Bincang Buku Puisi karya Halim Bahriz

IGAUAN SEISMOGRAF

Senin, 21 Januari 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Emperan Bentara Muda


HALIM BAHRIZ, penulis kelahiran Lumajang yang juga menempa diri di Jember, Jawa Timur. Kedekatannya dengan puisi memula dari kegemarannya terhadap seni pertunjukan. Akhir tahun 2017, dua naskah teaternya diganjar Rawayan Awards oleh Dewan Kesenian Jakarta. Sejudul featurenya memenangi kategori umum sayembara penulisan The 4th Asean Literary Festival. Pada tahun 2015, puisi panjangnya: Kamis Lebam dan Tiga Perempuan, dinobatkan sebagai puisi terbaik dalam gelaran Proyek Seni Indonesia Berkabung, sejudul lain: Momen Menginap di Suatu Tubuh, mendapat juara pertama Festival Sastra UGM. Sempat diundang sebagai pengulas dan penyair untuk forum diskusi sastra nasional PKKH UGM. Kini ia sedang mengikuti program Residensi Penulis Indonesia di Praya (NTB) dan Seniman Mengajar 2018 di Sabang (Aceh). 
.
Igauan Seismograf adalah buku puisi tunggal pertamanya. Draft awal buku sudah disiapkan sejak pertengahan tahun 2015 dan puisi-puisi yang termuat di dalamnya dia tuliskan dalam berbagai cara pula situasi diri: dalam perjalanan, berbulan-bulan jadi manusia kamar, puasa tak berkata-kata, dengan kesadaran penuh, atau dalam pengaruh hal-hal tertentu yang tidak lagi ada di dekap kendali. Buku puisi ini merangkum 5 tahun durasi kepenyairan yang, meski terbilang pendek, akhirnya (setelah proses kurasi) menyisakan jumlah halaman cukup tebal untuk–“ukuran umum“―sebuah debut.
.
Igauan Seismograf―meminjam sejudul epilog Prof Faruk―menyerupai “keramaian narasi, kesunyian lirik“ di tengah situasi teror halus yang oleh pengantar Dwi Pranoto disingkapkan sebagai: reproduksi otentisitas dalam manufaktur kultural kapitalisme lanjut. Sebentuk riuh yang lirih, ricuh igauan yang nyaris depresif atas matinya individualitas unik yang mengakhiri pandangan tentang dunia dan pengalaman khas, “apa yang berhenti adalah waktu, sejarah.“ Teror halus serupa semilir angin itu terus menggiring harum ubun-ubun janin ke ujung lidah kalmasapada. Bayi-bayi tumbuh sebagai seorang hari libur yang membikin pengakuan dosa di bilik-bilik yang (tanpa sepengetahuan mereka) telah dipugar jadi sekotak pandora dalam sebuah keheningan beracun. “semenjak itu, di jelang subuh yang lebih merdu dari biasanya, aku tidak lagi mampu merindukanmu. aku hanya merindukan aku: momen menginap untuk mengalami diri sendiri.“
.
Igauan Seismograf ingin menggambar grafik kepanikan antara aku, fiksionalitas sejarah dan relasi-relasi―baik sosial, spesifik, pun biologis―yang memakai jerat kekuasaan sebagai cara meneguhkannya. Memula dari orgasme tanda tanya, arkelogi penyesalan, mistik dan parodi kesedihan, g.p.s. kolonialisme hasrat, siklus permainan sang dramaturg, sampai proyek copy paste meniduri selimut pembaca yang tertinggal di jemuran ketika hujan―yang terbagi acak ke dalam 5 bab: momen menginap, artefak mimpi, fosil alarm, penyandang insomnia, bekal begadang. Puisi-puisi yang dihimpun dalam buku ini kadang terdengar seperti suara imigran dari masa kanak yang dirusak, kadang mirip kepolosan masa belia yang selalu gagal menjadi ketulusan masa dewasa: “bacalah, untukmu.“

agenda acara bulan ini
  • Orkes Keroncong Mekar Arum

    Bermula dari kegemaran nongkrong bersama di wedangan, atau warga solo menyebutnya HIK (Hidangan Istimewa Kampung), sekumpulan anak muda ini akhirnya membentuk orkes Keroncong Mekar Arum.
    Di sebuah kampung daerah Mutihan acap kali terdengar lantunan musik sederhana yang terdiri dari gitar dan cuk, seiring berjalannya waktu kegemaran yang intens tersebut menimbulkan inisiatif berpikir, bagaimana caranya agar bisa membentuk grup musik yang lebih berkualitas dan tidak hanya gadon saja.