BALI MEGARUPA (MUARA)

Pameran Seni Rupa

22 Okt 2019 ~ 10 Nov 2019 Bentara Budaya Bali | 10.00 - 18.00 WITA

Sebuah pameran seni rupa bertajuk “Bali Megarupa“ digelar di Bentara Budaya Bali, buah kerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Peristiwa seni ini diharapkan dapat membangun ruang sinergi, interaksi, dan kolaborasi, sekaligus mengakomodasi seluruh potensi seni rupa yang berkembang di Bali. 

Secara khusus, karya-karya seni rupa terpilih yang dihadirkan kali ini merespon tematik Tanah, Air, dan Ibu. Tema tersebut  ingin mempertemukan berbagai pemikiran dan kehendak untuk menjadikan pameran perdana ini menjadi rentang jalan menuju perhelatan ideal ‘Bali Megarupa’ yang kelak dapat digelar secara berkala setiap tahun. Melalui tema dimaksud dapat diperinci empat pendekatan yang mencerminkan dinamika seni rupa Bali dari tradisi hingga kontemporer yakni : Hulu, Arus, Campuhan, dan Muara.

Selaras empat pendekatan tersebut, eksbisi Bali Megarupa diselenggarakan serentak di empat lokasi, yakni Hulu (di Museum Puri Lukisan); Arus (di Museum Seni Neka); Campuhan (di  Museum ARMA); Muara (di Bentara Budaya Bali).

Muara adalah kosa kata yang merujuk pada kisah perjalanan air yang tiba di hilir. Air yang semula bening di hulu setiba di muara boleh jadi berubah warna. Ini cerminan dari berbagai kontradiksi yang dialami air, laiknya pertemuan berbagai paradigma dan idiom seni rupa yang bersifat lintas batas, kolaboratif, partisipatif, merujuk pada sekian kemungkinan estetik. Ini adalah penyikapan kreatif perupa Bali terhadap fenomena modernisme berikut dinamika berbagai gerakan yang mengkritisinya. Tergambar dalam aneka presentasi yang nonkonvensional semsal, seni instalasi (installation art) serta bentuk-bentuk seni media baru lainnya.

Gejala plural seni rupa Indonesia menemukan momentum pada 1980-an, tidak terkungkung dalam satu bingkai estetik, seperti yang terlihat dalam seluruh perkembangan seni rupa Indonesia. Sanento Yuliman mengukuhkan pandangan tentang pluralisme dalam pengantar pameran Pasaraya Dunia Fantasi pada 1987 yang menampilkan lambang-lambang kebudayaan massa seperti, iklan, komik, dan majalah dari seni rupa bawah dalam kehidupan sehari-hari, dimana seni rupa kembali mempersoalkan masalah kemasyarakatan.

Perbincangan seputar wacana seni rupa kontemporer Indonesia semakin riuh, terutama pada aktivitas biennale berikutnya pada 1990-an. Di Bali, para seniman lintas bidang berkolaborasi, sekat-sekat keilmuan justru menyempurnakan bentuk-bentuk presentasi seni mereka ke ruang publik. Seorang arsitek bisa saja berkolaborasi dengan fine art artist sekaligus videografer mengusung paradigma seni instalasi seperti: Situs dan Ruang, Keterlibatan Aktif Pengamat, serta Multi Objek. Hal ini menjadi frame kuratorial pada lokasi pameran Muara di Bentara Budaya Bali. Seniman yang diundang membawa paradigma baru di luar idiom konvensional.  

Adapun seniman yang terlibat dalam pameran di Bentara Budaya Bali antara lain: I Wayan Arnata, I Made Galung Wiratmaja, Dewa Rata Yoga, Anom Manik Agung, Tjandra Hutama, Rudi Waisnawa, Djaja Tjandra Kirana, I Komang Arba Wirawan, Kokoksaja, I Made Arya Palguna, Komunitas Alas Tipis, Komunitas Djamur, Yessi Nur Mulianawati, IB Ratu Antoni Putra ‘Monez“, DP Arsa Putra, IG Putu Adi Supardhi, I Made Aswino Aji, Jango Pramartha, I Ketut Sugantika “Lekung“, I Ketut Putrayasa, I Kadek Arka Dwipayana, Made Bayak, I Wayan Jana, IB Putu Gede Sutama, Wiguna Valasara, I Gede Jaya Putra, Ida Bagus Alit, I Wayan Upadana, Putu Wirantawan

agenda acara bulan ini
  • BELUDRU PROJECT: Sustainability Spirit of Art in Bali

    Pameran seni rupa kali ini menampilkan karya-karya terpilih dari Kelompok Mangurupa, Badung. Merujuk tajuk “Beludru Project: Sustainability Spirit of Art in Bali“, eksibisi kali ini mencoba mengeksplorasi Beludru sebagai medium utama penciptaan. Daerah Badung sendiri dikenal menjadi titik tolak sejarah kesenian yang menggunakan kain beludru sebagai medium, dengan salah satu tokoh pelopornya yakni adalah Ida Bagus Gede (79).

    Beludru dan Bali cukup menarik jika ditelisik lebih dalam. Kain beludru boleh dikata selalu hadir di setiap upacara di Bali serta merupakan salah satu medium tradisi semisal untuk ukiran, aksesoris penari dan pendeta, menyimbolkan pula kemewahan dan ketenangan. Berangkat dari upaya eksplorasi medium beludru ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam medan seni rupa kontemporer Bali serta menjadi salah satu strategi gerakan seni kedaerahan yang mampu memberikan penawaran untuk menggerakkan kesadaran masyarakat akan seni rupa Bali saat ini.