CERITA PEREMPUAN PARUH BAYA

Sinema Bentara #KhususMisbar

29 Jun 2019 ~ 30 Jun 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.00 WITA

Sudah menjadi keniscayaan dunia seni, tema tentang perempuan diangkat oleh para seniman lintas bidang. Namun kali ini, Sinema Bentara akan mengangkat cerita tentang perempuan paruh baya, tahapan usia yang mengundang aneka problematik kehidupan tersendiri. Bila masa muda diandaikan sebagai musim semi yang hari-harinya diwarnai keriangan dan pujian, akan tetapi saat seorang perempuan memasuki usia paruh baya, terasa benar berbagai masalah merundung keseharian mereka. 

Usia paruh baya juga diliputi pertanyaan-pertanyaan esensial, menyangkut peran seorang perempuan yang mengalami situasi tak mudah ketika kecantikan mulai memudar, tubuh mulai ringkih dan mudah dihinggapi penyakit, serta kehendak untuk tetap tampil anggun menawan di satu sisi, berikut rundungan kenyataan bahwa pasangan hidup atau anak-anak mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, serta tak jarang ‘mengabaikan’ kehadiran sang perempuan paruh baya tersebut. Demikian pula pandangan masyarakat yang kerap menuntut perempuan-perempuan tersebut hadir sebagai sosok panutan.

Sinema Bentara kali ini menghadirkan upaya-upaya sineas lintas bangsa, peraih berbagai penghargaan nasional dan internasional, menampilkan kisah-kisah perempuan paruh baya yang mengahadapi berbagai problematika, termasuk situasi ekonomi, sosial dan kultural yang tidak mudah. Bagaimana sosok Malèna (2000) dalam film garapan sutradara Giuseppe Tornatore, perempuan berparas cantik yang hidup bersama ayahnya, ditinggal pergi berperang oleh suaminya. Ia mesti bertahan hidup di tengah gunjingan masyarakat mengenai pernikahannya, serta berupaya survive dengan melakoni pekerjaan yang mengundang cemooh dan hinaan. 

Juga sosok Juliette, seorang perempuan paruh baya yang memiliki anak, tinggal di perumahan pinggiran Paris dalam film La Vie Domestique (2012) karya sutradara Isabelle Czajka. Semasa hidupnya, ia dimonopoli oleh tugas-tugas kecil sehari-hari dan pekerjaan rumah tangga. Suatu hari, ia memiliki janji pertemuan di Paris yang penting untuk karirnya, akankah ia bisa berdamai dengan pilihannya? 

Di sisi lain, kita dapat menjumpai sosok perempuan paruh baya pada film India bertajuk Kahaani (2012) karya sutradara Sujoy Ghosh. Perempuan itu bernama Vidya Bagchi, tengah hamil besar; bekerja sebagai software engineer di London. Ia datang ke Kolkata untuk mencari suaminya yang hilang. Petualang Vidya yang penuh hambatan serta tantangan, mungkinkah akan membawanya pada kebahagiaan?

Sutradara Sammaria Simanjuntak dalam film Demi Ucok (2012), peraih Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia 2012 ini, berkisah tentang sosok Glo yang mendapati dilema antara kebebasan diri atau memenuhi mimpi Ibunya untuk memiliki pasangan hidup sesegera mungkin. 

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama di ruang terbuka yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT, Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, dan Udayana Science Club. 

SINOPSIS FILM

Demi Ucok
(Indonesia, 2012, Durasi:79 menit, Sutradara: Sammaria Simanjuntak)
Kerjasama Bisokop Keliling Kemendikbud RI – BPNP Bali

Glo memiliki mimpi untuk membuat hidupnya berbeda dari kehidupan ibunya yang membosankan, dia ingin membuat sebuah film. Sementara sang ibu, yang divonis dokter hanya memiliki waktu beberapa tahun lagi untuk hidup memiliki satu mimpi mulia, yaitu menemukan jodoh yang tepat untuk anaknya. Dan cerita yang seru pun terjadi diantara keduanya dan mimpi-mimpi keduanya.

Film ini meraih Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia. 

La Vie Domestique
(Prancis, 2012, Durasi:  93 menit, Sutradara: Isabelle Czajka)
Didukung oleh Institut Français d’Indonésie dan Alliance Française Bali

Juliette, seorang perempuan paruh baya yang memiliki anak, tinggal di perumahan pinggiran kota di wilayah metropolitan Paris. Semua wanita di sini berusia empat puluhan, punya anak untuk dibesarkan, rumah untuk dijaga dan suami yang pulang larut malam. Kali ini ia memiliki janji pertemuan di Paris yang penting untuk karirnya, tetapi ia juga harus menjalankan tugas dan menjemput anak-anak dari sekolah. Selama masa hidupnya, ia dimonopoli oleh tugas-tugas kecil sehari-hari, Juliette dapat merasakan jeratan kewajiban domestik dan pekerjaan rumah tangga perlahan-lahan mengencang di lehernya.

Kahaani 
(India, 2012, Durasi: 122 menit, Sutradara: Sujoy Ghosh)
Didukung oleh Svami Vivekananda Cultural Centre – India (SVCC) Bali

Vidya Bagchi, seorang perempuan yang tengah hamil besar, bekerja sebagai software engineer di London. Ia datang ke Kolkata untuk mencari suaminya yang hilang, Arnab. Polisi bernama Satyoki memutuskan untuk membantunya. Akankah Vidya menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Pada Filmfare Awards ke-58, Kahaani memenangkan lima penghargaan, termasuk Sutradara Terbaik dan Aktris Terbaik; film tersebut juga dinominasikan untuk Film Terbaik. Film tersebut dinominasikan dalam tiga belas kategori di acara Screen Awards, termasuk Film Terbaik, dengan Vidya memenangkan kategori Aktris Terbaik. Film tersebut memenangkan tiga penghargaanSkenario Terbaik (Asli), Penyuntingan Terbaik dari Penghargaan Film Nasional India ke -60.
Malèna
(Italia, 2000, Durasi: 92 menit, sutradara: Giuseppe Tornatore)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Berlatar tahun 1940-an, di tengah iklim perang, seorang bocah lelaki bernama Renato, mendapati dirinya mengagumi sosok perempuan paruh baya bernama Malèna, berparas cantik yang tinggal di kota kecil Italia. Kecantikan Malena menjadi sorotan banyak orang, ia dipergunjingkan masyarakat karena muncul desas-desus mengenai pernikahannya.

Film ini mendapatkan The Grand Prix di Cabourg Film Festival tahun 2001 dan Sinematografi Terbaik pada David di Donatello Awards 2001, serta Golden Globes Italia 2001. 


agenda acara bulan ini
  • “A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“ #4

    Dua komposer muda unjuk karya dalam Komponis Kini 2019 “A Tribute to Wayan Beratha“ yakni Ni Komang Wulandari (23 tahun) dan Anak Agung Putu Atmaja (30 tahun). Keduanya sedini duduk di bangku sekolah dasar telah menekuni gamelan, serta aktif di berbagai sanggar hingga memutuskan menempuh pendidikan di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar.

  • KISAH SEBUAH KOTA

    Setiap kota selalu punya berlapis kisah lama, juga cerita sehari-hari yang tersembunyi, atau luput dari perhatian kebanyakan orang. Sinema Bentara kali ini akan menayangkan sejumlah film cerita dan dokumenter yang meraih penghargaan nasional dan internasional.