JAIS DARGA NAMAKU

Bincang Buku, Baca Puisi, Monolog hingga Peseduluran Musik

Kamis, 27 Desember 2018 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“. 

Dengan demikian, buku ini tak hanya berkisah perihal Jais Darga, tapi juga mengisahkan pergulatan hidup seorang perempuan, seorang anak, seorang istri dan ibu. Berbaur dengan ambisi dan pergulatannya dalam dunia bisnis, ada banyak lapisan kisah yang tersimpan. Kisah perempuan dalam kesepiannya, kegelisahannya, kesakitan, pengkhianatan, dan penghinaan. Seluruh lapisan kisah berpusat pada ambisi serta pergulatannya mempertahankan kedaulatan dirinya. Bukan dalam dunia bisnis belaka, tapi juga terhadap kuasa lelaki. Termasuk kedaulatannya atas tubuh dan bagaimana kuasa itu dihadapinya, seperti dikatakan Jais Darga, “Aku tidak merasa dilahirkan sebagai perempuan, tapi terpilih sebagai perempuan.“

Melalui program Pustaka Bentara kali ini, bekerja sama dengan penerbit KPG, akan ditelisik perihal keberadaan buku “Jais Darga Namaku“, sekaligus menguraikan pencapaian susastranya, berikut kerumitan yang menyertai proses penulisannya. Sebagai narasumber yakni penyair dan pemerhati seni budaya Nirwan Dewanto, dan penulis buku, Ahda Imran. Memaknai kehadiran buku, akan dipersembahkan juga fragmen monolog, pembacaan puisi, hingga pertunjukan musik terpilih; keseluruhannya diniatkan sebagai silahturahmi dan kehangatan peseduluran. 

Ahda Imran lahir 10 Agustus 1966 di Kanagarian Baruhgunung, Sumatera Barat. Menulis puisi, cerpen, novel, drama, kritik, dan esai. Antologi puisi tunggalnya yang telah terbit, Dunia Perkawinan (1999) dan Penunggang Kuda Negeri Malam (2008), Rusa Berbulu Merah (2014). Karya monolognya yang telah dipentaskan, “Inggit" dan “Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah“, juga “Monolog Empat Perempuan“ yang ditulis bersama Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu. Bersama Agus Noor dan Hasan Aspahani ia menulis lakon “Perempuan-perempuan Chairil“. Ia menyunting sejumlah buku antologi; Muktamar, Kumpulan Puisi Penyair Jawa Barat (2003); Aku Akan Pergi ke Banyak Peristiwa, Kumpulan Puisi 9 Penyair Iawa Barat (2005); Di Atas Viaduct (Bandung Dalam Puisi Indonesia) (2009). Tulisannya berupa feature, esai, dan kritik termuat dalam sejumlah buku bunga rampai, 5 Tahun Teater Unlimited, Jaipongan dan Gugum Gumbira, 100 Ikon Bandung (Pikiran Rakyat, 2011), Kaleidoskop Seni Indonesia 2011 (Dewan Kesenian )akarta, 2012), Dasasila Bandung, Dulu dan Kini (2015).

Nirwan Dewanto adalah seorang sastrawan, penulis seni rupa. Pernah menjadi redaktur majalah Kalam bersama sastrawan Goenawan Mohamad. Pada tahun 1996 menerbitkan koleksi esai yang diberi judul Senjakala Kebudayaan. Ia pernah menempuh sejumlah program residensi, antara lain di International House di Tokyo, Jepang; University of Wisconsin di Madison, Wisconsin, USA; International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, USA. Buku terbarunya adalah Museum of Pure Desire (2017) & Buku Merah (2017) & Buku Jingga (2018). Buku puisinya, Jantung Lebah Ratu (2008) & Buli Buli Lima Kaki (2010) meraih Khatulistiwa Literary Award, serta the Origin of Happiness (terjemahan dalam bahasa Inggris dan Jerman). Pada tahun 2012 Nirwan berperan sebagai Uskup Agung Semarang, Albertus Soegijapranata, dalam film Soegija yang disutradarai Garin Nugroho.