Dialog Sastra #63

KOTA REKAAN DAN NYATA DALAM KARYA SASTRA

Minggu, 09 Desember 2018 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Tidak sedikit pengarang Indonesia dan luar negeri yang menjadikan kota atau suatu tempat sebagai sumber ilham. Dengan demikian, menghadirkan sejumlah kota rekaan dalam lapis demi lapis peristiwa, yang boleh jadi sebagian nyata dan sebagian adalah sebentuk realitas imajiner. Dialog Sastra #63 kali ini akan memperbincangkan perihal pertemuan para sastrawan dengan kota-kota yang dikunjungi, disinggahi atau dimukimi, yang terbukti mempengaruhi capaian karyanya. 

Dialog akan merujuk buku cerpen karya Raudal Tanjung Banua berjudul “Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai“ yang menelisik dengan pengamatan mendalam bagaimana kota-kota di tanah air tumbuh dengan cepat lewat “proyek“ pemekaran era otonomi. Sejumlah propinsi/kabupaten, terbagi menjadi dua atau lebih, baik dengan pola penamaan mata angin (barat, utara, selatan, utara, barat daya, tengah), penamaan geografis (hulu, kuala, gunung, pulau) atau berdasarkan nama etnik terbesar maupun nama-nama yang selama ini dianggap historis-familiar. 
Berbagai konflik mengemuka, sebagaimana dalam cerita, terkait adanya pemekaran dan pemekaran kota. Belum lagi bangkitnya kesadaran politik lokal dipicu tuntutan keadilan dan kesejahteraan. Sebutlah pengelolaan sumber daya alam, jumlah penduduk, rentang jarak-kendali dan hal-hal lain terkait kepentingan orang banyak. Padahal kesadaran ini tidak berbanding lurus dengan alasan sesungguhnya. Prosesnya tidak selalu mulus, bahkan tak jarang berdarah-darah, sebagian menopang langgengnya dinasti penguasa lokal.
Bagaimanakah cerpenis menghadirkan kota yang mengalami percepatan perubahan di dalam karya-karyanya? Semisal tata-ruang yang amburadul, sejarah yang redup, habisnya sumber daya, bergesernya pusat pertumbuhan ekonomi, binasanya infrastruktur, dilecut bencana, termasuk pula derasnya globalisasi yang melanda melalui rupa-rupa iklan, barang, jasa dan citra sejagad serta program-program swadaya yang lebih mengedepankan finansial ketimbang keringat. Semua itu membuat kota-kota kecil kita merasa menjadi bagian dari dunia, tetapi di saat yang sama sebenarnya tersaruk di sudut-sudut penawaran dan ketergantungan.  Tidakkah cerpenis ini tengah mengangkat kota-kota kecil menjadi tidak sekadar latar belakang, tapi latar depan dari cerpen-cerpennya? 

Tampil selaku pembicara yakni Raudal Tanjung Banua dan Made Adnyana Ole. 

Raudal Tanjung Banua, penulis seri cerpen Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Akar Indonesia, 2018). Bukunya yang lain di antaranya Parang tak Berulu (Gramedia, 2005) dan Api Bawah Tanah (Akar, 2013). Pernah bergabung di Sanggar Minum Kopi, Bali, dan sekarang menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah.

Made Adnyana Ole, bukunya antara lain Padi Dumadi (Arti, 2007) dan Dongeng dari Utara (Akar, 2014). Pernah bergabung di Sanggar Minum Kopi dan Yayasan Selakunda. Ia lahir di Tabanan, dan sekarang menetap di Singaraja mengelola Komunitas Mahima dan tatkala.co.  

agenda acara bulan ini
  • JAIS DARGA NAMAKU

    Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“.