Film EMAK dan BABA

DALAM KELUARGA TIONGHOA

Sorot Kelir Bentara

Kamis, 16 Januari 2020 Bentara Budaya Solo | pukul 19.30 WIB


Putar Film & Diskusi 
Kerjasama Bentara Budaya Solo & Kisi Kelir
Pembicara: 
Pandji Vasco da Gama 
Adjie Candra 
Moderator:
Setyaningsih


Manakala diramalah tahun 2020 menjadi giliran bagi shio tikus logam untuk memeriahkan Imlek 2571. Sebagaimana ramalan yang tersebar, tahun tikus logam akan diwarnai kehangatan dan prinsip kebersamaan yang kuat. Lalu, perayaan besar seperti ini pada umumnya, ilustrasi kehangatan dan kebersamaan yang kuat akan identik dimakan rakus melalui keluarga dalam ruang berbagi kasih dan berbagi ingatan leluhur. Kendati demikian, bisa saja keluarga bukanlah satu-satunya pilihan ruang untuk membagi kasih dan membagi ingatan leluhur. Apa yang menjadi alasan kita tidak memilih ruang itu? Apakah di tengah hiruk pikuk di luar sana, sesungguhnya mampu mengalihkan kita dari fasilitas ruang keluarga?

Sekurang-kurangnya, polemik fasilitas ruang keluarga seperti itu lah yang akan berusaha disuguhkan dalam pemutaran Sorot Kelir Bentara bulan Januari 2020 tahun tikus logam dalam perayaan Imlek tahun ini. Dua film akan diputar, dua film berakar dari keluarga dan makna pulang ke rumah. Semoga dengan pemutaran film ini, akar kehangatan dan prinsip kebersamaan tetap teles (basah) seperti sesudah diguyur hujan yang selalu ada saat melalui perayaan Imlek.

BABA (2017) durasi 22:35 menit
Sutradara: Brandon Omar Hitarie 
Sinopsis:
Kisah tentang tiga orang laki-laki dalam sebuah keluarga Cina Benteng dimana masing-masing memiliki ego yang membatasi hubungan mereka.
Papa: Seorang kepala keluarga yang keras dan berusaha mengatur jalan hidup anak-anaknya.
Anton: Seorang kakak laki-laki yang memberontak mencari kebebasan di luar rumah.
Denny: Seorang adik yang ingin mendamaikan kakak dan Papa yang berseteru.

EMAK (2016) durasi 15 menit
Sutradara:  Rahardwiyan Aristya Putra
Sinopsis:
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang nenek selain dapat berkumpul bersama dengan anak dan cucu di suatu hari raya. Akan tetapi, kebahagiaan itu hanyalah sebuah angan tatkala anak cucunya lebih memilih untuk pergi ke tempat lain daripada mengunjungi dirinya.

agenda acara bulan ini
  • CAMPUR SAYANG

    Musik Yang Khim adalah musik tradisional Tionghoa dan musik Campursari adalah musik tradisional Indonesia. Keduanya dibina oleh PMS dengan tujuan melestarikan kesenian tradisi leluhur, PMS melakukan kolaborasi dua bentuk seni musik tradisional itu untuk menggambarkan semangat gotong royong dan Bhineka Tunggal Ika sehingga dalam rangka Hari Raya Imlek, paduan dua seni musik tradisional tersebut dapat menggambarkan jiwa persatuan dan kesatuan.