Bentara Pentas Monolog

CUT NYAK DIEN

Kamis, 16 November 2017 19.30 | Bentara Budaya Jakarta

Menampilkan Sha Ine Febriyanti


Nama Cut Nyak Dien tidak asing. Namun, selama ini kita lebih mengenal Cut Nyak Dien dari sisi maskulinnya sebagai seorang perempuan pejuang perkasa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang pantang menyerah. Cut Nyak Dien tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya; suaminya, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar. Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya, juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya. 

Teater Monolog Cut Nyak Dien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan menghampiri kehidupannya. Seorang istri yang gelisah acap kali suaminya pamit ke medan perang dan tak terdengar kabar keberadaannya. Meski dirinya memahami resiko yang akan dihadapi suaminya berhadapan dengan para khape di medan juang; Cut Nyak Dien tetaplah perempuan yang punya rasa, yang hatinya hancur, dan menangis kala yang datang adalah kabar duka. 

Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dien bangkit untuk meneruskan jejak dan semangat juang suaminya, bergerilya bersama pasukannya hingga dirinya ditangkap dan dijauhkan dari tanah kelahirannya; diasingkan ke pulau Jawa. Dari Cut Nyak Dien, kita belajar tentang keberanian, prinsip, serta perlawanan sekuat - kuatnya dan tak henti.

Kisah ini dituturkan Cut Nyak Dien dari hutan Sumedang, tempatnya menjalani masa - masa pengasingan hingga tutup usia pada 6 November 1908. Teater Monolog Cut Nyak Dien disutradarai dan dimainkan oleh Sha Ine Febriyanti. Dipentaskan pertama kali pada 2014 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta dan dibawa berkeliling ke beberapa kota di Indonesia pada 2015. 

Sha Ine Febriyanti, seorang pekerja seni, aktris teater, film, dan sutradara Indonesia yang mengawali karir sebagai model pada 1992. Pada 1999 mulai merambah dunia seni peran dan mengakrabi teater saat mendapat kepercayaan memerankan Miss Julie. Pada 2014 – 2015 menggarap kisah Cut Nyak Dien ke dalam teater monolog yang disutradarai dan diperankannya sendiri serta dipentaskan di beberapa kota termasuk Banda Aceh. Pada Juni 2017 berperan dalam repertoar Biduanita Botak dan berpartisipasi mewakili Indonesia pada Festival Teater Internasional di Gori, Georgia. Di Oktober 2017, menggarap dan mementaskan kisah Gayatri Rajapatni dalam teater monolog di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Di bidang film, peraih beasiswa Asian Film Academy di Busan, Korea Selatan, 2012, dan Pemeran Utama Wanita Terpuji Festival Film Bandung 2016 serta nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia 2016 lewat peran monolog dalam film Nay ini; menggarap film pendek Kita vs Korupsi sebagai media penyuluhan anti korupsi, dan menyutradari Tuhan Pada Jam 10 Malam.

Bersama beberapa kawan volunteer, sejak 2012 mendirikan Rumah Ilmu sebagai wadah kreatif bagi anak – anak di sekitar rumah untuk berbagi, belajar dan bermain bersama mengenal seni dan budaya seperti tari, musik, teater, film, gambar, silat, dan lain – lain. Rumah Ilmu terbuka bagi siapa saja yang memiliki energi yang sama untuk berbagi ilmu.

agenda acara bulan ini
  • Koentjaraningrat Memorial Lecture XV

    Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta mengadakan Kuliah Umum Antropologi “Koentjaraningrat Memorial Lecture“ sebagai bentuk pemaknaan kembali atas buah pikiran Intelektual Antropologi, Prof. Koentjaraningrat. Khusus untuk acara kali ini, Kuliah Umum mengambil topik “Integrasi Nasional dan Ancaman yang Dihadapi“ dengan pemateri Prof. Dr. Heddy Shri-Ahimsa Putra, MA. (Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada).

    Ini merupakan agenda tahunan FKAI dan telah berlangsung sejak tahun 2003. Setiap edisinya, Kuliah Umum Antropologi ini selalu mencoba menarik benang merah antara perkembangan ilmu Antropologi dengan kenyataan aktual yang terjadi di negeri ini.

  • Laring Project: TUBUKA

    Gema Swaratyagita menampilkan karya terbarunya yang berangkat dari mengolah tubuh, bunyi dan kata (TUBUKA) ke dalam suatu komposisi musikal. Konsep tersebut, menurut komposer kelahiran Jakarta 1984 ini, muncul ketika dirinya mencoba memaknai ulang definisi ‘aku’ dan ‘tubuhku’ di mana seringkali kita lupa melihat kekayaan tubuh sendiri dan terpukau dengan tubuh orang lain.

    Gema bermaksud mengajak siapapun yang berkenan berpartisipasi untuk mengirimkan bunyi yang dihasilkan dari masing-masing tubuh, bisa berupa bunyi tepukan telapak tangan, langkah kaki, atau respons lainnya sebagai bentuk “mengenali“ kekayaan bunyi tubuh sendiri, serta adakah pertanyaan atau ungkapan yang ingin disampaikan kepada tubuh kita.

  • Sajak Selasa

    Sajak Selasa merupakan program apresiasi puisi dan kolaborasinya ke dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bersama Komunitas Bentara Muda. Selain menampilkan pertunjukan lintas bidang antara puisi, musik, rupa, fotografi, multimedia, maupun paduannya dengan seni-seni tradisi seperti tari dan karawitan, acara ini juga terbuka bagi siapa saja untuk membacakan puisi karyanya sendiri.