Walter Spies (pelukis asal Jerman), dan Rudolf Bonnet (pelukis asal Belanda).

Melalui tematik tertentu, semisal lukisan tentang Pasar, Tarian, atau Upacara, dapat dibaca pewarisan stilistik maupun capaian teknik, termasuk ragam ekspresi yang mempribadi. Simak saja karya I Wayan Tohjiwa (b.1916) berjudul “Pasar Tradisional“, I Nyoman Manggih (b.1941) berjudul “Sabung Ayam“, Ida Bagus Made Nadera (b.1918) berjudul “Mebat (Ngelawar)“, I Wayan Rapet (b.1941) yang berjudul “Cremation“, Made Batuan (b.1941) berjudul “Dewa Yadnya“, I Gusti Ayu Natih Arimini (b.1976) berjudul “Upacara di Bali“, Made Rasna (b. 1964) berjudul “Tari Topeng“,  Pande Ketut Dolik (b.1955) berjudul “Melasti“, I Wayan Bendi (b.1950) berjudul “Sebuah Perubahan“ hingga I Ketut Sadia (b.1966) berjudul “Tari Kecak“, dan lain-lain. 

Atau sebaliknya, dari ragam ikonik tertentu khas Bali, semisal sosok perempuan, petopengan, tokoh wiracarita; terbukti mewarnai kreasi seniman lintas generasi. Simak saja I Wayan Djujul (b.1942) berjudul “Jauk“, Ida Bagus Sena (b.1966) berjudul “Lahirnya Boma“,  Dewa Putu Mokoh (b.1936) berjudul “Good Sleep“, I Ketut Ginarsa (b.1951) berjudul “Dewi Saraswati“, I Ketut Madri (b.1943) berjudul “Jatayu Pralaya“ dan lain-lain. 

Terhampar juga di dinding serta tersaji di ruang, karya-karya perupa generasi muda diantaranya I Gde Ngurah Panji (b.1986), I Made Sunarta (b.1980), I Made Warjana (b. 1985), I Wayan Wijaya (b. 1984), I Wayan Suardika (b. 1984), dan I Nyoman Winaya (b.1983); yang unik secara bentuk dan mengandung kedalaman pesan tersendiri. Terbaca upaya para kreator tersebut untuk mengolah ikon-ikon yang hidup dalam masyarakat Bali menjadi wujud rupa yang menggambarkan capaian estetik masing-masing yang otentik. Suatu kreasi modern yang mengandung kekuatan ekspresi terpilih, di mana ikonografi Bali direvisi atau dikreasi sedemikian rupa melampaui kebakuan bentuk lukisan Bali tradisional. 

Karya-karya tersebut, baik para pendahulu maupun generasi yang lebih kini, mencirikan adanya pergulatan secara menyeluruh  menyikapi secara kreatif tematik, stilistik sekaligus estetik. Ini adalah sebuah upaya transformasi yang mempribadi, boleh jadi merefleksikan pula transformasi masyarakat Bali dari ragam budaya agraris komunal yang guyub hangat menuju masyarakat modern dengan kecenderungan individual. Memang, sedini awal kolonial, bahkan jauh sebelum itu, masyarakat Bali telah mengalami sentuhan globalisasi dengan beragam determinasinya. 

Sejurus hadirnya kemodernan/kekontemporeran –termasuk keniscayaan sejarah dimana Bali menjadi  bagian dari dinamika keindonesiaan-- mengemuka pula pergulatan perupa yang menggambarkan tahapan lintas budaya (trans-culture) atau silang budaya (cross-culture) - membenturkan sekaligus juga mempertautkan nilai-nilai warisan leluhur (tradisi) dengan nilai-nilai budaya lain. Pada sebagian karya, merefleksikan nilai-nilai baru yang akulturatif, di mana unsur-unsur pembentuknya masih dapat dilacak asal muasalnya. Atau suatu capaian yang bersifat asimiliasi, mengandaikan pertemuan antarkultur –menghasilkan sesuatu yang baru dengan unsur dasar yang telah dianggap luluh sepenuhnya. Dengan kata lain, dunia seni rupa Bali hakikatnya  memiliki determinasi sejarahnya sendiri, yang terbukti telah “meng-ada“ jauh sebelum dibaca sebagai bagian dari sejarah seni rupa Indonesia. 

Pameran diikuti 43 seniman lintas generasi, antara lain: Ida Bagus Made Nadera (1918-1998),  Dewa Putu Mokoh (b. 1936), I Wayan Asta (b. 1945), I Wayan Djujul (b. 1942), I Wayan Serati (b. 1939), I Nyoman Sinom (b. 1940), I Wayan Tohjiwa (1916-2001), I Nyoman Tulus (b. 1941), I Nyoman Ridi (b. 1945), I Ketut Gelgel (b. 1944), I Ketut Ginarsa (b.1951), I Ketut Kicen (b. 1929), I Wayan Bendi (b. 1950), I Made Tubuh (b. 1941), I Gusti Agung Galuh (b. 1968), Pande Ketut Dolik (b. 1955), I Made Rasna (b. (b. 1964), I Wayan Rapet (b. 1941), I Wayan Jumu (b. 1959), I Nyoman Rupa (b. 1959), Dewa Sugi (b.1970), Ida Bagus Sena (b. 1966), Gusti Putu Joni (b. 1950), I Wayan Sukarta (b. 1956), I Made Madra (b. 1960), I Nyoman Manggih (b. 1941),  I Nyoman Suarsa (b. 1945), I Wayan Gandera, I Ketut Kebut, I Ketut Roji (b. 1943), I Ketut Madri (b. 1943), I Made Suryana (b.1976), I Ketut Sadia (b. 1966), I Wayan Diana (b. 1977), I Made Sunarta (b. 1980), I Made Warjana (b. 1985), I Wayan Wijaya (b. 1984), I Wayan Suardika (b. 1984), I Nyoman Winaya (b.1983),  Gusti Ayu Natih Arimini (b.1976), I Gde Ngurah Panji (b. 1986), I Gusti Agung Kepakisan (b. 1974), I Gusti Agung Wiranata (b. 1970).
Adapun pameran ini terselenggara atas kerja sama Bentara Budaya Bali dengan Damping Gallery, sebuah leri di Ubud, Bali, yang konsisten menjaga eksistensi ragam seni lukis klasik/tradisional Bali. Damping Gallery didirikan oleh seorang arsitek, Wayan Sutarma, pada 2006 karena kecintaannya terhadap seni rupa tradisional Bali maupun modern. Sebutan Damping dipakai untuk menghormati dan mengenang ayahandanya, almarhum I Made Damping. Sutarma tidak hanya membangun jejaring dengan para kolektor dan penikmat seni rupa, tetapi juga memfasilitasi para seniman seni lukis tradisional melalui komunitas agar bisa terus berkarya dan menjaga kesinambungan generasi pelukis gaya Ubud yang kian langka. 

Galeri ini pernah menggelar pameran spektakuler bertajuk ‘Transcending Myth and Reality: Damping Wooden Reliefs' (2017), menyajikan 28 karya di atas panel kayu jati yang disiapkan selama 2 tahun melibatkan 28 seniman pilihan untuk mengerjakan sketsa, ukiran, pewarnaan, dan finishing pigura. Karya ini merupakan  stilisasi seni rupa tradisional Bali menggunakan media papan kayu dengan ukiran detail tiga dimensi. 

Damping Gallery juga menyelenggarakan sejumlah pameran di antaranya: Spirit of Bali (2006), The Ubud Style of Balinese Painting I’ (2007), The Ubud Style of Balinese Painting II’ (2008), The Idealisation of Bali (2009), Wayan Naya: Sukma Rupa (2010), ‘Sadulur Rupa’: Pameran Koleksi Damping Gallery di Sangkring Art Space, Yogyakarta (2018). Damping Gallery beralamat di Jl. Tirta Tawar 99, Banjar Kutuh Kaja, Ubud, Bali.

agenda acara bulan ini
  • SACRED ENERGY

    Ini adalah pameran tunggal I Made Sumadiyasa setelah Solo Exhibition “The Backlash Of The East“ di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 tahun lalu. Mengedepankan tajuk “Sacred Energy“ sebuah MetaRupa, seniman kelahiran Tabanan ini mengulik energi alam dan kehidupan dalam dimensi immaterial melalui penciptaan drama piktorial seturut gerak spontan tak terduga, bahkan meluap lepas dan melepas batas. Selama dua puluh lima tahun lebih karir kekaryaannya, seniman ini suntuk mencipta seni rupa abstrak ekspresionisme dengan aspek emotif yang sangat kuat melampaui menifestasi bentuk-bentuk “objektif“ alam itu sendiri. Yaitu ekspresionisme dalam gerak bebas semesta batin yang subjektif sekaligus wahana penjelajahan ketakterbatasan energi kosmik yang sangat dinamis dalam skala kolosal.