EDITED CLOWN

Pameran Lukisan Tunggal Mola

Jumat, 08 Februari 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | pukul 19.30 WIB

Pembukaan Pameran: Jumat, 8 Februari 2019 | Pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung: 9 – 16 Februari  2019


Sebagai perempuan perupa, Mola ingin terus-menerus memainkan perannya di dalam jagat seni rupa Indonesia. Seperti layaknya perempuan yang berahim, berkarya dalam seni rupa dianggap Mola adalah semacam tempat istimewa yang menumbuhkan aneka emosi yang ia alami dan rasakan. Semua itu dijadikannya sebagai modal berkarya secara otodidak seperti yang ia persembahkan kali ini untuk pameran tunggalnya yang pertama berjudul “Edited Clown“ di Bentara Budaya Yogkarta mulai 8 Februari hingga 16 Februari 2019. 

Karya-karya Mola dengan subjek badut ini disajikannya dalam 18 karya dengan cat akrilik di atas kanvas dan 10 karya dengan watercolor di atas kertas. Untuk mempersiapkan pameran ini, Mola menggarapnya selama dua tahun. Ia yang tak pernah menempuh pendidikan seni rupa secara akademik itu didampingi penuh Asmujo Jono Irianto, kurator ternama dari Bandung yang juga dosen FSRD ITB Bandung dari awal ia mencetuskan berpindah dari subjek geisha ke badut. 

Sebagai pelaku kehidupan berliku -termasuk sebagai survivor kanker-, karya-karya Mola kali ini berbicara dengan figur badut sebagai subjek utamanya. Ia berupaya mengeksplorasi badut untuk dijadikannya menjadi sebuah pengungkapan banyak hal yang kompleks. Badut seperti menjadi caranya untuk berbicara secara menyeluruh, tidak parsial. Maka badut yang tak lekang zaman itu kadang tampil sebagai sosok yang sesungguhnya, atau sebagai karakter yang seolah lucu dan menghibur. 

Mola menjadikannya ide untuk mengantarkan pemikiran-pemikirannya tentang banyak masalah yang berhasil ditangkapnya dari sekitar. Masalah itu meliputi hal-hal yang terjadi secara pribadi maupun sosial di masyarakat. Namun seperti yang Asmujo tulis:  Apakah badut-badut dalam lukisan Mola tersebut merupakan gambaran dari perjalanan hidup dirinya? Bisa jadi demikian. Menurut Asmujo, badut sebagai refleksi diri sang seniman dalam karya-karya Mola ini menjadi hal yang menarik untuk disimak. 

“Kita tak pernah dapat menangkap apa sesungguhnya yang ingin dinarasikan Mola. Kita tidak bisa cukup yakin makna yang hendak disampaikan. Tetapi apakah menjadi penting untuk menangkap makna sesungguhnya atau sebangun dengan makna yang dimiliki sang seniman?“ tulis Asmujo. 

Memang ada banyak penerjemahan tentang badut yang dibawa Mola. Namun Mola tak ingin terjebak dengan stereotip itu. Ia berupaya menjadikan karyanya berbicara tak beremosi tunggal atau monoton. Ada lompatan-lompatan emosi yang dituangkan Mola pada tiap sentuhannya di atas kanvas semacam sebagai pencerita atau pembawa cerita pemikiran-pemikirannya. “Saya ingin mempersembahkan karya saya dalam solo exhibition kali ini untuk mendapatkan respons balik dari apa yang sudah saya lakukan selama ini untuk proses selanjutnya,“ kata Mola yang melukis sejak 2000.

Dalam pameran kali ini, dua penulis lain ikut mengulas proses berkarya Mola yaitu Raihul Fadjri Faniska, pengamat seni rupa dari Yogyakarta dan Heti Palestina Yunani, seorang jurnalis dan penulis dari Surabaya. Termasuk penulis dan kurator dosen ISI Yogyakarta Alex Luthfi yang ikut menyampaikan testimoninya bersama beberapa sahabat Mola yang turut menyertai  proses berkaryanya seperti perupa Dyan Anggraini, Ipong Purnama Sidi, John Mart, dan Moel Yoto. Pameran dibuka oleh kolektor dan pecinta seni dari Pacitan yang akrab dengan seniman Yogyakarta yaitu Benny Santosa Halim. Acara pembukaan yang dilangsungkan mulai pukul 19.30 di halaman Bentara Budaya Yogyakarta itu akan diisi dengan special performance Hani Santana feat Semendelic dan traditional dance. (*) 

agenda acara bulan ini
  • SKETSA - SKETSA KAWASAN MALIOBORO

    Gambar-gambar tangan Hendro Purwoko bukan buah keterampilan semata-mata tetapi juga ekspresi ajakan untuk membaca Malioboro sebagai kawasan kehidupan, kawasan budaya, yang sangat mewarnai keragaman perjalanan sejarah Yogyakarta. Motif sketsa Hendro Purwoko pantas untuk tidak hanya dibedah dari pencapaian wujud visual, melainkan juga dari motif konservasi ingatan dan picuan inspirasi konservasi, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatkan warisan budaya.

  • MACA PUISINE SINDHU "AIR PUISI SINDHUNATA"

    Sindhunata tidak pernah membayangkan akan menulis puisi, apalagi menerbitkan buku puisi. Ketika masih muda Sindhunata menekuni dunia jurnalistik, menjadi wartawan muda di Majalah Teruna kemudian berlanjut menjadi wartawan Kompas. Dari jurnalistik pula Sindhunata memulai kegiatan menulisnya. Dunia yang ditekuni hingga saat ini. Ketika Kompas memintanya untuk mengisi ruang kosong dengan cerita bersambung, Sindhunata menulis kisah wayang Ramayana yang kemudian kita mengenalnya dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin. Beberapa tahun kemudian cerita bersambung itu diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama.

  • PEKAN REYOG PONOROGO

    Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Reyog Ponorogo tergolong luar biasa. Sebagai contoh, berangkat dari tradisi bijak dalam menghadapi situasi, tokoh Batoro Katong lebih memilih mundur dari kemapanan hidup daripada menghakimi pemimpin yang salah dalam melangkah. Dalam dirinya seperti tumbuh kesadaran bahwa langkah-langkah yang konfrontatif seperti demo atau perbuatan makar lainnya, hanya akan melahirkan jatuhnya korban dari orang-orang yang tak berdaya. Selanjutnya, dalam rangka menggalang dukungan, leluhur kita yang cerdik tidak memilih menggunakan tangan besi (walau sanggup melakukan itu), tetapi justru memilih seni yang langsung bersentuhan dengan hati nurani.