FRAGMEN KEBINGUNGAN-KEBINGUNGAN KITA

Sorot Kelir Bentara

Rabu, 30 Januari 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Sorot Kelir Bentara

Diskusi Film Bersama: Sonkski Ekalya Mardika & Rachmat Hidayat Mustamin 
Moderator: Zen Al Ansory


Kehidupan kita kini barangkali hamparan kebingungan-kebingungan. Muda dan jadi mahasiswa sejak mula tak cuma karib dengan hal-hal akademis berlabel jaminan masa depan terang benderang. Sepertinya tak utuh jadi kaum kampus kalau tak terlibat keseruan-kekisruhan asmara. Mahasiswa meloloskan diri. Menjadi pekerja tak ubahnya sebentuk pemenjaraan diri, tak jarang perlu menahan atau memendam dalam-dalam naluri kreativitas diri demi kepuasan pemilik modal. Segala upaya menghimpun uang dilakukan, kita terpaksa melupakan hal-hal di luar itu. Menggadaikan harga diri, menjerumuskan diri dalam perdagangan barang terlarang, dan lain sebagainya. Kendatipun demikian, selalu ada diri kita yang lain, yang sejatinya tak lelah menjaga kesadaran primordial. Ialah yang menghadirkan keawasan-kewarasan yang tak melulu berhasil tertangkap mata telanjang. 

Sebagai penduduk urban dengan akses informasi yang relatif lebih mudah, kebingungan-kebingungan justru acapkali muncul. Manusia dituntut bergegas dalam segala lini kehidupan, jika terlena ia tentu mudah tergilas. Orang-orang terus berdebat pandangan, menunjukkan keunggulan diri masing-masing. Memperkarakan apa saja. Mengoreksi apa saja. Perkara bisa muncul di mana saja, di gerbong kereta cepat, di pesta pernikahan, di jalan raya, di bus kota subsidi pemerintah.  Delapan film yang akan diputar dalam Sorot Kelir Bentara di Bulan Januari 2019 tak lain ialah fragmen-fragmen kebingungan hidup yang kiranya perlu kita amati. Tsah!

1. Rerasan (Indonesia, 2018, Durasi: 9.8 menit, Sutradara Dito Ardhi Firmansyah & Bagus Pangaribowo)
Dua pemuda bertemu di sebuah kedai lalu saling bertukar cerita soal kuliah dan asmara. Mereka memainkan objek-objek di atas meja sebagai upaya transaksi antara hasrat, jenuh, bosan, dan kehidupan tanpa ekspektasi. Di akhir shot, dua perempuan memasuki bingkai untuk menawarkan jawaban alternatif atas obrolan dari pertanyaan-pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya sedari tadi.

2. Terpidana Mati (Indonesia, 2018, Durasi: 15 menit, Sutradara: Muhammad Sabri)
Seorang tahanan melakukan live/siaran langsung di Instagram setelah ia divonis hukuman mati. Alih-alih menyebutkan permintaan terakhirnya di ruang publik, ia justru mengkritik situasi politis yang tak dapat ia jangkau di luar dirinya (jeruji besi, kematian, narkoba, HAM) dan di dalam dirinya (narcissistic personality disorder). Shot ini berusaha melakukan intervensi tubuh dengan medium sehari-hari, tapi dengan bahasa yang akut serta irama suara karakter yang cenderung performative. 

3. Ia (Indonesia, 2018, Durasi 6.56 menit, Sutradara: Adi Gunawan)
Percakapan seorang ilustrator dengan beberapa kliennya berakhir kekesalan nan jenaka melalui spontanitas dialog dan spontanitas gambar pada layar kedua. Shot ini adalah kritik perihal keresahan sekaligus ketidakmampuan untuk berkata ‘tidak’, terutama di lingkup kerja. Pada akhirnya si ilustrator membujuk diri sendiri dalam proses tawar-menawar estetik dengan kliennya. 

4. Dua Altar (Indonesia, 2018, Durasi: 4.17 menit, Sutradara: Zen Al Ansory)
Selain merayakan performatifitas, shot ini merupakan upaya untuk menguliti lapisan-lapisan tubuh beserta nilai-nilai yang disematkan padanya, kemudian meleburkannya pada batas maskulin dan feminin dalam satu bingkai. Tubuh-tubuh dibidik oleh kamera kemudian direpresentasikan oleh citra baru pada layar di dalam shot. Kamera bekerja sebagai subjek yang membangun keintiman sendiri pada acara pernikahan.

5. Mengantar Pengantin Kahwin (Indonesia, 2018, Durasi 3.11 menit, Sutradara: Haediqal Pawennei)
Kamera berada di ruang tengah: membidik lautan, langit dan arus gelombang. Shot ini berupaya membawa penonton mengalami tekstur tekstur rasa, atau malah rasa sebagai arsitektur yang melingkupi penonton, dalam usahanya berfungsi menjadi wadah untuk menopang ketakutan juga kegelisahan yang ditampung oleh sepasang kekasih di tengah lautan.

6. Daily Sydney Train (Indonesia-Australia, 2018, Durasi: 4.13 menit, Sutradara: Russel Bumak)
Pada mulanya hanya pantulan citra melalui poster dalam bingkai kaca, lalu kamera mengikuti sepasang kaki yang memasuki kereta. Kamera melangkah dan berperan sebagai kaki yang merekam: sepatu, garis, pintu, ruang imaji pada jendela kereta dan lanskap kota. Shot ini sempat beralih ke pasang kaki dan punggung orang lain, tapi kemudian kembali untuk suatu motif yang belum jelas.

7. Parole (Indonesia, 2018, Durasi: 4.43 menit, Sutradara: Ummu Amalia M)
Di tepi jalan, sekelompok remaja mengarahkan dan memotret dua orang ibu dan seorang anak yang berkebutuhan khusus. Shot ini adalah pernyataan sekaligus pertanyaan kolektif: manusia pincang tanpa ingatan dan kenangan yang ia bawa. Shot ini merupakan contoh yang baik untuk menyatakan bahwa infrastruktur kota yang dibangun oleh pemerintah tidak berpihak pada orang-orang yang berkebutuhan khusus. 

8. ЧТО ОНИ ОСТА�’ИЛИ… (Rusia, 2018, Durasi: 4.30 menit, Sutradara: Ijal Juanda)
Kamera merekam Rusia di waktu pagi. Dengan cahaya matahari berbalik menghadapi kamera. Orang-orang mengenakan tubuh biasa sibuk lalu lalang, dan tampak sebuah zebra cross. Shot ini merupakan upaya untuk melihat transisi waktu sebagai tafsir politis: masyarakat Rusia masih hidup sebagai masyarakat komunal meski Uni Soviet pupus sejak 1991.