BERBAGI CERITA DAN HIDUP

Bincang Sastra Sanie B Kuncoro

Kamis, 05 Maret 2020 Balai Soedjatmoko | pukul 19.00 WIB

Seorang teman bertanya : “Mengapa menjadi penulis, juru cerita?“
Pertanyaan ini membawa kenangan pada tulisan pertama saya, yang ternyata menjadi 'panggung' pertama saya sebagai seorang juru cerita. Tulisan yang memberikan kesadaran terlalu dini bahwa sebuah tulisan bisa memberikan dunia yang lain, memberi ruang pada saya untuk menjelma sebagai seorang yang berbeda dari dunia realita yang tak bisa diingkari.
Terlalu dini, karena itu adalah awal-awal tahun saya di Sekolah Dasar. Bermula dari pelajaran mengarang di sekolah. Seorang guru memberikan tugas mengarang dengan tema liburan, yaitu menceritakan kegiatan kami selama masa liburan sebelumnya. Saya seorang anak dari keluarga sederhana, selama libur sekolah itu saya tinggal di rumah Nenek di luar kota, untuk menemani dan menjaga kedekatan hubungan keluarga. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas masa liburan itu bukanlah berisi piknik atau jalan-jalan, melainkan kegiatan hidup sehari-hari. Membantu menyapu lantai dan pekarangan rumah, mencuci piring dan bermain dengan anak tetangga. Jadi apa yang bisa saya tuliskan dalam cerita liburan saya? Rasa minder mencegah saya bercerita apa adanya. Yang muncul kemudian adalah angan dan harapan, berputar sebagai imajinasi di kepala saya. Bayangan yang muncul itu adalah sebidang sawah luas di belakang rumah Nenek, dengan padi yang menguning, dengan aneka burung, kupu-kupu aneka warna dan capung berterbangan yang menjadi teman bermain saya. Itulah kemudian yang saya tuliskan sebagai kamuflase atas cerita liburan saya yang sebenarnya. Yang terjadi kemudian, guru memilih tulisan itu sebagai cerita liburan terbaik, saya membacakan di depan kelas dan teman-teman mendengarkan dengan takjub. Itulah 'panggung' pertama yang memberikan kesadaran bahwa ada sebuah dunia imajinasi dan saya memiliki talenta untuk menuliskannya.
Dunia imajinasi itu seolah membuka pintu 'Taman Bermain' bagi saya. Taman yang mempertemukan saya dengan beragam karakter, cerita dan segala hal yang seolah tak terbatas. Dengan merekalah saya bermain. Serupa permainan susun puzzle atau kubus-kubus bergambar dengan pilihan gambar sesuai keinginan saya. Betapa menyenangkan menemukan perwujudan banyak hal yang sebelumnya tak teraih. Sekaligus memberikan sensasi berkuasa saat para karakter dan cerita mewujud sesuai kehendak. Kadangkala ada karakter yang tak patuh, melawan arahan dan memilih membentuk ceritanya sendiri dan justru menuntut saya untuk mengikuti rancangan mereka. Acapkali mereka membuat saya tak berdaya selain patuh hingga akhir cerita. Beberapa yang lain menimbulkan perdebatan yang alot dan mendadak meninggalkan saya tanpa kompromi, membuat rancangan plot terabaikan dan menyisakan cerita yang tak menjadi.
Itulah taman bermain yang memberi saya kebebasan mengolah dan mempermainkan banyak hal. Perasaan, logika, emosi, jungkir balik realita, harapan, angan-angan. Juga kerinduan tak terungkap. Dan ketika hidup menghadapkan kita pada pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, taman bermain itu memberi saya ruang untuk mereka-reka jawaban sebagai penuntas misteri.
Di kemudian masa, ketika cerita dari taman bermain ini menemukan pembacanya, merekalah yang menjadi penjaga panggung imajinasi saya. Beberapa di antaranya menjelma sebagai teman dan sahabat baru di dunia nyata, yang memberikan energi dan tumbuhnya inspirasi untuk cerita-cerita baru.
Entah berapa lama ini, dengan beragam sebab dan alasan, saya meninggalkan taman bermain itu. Bukan perpisahan yang abadi, hanya sebagai jeda panjang yang kiranya akan menumbuhkan energi baru suatu hari nanti. Dalam masa jeda inilah buku ini menjadi.
Sebuah buku berisi dua puluh satu cerita yang adalah kenangan sepanjang sekian tahun saya berada di Taman Bermain itu. Kisah-kisah yang sebelum ini telah menemukan pembacanya. Kedatangan mereka kini adalah demi menyapa kembali, yang barangkali akan menumbuhkan kerinduan pada segala kenangan yang telah silam. Salam sehangat rindu, Sanie B Kuncoro.