ART RESPONS

Pameran Tunggal Seni Rupa M Basori

Selasa, 19 Februari 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | pukul 19.30 WIB

Pembukaan Pameran: Selasa, 19 Februari 2019  | Pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung: 20 – 27 Februari 2019 

Art Respons, sesunguhnya seperti halnya yang digunakan sebagai judul pameran ini–adalah kredo yang diyakini Moch Basori sebagai panduan berkarya. Ia adalah unsur mendasar dari label wacana yang ia gunakan untuk memperkenalkan seluruh hasrat berkeseniannya sejak tahun 1990-an. Sebagai konsepsi atau ide, Art Respons mendasari sikap ekspresif Moch Basori terhadap pelbagai bentuk dan media. 

Sejak semula, seperti yang ia akui –ia memahami atau menyadari bahwa seni rupa memiliki ruang yang begitu luas dan terbuka untuk dieksplorasi. Ini adalah semacam mengembalikan naluri kesadaran dalam kebudayaan yang paling purba –di mana kita menyaksikan karya-karya rupa manusia purba seperti yang terlihat di Gua Pont d'Arc di wilayah Ard├Ęche Perancis (berusia sekitar 36 ribu tahun). Mereka merespon ruang dan media apa saja termasuk dinding-dinding gua, atau halnya juga tradisi totem di Amerika dan juga Suku Asmat, Papua yang memahat dan melukisi kayu-kayu dalam konteks nilai dan moral tertentu dalam bingkai kesadaran naluriah terhadap yang transendens-metafisik, yang etis dan estetis.

Art Respons dengan demikian merupakan lanskap terbuka bagi semua kemungkinan untuk menghadirkan ekspresi etis maupun estetis melalui pelbagai bahan atau media. Ia juga menghadirkan semua kemungkinan kegunaan bagi kebutuhan ruang. Bak yang privat maupun publik. Art Respons yang dikemukakan sebagai ide ini adalah bermakna menjawab semua keinginan etis dan estetis melalui semua bahan berbentuk yang sudah ada atau bahan mentah yang tersedia. Semua bahan yang teronggok atau ‘terpampang’ dengan demikian bagi Art Respon belum selesai dan pantas untuk terus menjalani proses dialektika artistik secara terus menerus selama ia bersedia untuk itu. 

Dalam pameran ini kita akan menemukan ragam karya dengan berbagai bahan yang paling terbuang sekalipun di sekitar kita. Kertas, album foto, kayu, besi, botol, manekin dan sebagainya. Moch Basori merespon bahan dan sekaigus mencoba mengubahnya menjadi entitas karakter yang berbeda. Sebagai entitas karya dalam konteks nilai kebudayaan, karya-karya Moch Basori memiliki fungsi etis yang merupakan wujud dari kehendak kegunaan (utilititas) dan sekaligus estetika yang merupakan ekspresi dan representasi pengalaman batinnya. Akhirnya, karena ia memiliki dua unsur dasar dari nilai karya seni, karya-karya Art Response Moch Basori, saya pikir membatalkan tuduhan bahwa penggunaan bahan-bahan ‘tertentu’ hanya senilai craft. Demikian kira-kira.  (Ranang Aji SP, Penulis Sastra dan Pemimpin Redaksi Jurnal Lembar (Museum danTanah Liat)

agenda acara bulan ini
  • WHEN I'M 64

    Agus Leonardus, fotografer kenamaan kelahiran 11 November 1955, memamerkan sepilihan karya fotonya yang diprotret seiring puluhan tahun perjalanan karir fotografinya. Belum lama dia juga menerbitkan buku foto ‘When I’m 64’ (Nineart Publishing, 2019) yang memuat foto-foto yang diambil di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar negeri.

    Fotografi di dunia digital memang menjanjikan sedemikian rupa kemudahan. Teknologi yang begitu maju memungkinkan fotografer mengeksplorasi teknik demi menghasilkan foto terbaik. Akan tetapi, menurutnya, foto dengan kecakapan teknik saja tetaplah tidak cukup demi menghadirkan karya yang bernilai. Ada nilai maupun makna yang tetap penting dikedepankan.

  • JOGJA KOTA TOLERAN

    Diskusi ini merupakan rangkaian dari peluncuran buku esai “Menangkis Intoleransi Melalui Bahasa dan Sastra“ yang belum lama diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sebagai respons atas munculnya berbagai peristiwa intoleransi di kota ini. Buku esai ini merangkum tulisan berbagai penulis muda yang menuangkan beragam perspektifnya atas fenomena sosial budaya di sekitarnya, dengan penyunting antara lain Ratun Untoro, Mulyanto, Latief S. Nugraha.

    Adapun diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan DIY ini bertujuan untuk memahami lebih jauh kondisi sosial budaya di Yogya. Benarkah Jogja masih dianggap sebagai kota toleran? Apakah yang menyebabkan munculnya peristiwa-peristiwa intoleransi akhir-akhir ini dan bagaimana kita dapat kembali menciptakan ekuilibrium alias keseimbangan dalam berkehidupan sosial budaya?