IBU RUPA BATUAN

Pameran Kelompok Perupa Batuan

Minggu, 08 September 2019 Bentara Budaya Bali | 18.30 WITA

Pembukaan: Minggu, 8 September 2019, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung: 9-18 September 2019, pukul 10.00-18.00 WITA

Tanah dalam filosofi Bali juga dimaknai sebagai ibu pertiwi. Begitu pula dengan air dikaitkan dengan simbol pemelihara kehidupan, sesuatu yang bersifat feminim. Dan, ibu adalah sebuah kata yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Secara biologis, ibu adalah sosok yang melahirkan atau membuat kita ada di dunia ini. Ibu juga adalah sosok yang mengasuh dan membesarkan kita. Ikatan batin antara ibu dan anak merupakan suatu keniscayaan, yang tidak akan luntur digerus waktu. Ini adalah tema pameran lintas generasi  yang merujuk tajuk “Ibu Rupa Batuan“. 

Pameran karya-karya seniman Desa Batuan lintas generasi kali ini tergolong akbar menampilkan 76 karya seniman. Ada 52 karya seni lukis dan 24 karya seni topeng. Tidak hanya menampilkan karya generasi terkini, namun juga karya generasi terdahulu. Generasi tertua adalah Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001). Sementara generasi termuda adalah I Wayan Aris Sarmanta (1995).  Sebagai kurator yakni I Wayan ‘Jengki’ Sunarta. 

Konsep “ibu“ juga sering dikaitkan dengan “air“. Secara biologis, dengan air susu, sang ibu mengalirkan kehidupan kepada anak-anaknya. Secara kosmologis, di Bali, sosok ibu dikaitkan dengan mata air atau sumber air, seperti danau, sungai. Di Bali ada sebutan Dewi Danu untuk menghormati energi niskala yang menguasai danau. Dalam konsep Tri Murti, Bali mengenal Dewa Wisnu, penguasa air dan pemelihara kehidupan dengan saktinya Dewi Sri yang sering dikaitkan dengan padi dan simbol kesuburan. Bahkan sebelum bernama Agama Hindu-Bali, masyarakat Bali telah menganut sebuah keyakinan yang disebut Agama Tirtha. Tirtha adalah air suci. Berdasarkan hal itu, bisa dikatakan bahwa “tanah, air, dan ibu“ adalah suatu keutuhan yang tidak bisa dipisahkan, menjadi muasal lahirnya berbagai peradaban.

Kata atau konsep “ibu“ juga dipakai dalam konteks sosial-budaya-religi untuk memaknai suatu pusat, ikatan, atau muasal. Di Bali, misalnya dikenal konsep “pura ibu“ atau “paibon“ atau “kawitan“ yang menandakan bahwa pura itu terkait dengan ikatan keluarga besar dari satu trah atau satu muasal. Dalam tataran yang lebih luas, bumi (tanah dan juga air) sering disebut sebagai “ibu pertiwi“ di mana setiap penghuninya saling memiliki keterkaitan, berada dalam satu kesatuan kosmologi. Kehancuran “ibu pertiwi“ (tanah dan air) berarti kehancuran bagi semua mahkluk hidup. Maka, menjaga ibu adalah menjaga ikatan buana alit (manusia) dan buana agung (bumi dan semesta) demi berlangsungnya kehidupan.

Pameran seni lukis dan topeng gaya Batuan kali ini adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap “tanah, air, dan ibu“. Desa Batuan sendiri sejak zaman kerajaan telah dikenal sebagai salah satu pusat peradaban di Bali. Desa ini telah melahirkan banyak seniman mumpuni dalam berbagai bidang seni, seperti lukis, patung, tari, topeng. Untuk seni lukis tradisional gaya Batuan sendiri telah diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Seni lukis diwakili oleh karya-karya Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001), Ketut Tomblos (1922-2009), Wayan Punduh (1923-2011), Wayan Regug (1927-), Dewa Kompyang Pasek (1928-2009), I Wayan Taweng (1929-2004), I Wayan Kabetan (1931-2006), Mangku Made Budi (1932-2017), Mangku Nyoman Barak (1935-2009), Made Tubuh (1942), I Ketut Manggi (1942),  I Wayan Rajin (1945-2000), Ketut Reta (1949), I Wayan Bendi (1950), I Ketut Murtika (1952), Ida Bagus Asta (1954), Gusti Ngurah Muryasa (1958), I Wayan Warsika (1959), Ketut Suarnawa (1959), Dewa Putu Arsania (1960), I Made Nyana (1960), I Made Renanta (1962), I Wayan Malik (1963), Gusti Ayu Natih Arimini (1963), I Made Sujendra (1964), Dewa Ketut Tilem (1965), I Nyoman Toyo (1966), I Nyoman Marcono (1966), Nyoman Sudarsana (1966), I Ketut Sadia (1966), Pande Made Martin (1967), I Nyoman Kastawa (1970), I Ketut Balik Parwata (1971), Ida Bagus Putu Padma (1972), I Wayan Dana Wirawan (1974), I Nyoman Selamet (1974), Dewa Nyoman Martana (1976), I Wayan Diana (1977), I Nyoman Sudirga (1979), I Made Griyawan (1979), I Made Karyana (1981), Dewa Made Virayuga (1981), I Gede Widyantara (1984), I Wayan Eka Mahardika Suamba (1985), Nyoman Nurbawa, Gusti Ngurah Agung, Ida Bagus Ketut Karunia, Wayan Win, I Made Suteja,  I Wayan Aris Sarmanta (1995).

Seni topeng diwakili oleh karya-karya  I Made Regug (1939), I Made Sama,  I Made Degus Armawan, I Made Rudi, I Nyoman Koto, I Nyoman Jaya, I Ketut Mujiarta, I Nyoman Selamet, I Made Muji, I Nyoman Ruka, I Wayan Murda, I Wayan Dawig, Made Warja, Dewa Made Sumerta, I Wayan Suwija, I Made Wirda, I Ketut Mendra, I Made Ardita, I Wayan Sudiarsa, I Nyoman  Lanus, I Nyoman Budi, I Nyoman Maji, Ketut Wirtawan, Dewa Made Virayuga (1981). Dewa Made Virayuga dan Nyoman Selamet  menampilkan karya lukis dan topeng.