Jazz Mben Senen edisi Februari 2020

3, 10, 17, 24 Februari 2020

Senin, 03 Februari 2020 Bentara Budaya Jakarta | 20.00 WIB

Ada yang istimewa dalam perhelatan Jazz Mben Senen edisi Februari 2020 kali ini. Tepatnya pada 17 Februari 2020 akan diselenggarakan syukuran atas sepak terjang mereka selama sepuluh tahun terakhir. Ya, sudah satu dasawarsa mereka setia menampilkan musik-musik jazz di halaman Bentara Budaya Yogyakarta dan selama kurun waktu itu pula mereka hadir merangkul sedemikian banyak komunitas musik jazz di Yogyakarta sesuatu hal yang tentu patut dimaknai dan dirayakan bersama. Jazz Mben Senen diprakarsai pada mulanya oleh Djaduk Ferianto (alm.) bersama Adjie Wartono serta para musisi Jazz di Yogyakarta. Karena merekalah maka program ini dapat terus bergulir dan tentunya syukuran JMS pada 17 Februari 2020 besok sekalian pula untuk mengenang sosok Mas Djaduk Ferianto berikut karya serta karsanya yang sangat berarti bagi kehidupan musik jazz, bukan hanya di Yogya, melainkan pula di Indonesia. 


agenda acara bulan ini
  • WHEN I'M 64

    Agus Leonardus, fotografer kenamaan kelahiran 11 November 1955, memamerkan sepilihan karya fotonya yang diprotret seiring puluhan tahun perjalanan karir fotografinya. Belum lama dia juga menerbitkan buku foto ‘When I’m 64’ (Nineart Publishing, 2019) yang memuat foto-foto yang diambil di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar negeri.

    Fotografi di dunia digital memang menjanjikan sedemikian rupa kemudahan. Teknologi yang begitu maju memungkinkan fotografer mengeksplorasi teknik demi menghasilkan foto terbaik. Akan tetapi, menurutnya, foto dengan kecakapan teknik saja tetaplah tidak cukup demi menghadirkan karya yang bernilai. Ada nilai maupun makna yang tetap penting dikedepankan.

  • JOGJA KOTA TOLERAN

    Diskusi ini merupakan rangkaian dari peluncuran buku esai “Menangkis Intoleransi Melalui Bahasa dan Sastra“ yang belum lama diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sebagai respons atas munculnya berbagai peristiwa intoleransi di kota ini. Buku esai ini merangkum tulisan berbagai penulis muda yang menuangkan beragam perspektifnya atas fenomena sosial budaya di sekitarnya, dengan penyunting antara lain Ratun Untoro, Mulyanto, Latief S. Nugraha.

    Adapun diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan DIY ini bertujuan untuk memahami lebih jauh kondisi sosial budaya di Yogya. Benarkah Jogja masih dianggap sebagai kota toleran? Apakah yang menyebabkan munculnya peristiwa-peristiwa intoleransi akhir-akhir ini dan bagaimana kita dapat kembali menciptakan ekuilibrium alias keseimbangan dalam berkehidupan sosial budaya?