JOHANN WOLFGANG VON GOETHE:PUJANGGA JERMAN TERBESAR

Dialog Sastra #67 - Ceramah dan Pembacaan Puisi Oleh Berthold Damshäuser

Sabtu, 28 September 2019 Bentara Budaya Bali | 19.00 WITA

Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) adalah pujangga Jerman terbesar dan termasuk tokoh paling gemilang dalam sejarah sastra dunia. Bahkan, Goethe lebih dari pujangga, ia seorang universalis atau jenius universal, mungkin yang terakhir, dan dalam hal ini dapat dibandingkan dengan Leonardo da Vinci. Seperti Leonardo, Goethe pun tidak hanya menjadi sastrawan, pelukis dan budayawan, melainkan juga saintis dan penemu. Filosof Friedrich Nietzsche mengatakan pada tahun 1986:  Goethe bukan saja tokoh maha besar, ia adalah sebuah kebudayaan. Maka, tidak mengherankan jika lembaga kebudayaan Jerman (Goethe-Institut) memakai namanya.

Serangkaian memaknai sumbangsih Johann Wolfgang von Goethe dalam dunia kesusastraan dan karya-karya cemerlangnya, sedini tanggal 19 September sampai dengan 4 Oktober 2019 Berthold Damshäuser, pakar sastra dari Bonn/Jerman, yang juga pemimpin redaksi Orientierungen, sebuah jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia akan berkunjung ke beberapa kota di Indonesia termasuk Bali. Dalam lawatannya kali ini ia juga akan berbagi pandangan dan pemahaman bagi masyarakat sastra di Bali, berlangsung di Bentara Budaya Bali, melalui pembacaan terjemahan Indonesia berbagai puisi Goethe, Berthold akan memberi gambaran tentang pemikiran dan gagasan Goethe.  Program ini bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta.

Ceramah/baca puisi Goethe oleh Berthold Damshäuser akan disusul oleh tanya-jawab/diskusi tentang Goethe, dan bisa juga mengarah ke keadaan dewasa ini yang diwarnai unsur clash of civilisation, termasuk islamofobia sebagai fenomena baru di masyarakat Barat. Yang akan menjadi fokus acara adalah kenyataan bahwa Goethe merasa sangat dekat dengan agama Islam. Ia terkenal dengan ucapannya: “Saya tidak menolak dugaan bahwa saya seorang Muslim.“ 

Sejak muda Goethe tertarik dengan agama Islam. Berumur 22  tahun, Goethe menuliskan himne Mahomets Gesang (Dendang Nabi Muhammad) dan pada saat itu juga mulai menyusun sebuah drama berjudul Mahomet (Muhammad). Kira-kira sejak tahun 1810, Goethe semakin tertarik kepada dunia timur, belajar bahasa Arab dan Persia, membaca lagi Al Quran dan puisi klasik dari Persia (Ferdusi, Rumi dan Hafiz). Pada tahun 1819 ia mempublikasikan kumpulan puisi yang legendaris, yaitu West-Östlicher Diwan (Diwan Barat-Timur), sebuah bukti monumental untuk kecintaannya kepada dunia Timur, termasuk nilai-nilai humanis agama Islam. 

Berbeda dengan Rudyard Kipling yang mengemukakan west is west, east is east, never the twain shall meet; Goethe percaya bahwa Barat dan Timur bukan sesuatu yang bulat dan definitif sehingga pergaulan, pertemuan, dialog, dan pergumulan antara keduanya bukan saja mungkin, melainkan justru harus serta membawa hikmah. 

BERTHOLD DAMSHÄUSER
Lahir 1957 di Wanne-Eickel, Jerman. Sejak 1986 mengajar bahasa dan sastra Indonesia di Institut für Orient und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia) di Universitas Bonn. Pemimpin redaksi Orientierungen, sebuah jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia. Penerjemah puisi Jerman ke bahasa Indonesia dan puisi-puisi Indonesia ke bahasa Jerman. Penyunting antologi puisi Indonesia dan Jerman (bersama Ramadhan K.H.). Bersama Agus R. Sarjono menjadi editor Seri Puisi Jerman yang terbit sejak tahun 2003. Anggota Komisi Jerman-Indonesia untuk Bahasa dan Sastra yang didirikan pada tahun 1997 atas petunjuk Kanselir Jerman dan Presiden Republik Indonesia. Pada tahun 2010 ia dipilih Kementerian Luar Negeri RI menjadi Presidential Friend of Indonesia. Redaktur Jurnal Sajak ini menulis kolom bertemakan bahasa untuk majalah Tempo dan kajian sastra untuk Jurnal Kritik serta forum ilmiah. Karya terbarunya, Sprachfeuer (2015), merupakan antologi besar terjemahan puisi Indonesia modern dalam bahasa Jerman. Pada tahun 2014 dan 2015 ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Pada tahun 2016 telah terbit bukunya Ini dan Itu Indonesia - Pandangan Seorang Jerman, sebuah bunga rampai tulisannya tentang bahasa, sastra dan budaya Indonesia. Penerbit: Komodo Books, Jakarta.

agenda acara bulan ini
  • “A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“ #5

    Komponis Kini 2019 merujuk tajuk “A Tribute to Wayan Beratha“, tidak lain adalah sebuah penghargaan dan penghormatan mendalam kepada maestro gamelan yang karya-karyanya terbilang immortal. Upaya pencarian dan penemuan diri I Wayan Beratha itulah yang diharapkan menjadi semangat program ‘Komponis Kini’ di Bentara Budaya Bali, sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya.

  • FESTIVAL OF INDONESIANITY IN THE ARTS (FIA) #2

    Serangkaian Festival of Indonesianity in The Arts, yang digagas oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Seni Indonesia Denpasar dan bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali, dihadirkan berbagai program seni budaya yang mengelaborasi tajuk “Pengembangan KreativitasSeni dalam Memaknai Peradaban Air Menuju Era Disrupsi“. Ini merupakan desiminasi hasil penelitian, penciptaaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Rujukan tematik tersebut merupakan representasi dari pemahaman terhadap konsep peradaban air yang memiliki peran dalam pengembangan kreativitas seni dalam era disrupsi. Makna disrupsi terjangkarkan menjadi sebuah nilai–nilai keilmuan seni yang terkonsepkan berdasarkan pengembangan kreativitas.
    Eksplorasi kreatif yang panjang dari dosen–dosen sehingga menjadi profesional di bidangnya, merupakan cerminan seorang seniman atau desainer yang mendayagunakan kekuatan intuisi dan imajinasi serta dilandasi oleh proses berpikir kreatif dan holistik. Beragam bidang keahlian yang ditampilkan dalam gelaran desiminasi ini diantaranya seni lukis, fashion, film, desain komunikasi visual, kriya, karawitan, pedalangan serta seni tari. Memperbincangkan kreativitas seni, kriya dan desain pada era desrupsi ini, secara khusus diadakan acara diskusi yang menghadirkan narasumber yang berkompeten dibidangnya. Acara diskusi ini diharapkan dapat memberikan pendalaman wawasan serta pengetahuan yang lebih luas tentang karya–karya seni kreatif sesuai tema yang diusung.