Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan

Bincang Buku Sejarah

Jumat, 07 Februari 2020 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Pembicara:
Yoel Kurniawan Raharjo, M.Pd. (FKIP UNS)
Markus Triyanto (FKIP UNS)
Jumat, 7 Februari 2020 | Pukul 19.30 WIB 


Solo di era revolusi kemerdekaan seperti kawasan yang kebingungan, jalan mana yang akan
ditempuh, bergabung dengan republik atau mempertahankan status quo. Kebimbangan ini
terasa sampai di akar rumput, rakyat gegap gempita menyambut lahirnya negeri baru, di sisi
lain para elite merasa di bibir jurang. Sebenarnya sejak Jepang datang ke Hindia Belanda,
sejak itu pula kekacauan terjadi, jaman normal yang berlangsung cukup lama di Hindia
Belanda berubah menjadi era penuh kecemasan, peperangan di depan mata dan tatanan sosial
berubah secara cepat.
Ketika jaman Jepang hadir di Hindia Belanda kehidupan masyarakatnya turun drastis,
penderitaan mendera, seluruh kalangan merasakan era Jepang merupakan era penuh
penderitaan, harta benda dikeruk Jepang untuk peperangan, masyarakat menjadi seperti
budak. Tiga setengah tahun penderitaan berakhir, muncullah fajar baru ..Kemerdekaan.
Semangat kemerdekaan berarti kebebasan, tapi kebebasan yang seperti apa ? Masyarakat
umum meluapkan kegembiraan terbebas dari penjajahan, tapi tidak demikian dengan
beberapa kelompok masyarakat. Kemerdekaan tidak beda jauh dengan era sebelumnya,
bahkan jauh lebih menderita bagi beberapa kelompok masyarakat. Kemerdekaan juga yang
menjadikan tatanan sosial bukan hanya berganti, tapi mengalami keruntuhan, kekacauan
terjadi di sudut – sudut kota.
Kemerdekaan juga menghadirkan pertikaian di masyarakat, kehadiran kembali penjajah
menjadikan masyarakat berhadapan dengan penjajah sekaligus saudara sendiri. Di antara
mereka ada yang kemudian menjadi pejuang, ada juga yang menjadi pendukung penjajah,
serta ada yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi. Bandit dan Pejuang di
Simpang Bengawan merupakan buku yang mengisahkan itu semua, buku yang bercerita
situasi di Solo saat era revolusi kemerdekaan.