JEJARING BUDAYA MASYARAKAT PEGUNUNGAN BALI

Bali Tempo Doeloe #21

Sabtu, 27 April 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 10.00 WITA

Batur menjadi salah satu wilayah di perbukitan Cintamani yang tercatat dalam prasasti dan lontar yang dimiliki Bali, yaitu Prasasti 001 Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa 804 Saka (19 Januari 882 M). Pada prasasti itu menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bhiku mendirikan pertapaan dan pesraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal (Kintamani). Prasasti ini menjadi penanda penting dan menumental bagi peradaban Bali sekaligus sebagai revolusi aksara yaitu dimulainya peradaban aksara sebagai babakan awal sejarah Bali kuno (Sumarta, 2015: 5). 

Perbukitan Cintamani (Kintamani) menyimpan peradaban masyarakat Bali Aga yang sangat kaya. Keberaksaraan sekaligus peradabab air dimulai di kawasan pegunungan ini. Bentang lahan pertanian yang diairi oleh subak menjadi cikal-bakal peradaban Bali sebelum mengenal pariwisata. Dalam konteks itulah Bali pernah merasakan masa keemasan “kebudayaan pertanian“ yang didukung oleh jaringan sistem komunitas masyarakatnya. Jaringan sistem komunitas inilah yang menopang kebudayaan pertanian dengan jaringan keterikatannya, diantaranya adalah hubungan sosial desa dan banjar, orientasi pura penting, banua, dan sanggah kemulan. Lingkaran jaringan keterikatan inilah yang menaungi sekaligus menggerakkan kehidupan dan mencipta kebudayaan Bali itu sendiri (Bagus, 1993; 2011; Reuter 2002; 2018).

Menoleh ke Batur dan gugusan desa-desa Bali Aga di perbukitan Cintamani, kita akan dibawa untuk menyelami jejaring masyarakat Bali Aga di pegunungan yang terkikis oleh hegemoni peradaban Bali Selatan (Reuter, 2002). Jejaring peradaban di kawasan Danau Batur, yang disebut daerah Wintang Ranu menciptakan Banua yang berorientasi kepada pura penting, diantaranya Pura Ulun Danu Batur dan Pura Penulisan. Belum lagi kita akan mengenal istilah Gebog Domas dan Bantun Sendi untuk menyebutkan jaringan penyokong pura penting di kawasan Cintamani dengan berbagai ritualnya. Secara khusus, denyut peradaban air yang berorientasi ke Danau Batur dan Pura Ulun Danu Batur menciptakan Pepasihan, aliansi jejaring Subak yang memohon kesuburan lahan pertanian mereka melalui tirta dari Batur. Jaringan Pepasihan inilah yang menghubungkan Pura Ulun Danu Batur dengan 45 subak di Bali. 

Diskusi akan menghadirkan dua pembicara yang merupakan generasi muda yang memberikan perhatian terhadap narasi ekologi dan jaringan kebudayaan pada masyarakat Bali Aga di kawasan perbukitan Cintamani, yakni I Putu Eka Guna Yasa (Dosen Program Studi Jawa Kuno, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Udayana) dan I Ketut Eriadi Ariana (Anak muda Batur dan jurnalis). Akan dibincangkan pula keberadaan sejumlah terbitan yang mencerminkan geliat anak muda Batur pada jejak peradaban dan budaya mereka sendiri, diantaranya buku Jejak Peradaban di Kaki Gunung Batur (2018). Setelah itu, mereka-dengan dukungan penglingsir (tetua) dan Usaha Druwe Desa Batur (perusahaan Desa Batur)- menerbitkan Majalah Batur, Kata Penyambung Peradaban, yang hingga kini sudah terbit dua edisi (2018 – 2019).

Program ini merupakan kerja sama Bentara  Budaya Bali dengan Majalah Batur, Batur Voulenter, dan Batur Natural Hot Spring. 

Bali Tempo Doeloe adalah sebuah agenda yang memutar seri-seri dokumenter tentang Bali Tempo Doeloe, dipadukan dengan diskusi bersama para pengamat dan pemerhati budaya, dalam memaknai perubahan kondisi Bali dari masa ke masa. Dialog berkala dan berkelanjutan yang telah digelar sedari tahun 2013 ini tidak hanya mengetengahkan sisi eksotika dari Bali masa silam, melainkan juga menyoroti problematik yang menyertai pulau ini selama aneka kurun waktu, termasuk kemungkinan refleksinya bagi masa depan. Beberapa tematik yang pernah dihadirkan dalam program ini antara lain: “Denpasar Dalam Tantangan Zaman“, “The Gods Of Bali: Antara Ritual Sakral Dan Pertunjukan Profan“, “Gema Gamelan Bali ke Masa Depan“, “Citra Dalam Sinema“, “Rudolf Bonnet dan Arie Smit: Cerita Seni Rupa Bali“, “Mistis dan Turistik Bersisian di Nusa Penida“, “Bioantropologi: Tenganan Pegringsingan Dalam Dua Perspektif“, “Jejak DAS Pakerisan Dalam Arkeologi dan Seni“, dan lain-lain.

agenda acara bulan ini
  • SOSOK ANAK DALAM ANIMASI

    Sinema Bentara kali ini mengetengahkan film-film animasi terpilih yang mengangkat sosok anak sebagai fokus utama kisahannya. Bukan semata hal-hal lucu dan jenaka yang mengemuka, namun juga sisi-sisi pilu yang mengharukan serta mengundang pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan, kejujuran, hingga kesetiakawanan.

  • CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

    I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.