FENOMENA FORMALISTIK SENI RUPA KITA

Timbang Pandang

Minggu, 04 September 2016 Bentara Budaya Bali | 18:30 WITA

Sejarah seni rupa Indonesia ditandai aneka dinamika dan perubahan, meliputi pergulatan pemikiran, gagasan maupun pada praktik penciptaan. Periode Perintis (1826-1880) oleh perupa Raden Saleh, kemudian periode Moei Indie, dengan seniman seperti Abdullah Surio Subroto, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah, Wakidi, dan lain-lain. Lahir Persagi di masa pergolakan nasional dengan seniman pelopor antara lain S. Sudjojono, Affandi, dkk, berlanjut hingga ke masa pendudukan Jepang; lalu periode Akademi (1950); dinamika tahun 60-an, hingga tampilnya Seni Rupa Baru (1974). 

Dipicu oleh kemajuan teknologi, di mana segala informasi  hadir seketika dan serentak di ruang publik maupun pribadi, lahirlah fenomena seni rupa kontemporer, yang bahkan belakangan ini menghadirkan pula bentuk-bentuk visual formalistik dan fundamentalistik bernada agama, berikut kosa kata dan gestur tubuh yang massif. 

Fenomena itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak belahan negeri lain, di mana seni rupa seakan berbenturan pandangan dengan keyakinan-keyakinan religius; tecermin adanya larangan-larangan terhadap karya-karya yang dianggap melecehkan atau menista keyakinan atau kepercayaan tertentu. Bila pada mulanya seni rupa adalah ekspresi religius, kenapa kemudian yang muncul justru pertentangan antara keduanya? Lalu mengapa pula gejala fundamentalis kian meluas dalam masyarakat kita? Bagaimana pula praktik seni rupa di tengah gejala semacam itu?

Acara timbang pandang kali ini mengundang dua narasumber, yakni Wicaksono Adi dan I Wayan Seriyoga Parta yang mencoba mencari jawab atas fenomena tersebut. Wicaksono Adi, kritikus dan kurator seni rupa serta penyair, akan menelisik dan menelusuri akar paradigma, terutama dari dasar dan posisi doktrin terkait bentuk-bentuk simbolik religius dan kecenderungan formalisme dimaksud, merunut sejarah perkembangannya, baik dalam seni religius tradisional pada masa awal masehi hingga masa modern dan kontemporer.

I Wayan Seriyoga Parta, kritikus, kurator dan akademisi, akan mempresentasikan hasil kajiannya bersama Gurat Institute perihal seni dalam balutan religi di Bali, yang ditandai adanya persilangan yang eklektik secara evolutif dari sistim kepercayaan lama (prasejarah) yang kemudian bertemu dengan berbagai sistim kepercayaan. Awalnya, seni-seni di Bali adalah hasil karya yang bersifat kolektif, Dewa-dewa para penjaga sembilan penjuru mata angin, Raksasa, dan epos filosofis dalam kitab Itihasa; Ramayana dan Mahabarata dalam bentuk lukisan dan relief ukiran yang dibuat oleh para sangging. Seriyoga Parta juga akan menelisik fenomena seni rupa kontemporer Bali, yang boleh jadi merupakan cerminan transformasi sosial kultural masyarakat. 

Melalui timbang pandang kali ini diharapkan hadir satu pemahaman yang holistik terhadap dinamika terkini seni rupa kita guna mendorong atmosfer penciptaan yang lebih sehat dan kreatif, ditandai tumbuhnya kesadaran toleransi yang tinggi dan penghormatan pada keragaman tecermin pada buah cipta mereka.

Wicaksono Adi, penulis esai seni-budaya, lahir di Malang, Jawa Timur, Indonesia, 18 September 1966. Menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia, juga di Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia, keduanya di Yogyakarta. Tahun 1990-1998 menjadi kontributor surat kabar Jawa Pos. Tahun 2005-2007 menjadi Direktur Program pada Yayasan Seni Rupa Indonesia, Jakarta. Tahun 2007-2009 mendirikan Majalah Film F, dan bertindak sebagai pemimpin redaksinya. Selain menulis esai dan artikel kebudayaan juga menjadi kurator pameran seni rupa dan mengeditori buku-buku seni-budaya Indonesia. Kini menetap di Jakarta, bekerja sebagai penulis lepas di berbagai media massa perihal kebudayaan dan seni. Ia salah satu pendiri dan kurator Borobudur Writers & Cultural Festival yang diselenggarakan setiap tahun di Boroburur, Jawa Tengah, Indonesia.

I Wayan Seriyoga Parta, M.Sn. Lahir di Tabanan Bali 1980, mengawali karir dibidang seni rupa dari mengelola program di Komunitas Klinik Seni Taxu dan menjadi redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch periode tahun 2004-2005. Sejak tahun 2006 menjadi staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo; latar belakang pendidikan: S1 di STSI/ISI Denpasar, S2 di ITB Bandung dan penah mengenyam pendidikan S3 di ISI Yogyakarta. Selain mengajar juga aktif melakukan penelitian seni rupa dan kebudayaan. Esai-esainya khususnya dibidang seni rupa telah dimuat di berbagai media media massa dan majalah seni seperti, majalah seni: Suardi, Visual Art, Arti, Galeri Galnas Jakarta. Berbagai karangan ilmiahnya telah diterbitkan dalam jurnal seni: Jurnal Mudra ISI Denpasar, Jurnal Ars FSRD ISI Yogyakarta, Jurnal Visual Art FSRD ITB Bandung, Jurnal Imaji FBS UNY Yogyakarta, Jurnal Prasi UNDIKSA Singaraja. Serta dalam prosiding seminar seni nasional maupun regional. Menjadi pembicara dalam acara-acara diskusi, senimar, sarasehan tingkat nasional. Juga kerap terlibat dalam kepanitian dan sebagai narasumber untuk penyelenggaraan kegiatan seni rupa tingkat nasional seperti: Bali ACT: Art in Culture and Tradition 2013 diselenggarakan oleh Direktorat Pengembagan Seni Rupa–DIRJEN Ekonomi Kreatif Berbasisi Seni Budaya, PAREKRAF-RI. Terlibat dalam kepanitian acara Seminar Estetika dan Filsafat Seni #2 di tiga kota Bali, Yogyakarta dan Bandung program Galeri Nasional, dan menjadi editor buku Prosiding Seminar di Bali. Tulisannya juga telah dimuat dalam buku “Arie Smit a Living Legend“ tahun 2011, menulis buku “Salvation of the Soul Nyoman Erawan“ tahun 2012 bersama penulis Rizki A. Zaelani. Penulis dan Editor buku “Lempad for The World“, penerbit Dewangga House of Lempad Ubud tahun 2014, Penulis dan Editor buku “Nyoman Erawan: EĀ®MOTIVE Reconstruting Visual Thought“, Penerbit Buku Arti Denpasar tahun 2015. Penulis dan editor buku “Seni Rupa Bali Sebagai Aset Pusaka Budaya“, oleh Disbud Kabupaten Gianyar Bali tahun 2015. Menulis buku “Jati Diri Kultural Evav: Melacak Kebudayaan Kei dari Bali“ bersama Prof. Yong Ohoi Timur diterbitkan oleh Pustaka Larasan 2015. Penulis juga kerap diundang menjadi narasumber diskusi, senimar, sarasehan tingkat daerah dan nasional, tahun 2014 pernah diundang menjadi salah satu narasumber dalam penyusunan Buku Blueprint Ekonomi Kreatif Indonesia Kemenparekraf-RI. Sejak tahun 2014 bersama beberapa penulis dan peneliti muda Bali mendirikan Gurat Institute yang konsen melakukan kajian pada seni rupa dan budaya visual. Pernah diundang untuk menyampaikan Orasi Ilmiah pada acara Wisuda Sarjana Angkatan ke-XI Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Langgur Maluku Tenggara, tanggal 12 Nopember 2015. Selain kegiatan ilmiah, sejak tahun 2004 penulis juga aktif menjadi kurator seni rupa dan menginisiasi berbagai pameran-pameran di Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Tengah menyusun beberapa buku biografi estetik seniman Bali antara lain: Maestro Pematung I Ketut Muja, Maestro seni rupa Bali I Ketut Budiana, Pelukis I Wayan Karja dan Pelukis Batik Gusti Made Sujana

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara

    Sinema Bentara akhir tahun ini menghadirkan film-film terpilih tentang keluarga berikut pernak-pernik kehidupannya. Selain film cerita panjang peraih nominasi dan penghargaan internasional, ditayangkan juga film pendek yang mengisahkan pengharapan anak-anak, cita-cita, serta suka-duka keseharian mereka dengan berbagai peristiwa unik yang memikat.

  • Pameran Mural Komunitas Djamur

    Boleh dikata Street Art atau “seni jalananan" adalah bentuk ekspresi kesenian yang direpresentasikan di “jalanan“ atau ruang publik di luar medan sosial seni rupa umumnya semisal galeri ataupun art space.
    Merayakan 9 tahun keberadaannya, Jamur, komunitas street art Bali, akan mengadakan pameran bersama; bukan semata menghadirkan karya yang sudah jadi, melainkan adalah sebentuk proses cipta langsung atau on the spot, yang diupayakan akan ditayangkan langsung secara berkala melalui live streaming di youtube chanel Bentara Budaya Bali.