COUNTER ATTACK!

A Visual Art Exhibition

Jumat, 03 Mei 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

LED Studio Project

Pembukaan Pameran:
Jumat, 3 Mei 2019  | Pukul 19.30 WIB
Dibuka oleh : Darmawan Saputra
Performing Art : Sipaningkah – Musik : Ega Fausta
Diramaikan : The Mudub
Pameran Berlangsung :   
4 – 9 Mei 2019 | Pukul 09.30 – 21.30 WIB


Counter Attack! Menjadi sebuah pilihan dalam judul pameran yang akan diselenggarakan di Balai Soedjatmoko pada tanggal 3 Mei 2019, Counter Attack dapat juga disebut dengan serangan balik yang artinya serangan atau perbuatan menyerang (menyerbu) dan balik sama dengan serangan yang dilakukan oleh pemain terhadap lawannya sebelum lawannya menyelesaikan serangannya. Sehingga poin dari arti kata counter attack adalah respon yang dilakukan atas serangan lawan sebelum lawan menyelesaikan serangan, dan tentu saja maksud dari tema yang diusung dalam pameran ini bukan untuk menyerang lawan terhadap musuh didalam sebuah peperangan.

Counter attack! Menjadi sebuah metafora kalimat yang dipakai untuk menunjukkan sebuah eksistensi dari tiap-tiap perupa yang sekian lama singgah, berdiskusi, dan bergabung didalam komunitas seni LED studios dengan menunjukkan kemampuan berkarya masing-masing untuk ditampilkan dihadapan publik seni rupa atas nama sebuah komunitas seni rupa, dan tentu saja dalam hal ini tidak ada batasan untuk karya yang mereka tampilkan, serangan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah untuk memberikan kejutan kepada publik seni rupa tentang wacana dalam kerja seni yang dilakukan tiap perupa dengan proses kreatif mereka masing-masing sebagai seniman individu yang kemudian beralih menjadi satu manifesto bersama dalam bentuk pameran atas nama komunitas, capaian yang ingin diraih tentu saja adalah kemenangan dengan cara mendapatkan eksistensi karya dan pengakuan proses kesenian tiap-tiap perupa dihadapan publik terhadap pelbagai isu pesan yang diangkat dalam wilayah sosial, politik, estetik maupun artistik didalam karya masing-masing perupa yang diwadahi dalam komunitas LED Studios.

Dan yang paling penting dalam hal ini semua adalah perupa yang tergabung dalam komunitas LED studios adalah perupa yang bekerja dan tinggal di Surakarta, walaupun pada akhirnya tidak menjadi begitu penting tentang keberadaan seniman dimana ia tinggal, tetapi  sekali lagi dalam tiap manifesto yang disampaikan ketika LED Studios membuat sebuah event kesenian di kota Surakarta selalu mempunyai harapan bahwa solo sebagai kota yang mempunyai institusi seni dan budaya seni visual yang kuat juga dapat menjadi bagian yang penting dalam proses kerja kreatif seni rupa dalam tingkat global.

agenda acara bulan ini
  • ORKES KERONCONG NADA JUANG

    Bentara Budaya Solo, akan menyelenggarakan pementasan musik keroncong dengan tajuk Keroncnong Bale. Keroncong Bale kali ini akan di selenggarakan pada hari Rabu, 24 juli 2019 dengan penampilan Orkes Keroncong Nada Juang.

  • JULI BLUES BERBUNYI

    Musik Blues dipandang sebagai akar dari perkembangan musik Jazz, Rock, Pop hingga masuk ke dalam dunia industri musik populer. Seperti pada awalnya muncul dilagu lagu Benyamin, Koes Plus, hingga kemudian diera 90’an ada Slank, dan sekarang banyak bermunculan musisi - musisi blues seperti Gugun Blues Shelter, Rama Satria, Ginda Bestari dsb.

  • LAGI-LAGI BICARA “PEREMPUAN“

    Publik barangkali sudah bosan atau malahan muak dengan tema soal perempuan. Pembahasan soal “perempuan“ hari-hari ini mudah sekali dapat generalisasi dengan sebutan feminisme. Sebutan yang di masa lalu pernah ngeri dan jauh karena keterbatasan informasi yang muncul ke hadapan publik. Di Indonesia, titik balik feminisme lekat dengan pengetahuan kita akan sosok Raden Ajeng Kartini. Bersama segenap sikap, tingkat laku, dan tulisan-tulisannya yang –pada masa itu– terbaca penuh perlawanan, Kartini menjadi ikon pahlawan perempuan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang tak lekang oleh zaman.

  • SERAT WIRA ISWARA-GANDRUNG ASMARA

    Serat Wira Iswara adalah termasuk karya besar ISKS. Pakoeboewono IX. Sesuai dengan namanya wira, wara, warah, yang artinya ajaran, petuah; Iswara artinya raja. Jadi Wira Iswara adalah ajaran atau petuah yang disampaikan oleh raja, dan karena isinya maka serat ini dapat digolongkan sebagai karya sastra tutur atau sastra ajar. Serat Wira Iswara adalah merupakan kompilasi atau kumpulan dari berbagai karya beliau, di antaranya Serat Gandrung Asmara, Serat Gandrung Turidha, Serat Wulang Rajaputra, Serat Wulang putri, dan sebagainya.