INTEGRASI

Pameran Seni Rupa karya Andri Andriyani (Belanda), Lili Voigt (Jerman), Daniel Kho (Jerman), Yudi Noor (Jerman), dan Ito Joyoatmojo (Indonesia)

Kamis, 09 Januari 2020 Bentara Budaya Jakarta | 19.30 WIB

Pengantar :
Asmujo

Pembukaan Pameran :
Kamis, 9 Januari 2020
Pukul 19.30 WIB

Rangkaian Acara :
Artist Talk
Moderator : Asmujo (Kurator Seni)
Jumat, 10 Januari 2020
Pukul 14.00 WIB

Pameran Berlangsung:
10 Januari – 15 Januari 2020
Pukul 10.00 – 18.00 WIB

Seluruh rangkaian acara GRATIS dan terbuka untuk umum.

Di Bentara Budaya Jakarta
Jalan Palmerah Selatan  no.17 Jakarta 10270
021-5483008 ext 7910 – 7919
www.bentarabudaya.com

Mengawali tahun 2020, Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran seni rupa yang bertajuk Integrasi pada tanggal 10 - 15 Januari 2020 pukul 10.00 – 18.00 WIB. Pameran dibuka pada hari Kamis, 9 Januari 2020 pukul 19.30 WIB. Pameran “Integrasi“ ini akan menampilkan karya dari seniman-seniman Indonesia, Jerman, dan Belanda yaitu ; Andri Andriyani, Lili Voigt, Daniel Kho, Yudi Noor, dan Ito Joyoatmojo. Selain pameran, akan diadakan pula Artist’s Talk pada hari Jumat, 10 Januari 2020 pukul 14.00 WIB di Bentara Budaya Jakarta.

Integrasi dalam kebudayaan dapat dimaknai sebagai proses penyatuan berbagai macam identitas kebudayaan tanpa harus menghilangkan ciri dari budaya tersebut. Kata “Integrasi“ ini dianggap tepat untuk menggambarkan seniman-seniman ini. Sebagian besar dari mereka adalah seniman Indonesia yang pernah mengalami hidup di negara lain sebagai imigran. Tentu pengalaman hidup mereka sebagai imigran dan berinteraksi dengan kebudayaan-kebudayaan berbeda akan berpengaruh dalam proses serta hasil karyanya.

Di dalam dunia seni rupa, dikenal adanya program residensi. Program ini memungkinkan para seniman untuk berproses dan menampilkan karyanya dalam jangka waktu tertentu di suatu tempat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Saat ini, program residensi Internasional cukup populer dan didukung oleh banyak negara sebagai upaya untuk membangkitkan pengertian dan toleransi antar budaya yang berbeda. Karya-karya seniman ini acapkali menjadi representasi dari identitas kebangsaan bahkan advokasi terhadap situasi intoleran yang banyak dialami oleh kelompok minoritas.

Karya dari Daniel Kho, seniman yang saat ini tinggal di Bali dan sering menetap di Jerman dan Spanyol, akan mengingatkan kita pada figure totem atau mitologis dalam balutan warna-warna pop. Berbeda dengan karya dari Ito Joyoatmojo, Ito memilih menampilkan gambar-gambar makanan dalam karya-karyanya. Agaknya ia memaknai makanan ini dapat digunakan sebagai alat untuk integrasi kebudayaan.

Konfigurasi eklektik benda-benda dan imaji dipilih oleh Yudi Noor, seorang seniman Indonesia yang tinggal di Jerman, untuk membangun narasi yang berkaitan dengan identitas dan problem integrasinya. Andri Andriyani mencoba mengetengahkan problema identitasnya sebagai imigran Jawa dalam foto dengan bentuk instalatif. 

Sebagai satu-satunya seniman yang mewakili persepsi kelompok mayoritas yang negerinya diserbu oleh kaum imigran, Lili Voight menampilkan karya-karya foto dalam bentuk poster untuk berbicara mengenai identitas dan ekses dari arus manusia yang saat ini mudah berpindah.

Tema integrasi ini dapat dikaitkan dengan posisi seni rupa kontemporer dalam masyarakat di Indonesia. Asmujo, penulis dari pameran ini mengatakan dalam pengantarnya,“Praktek seni rupa kontemporer di Indonesia masih belum terintegrasi dengan masyarakat kebanyakan. Pameran seni rupa kontemporer masih belum terjangkau oleh masyarakat. Akibatnya karya-karya seni rupa kontemporer kurang memberikan kontribusi yang dapat memicu dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bisa memandang persoalan secara canggih dan sikap toleransi.“

Bentara Budaya Jakarta pada kesempatan kali ini ingin berbagi ruang bagi seniman-seniman kontemporer untuk bisa menampilkan karyanya ke khalayak ramai. Ika W Burhan, Ketua Pengelola Bentara Budaya Jakarta, mengatakan “Daniel Kho dkk mencoba merespon sebagai seniman yang sering mengembara dan nomaden dalam jangka waktu puluhan tahun di tempat asing,  integrasi di setiap tempat yang mereka tuju menjadi hal yang sangat penting.Itu salah satu cara bagi mereka untuk bisa “survive“. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Adaptasi kuncinya. Menyesuaikan diri dengan sekitar mulai dari makanan hingga pergaulan. Penyesuaian ini terkadang tidak hanya melulu fisik, tapi juga mindset, pengambilan keputusan, gaya hidup, bahkan beberapa mempengaruhi pola berfikir mereka tentang filosofi, humanity dan keyakinan yang mereka anut.“

agenda acara bulan ini
  • PROFESI DAN PUISI

    Sajak Selasa merupakan program apresiasi puisi dan kolaborasinya ke dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bersama Komunitas Bentara Muda. Selain menampilkan pertunjukan lintas bidang antara puisi, musik, rupa, fotografi, multimedia, maupun paduannya dengan seni-seni tradisi seperti tari dan karawitan, acara ini juga terbuka bagi siapa saja untuk membacakan puisi karyanya sendiri.