Jazz Mben Senen

6 Mar 2017 ~ 27 Mar 2017 Bentara Budaya Yogyakarta | 20.00 WIB

Tanggal 6, 13, 20, 27 Maret 2017


Jazz Mben Senen hadir di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta setiap hari Senin malam, mulai pukul 20.00 WIB. Kerja sama dan keakraban anggota komunitas jazz sungguh tampak. Mereka secara bergantian  menata peralatan sound dan alat musik, mendata kelompok yang akan tampil, dan ada juga yang menggalang dana untuk kas dengan berjualan kaos dan merchandise lainnya. Selesai pentas pun, mereka mengembalikan alat-alat musik dan membersihkan tempat pertunjukan secara bersama-sama. Para pecinta jazz yang hadir untuk ngejam atau sekadar menikmati musik jazz di Senin malam, selain memperoleh hiburan juga mendapatkan kawan.  Berkesenian, dan sekaligus berkawan. Kadangkala, Jazz Mben Senen kedatangan musisi dari daerah atau bahkan luar luar negeri, atau bahkan menjadikannya sebagai salah satu tempat konser mereka di Yogyakarta. 

agenda acara bulan ini
  • WHEN I'M 64

    Agus Leonardus, fotografer kenamaan kelahiran 11 November 1955, memamerkan sepilihan karya fotonya yang diprotret seiring puluhan tahun perjalanan karir fotografinya. Belum lama dia juga menerbitkan buku foto ‘When I’m 64’ (Nineart Publishing, 2019) yang memuat foto-foto yang diambil di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar negeri.

    Fotografi di dunia digital memang menjanjikan sedemikian rupa kemudahan. Teknologi yang begitu maju memungkinkan fotografer mengeksplorasi teknik demi menghasilkan foto terbaik. Akan tetapi, menurutnya, foto dengan kecakapan teknik saja tetaplah tidak cukup demi menghadirkan karya yang bernilai. Ada nilai maupun makna yang tetap penting dikedepankan.

  • JOGJA KOTA TOLERAN

    Diskusi ini merupakan rangkaian dari peluncuran buku esai “Menangkis Intoleransi Melalui Bahasa dan Sastra“ yang belum lama diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sebagai respons atas munculnya berbagai peristiwa intoleransi di kota ini. Buku esai ini merangkum tulisan berbagai penulis muda yang menuangkan beragam perspektifnya atas fenomena sosial budaya di sekitarnya, dengan penyunting antara lain Ratun Untoro, Mulyanto, Latief S. Nugraha.

    Adapun diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan DIY ini bertujuan untuk memahami lebih jauh kondisi sosial budaya di Yogya. Benarkah Jogja masih dianggap sebagai kota toleran? Apakah yang menyebabkan munculnya peristiwa-peristiwa intoleransi akhir-akhir ini dan bagaimana kita dapat kembali menciptakan ekuilibrium alias keseimbangan dalam berkehidupan sosial budaya?