ARC of BALI

Reloaded Project #2019 “X“-tion

Sabtu, 08 Juni 2019 Bentara Budaya Bali | puku 18.30 WITA

Pembukaan : Sabtu, 8 Juni 2019, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 9 – 18 Juni 2019, pukul  10.00 – 18.00 WITA

Selalu menarik menyimak kegigihan seniman-seniman muda, termasuk perupa yang unjuk karya pada pameran ARC of BALI: Reloaded Project #2019. Terlebih lagi, menimbang bahwa ini adalah satu rangkaian program kurasi yang diniatkan kuratornya, Wayan Seriyoga Parta dan Made Susanta Dwitanaya dari Gurat Institute, mengedepankan potensi emerging artists. Bukan saja menyuguhkan karya-karya terbaik buah kompetisi, melainkan mengundang pula kreator-kreator yang dipandang memiliki capaian stilistik dan upaya menggali tematik yang otentik. 

Dalam perkembangan budaya digital, seni lukis realis mendapatkan tantangan yang besar. Muncul sebuah pertanyaan besar, tentang “bagaimana posisi seni lukis realis di dalam rezim digital ini? Dapatkah seni lukis realis berperan di dalam mengkritisi rezim digital?“  Seni lukis khususnya seni realis sudah lama turut memakai media digital sebagai bagian dari alat bantu menangkap realitas, akan tetapi seni realis selayaknya tidak hanya menyalin realitas sebagaimana dicibir oleh Plato melalui konsep memesisme itu. Seni lukis yang melibatkan rasa (sensibilitas), sudah selayaknya juga menghadirkan penyikapan kritis terhadap kondisi dan semangat zaman. 

Sebagaimana catatan pengantar pameran-pameran di Bentara Budaya Bali selama ini, seraya menyimak dinamika berkesenian di Bali khususnya dan Indonesia, juga karya-karya yang terhampar pada pameran kali ini, tidak berlebihan kiranya bila kita meyakini bahwa pada kurun masa tertentu kelak, sebagaimana telah ditunjukkan karya-karya masterpieces; apa yang diperistilahkan sebagai tradisi, modern dan kontemporer boleh jadi bukan lagi sesuatu yang dikotomis dan problematis, apalagi dipertentangkan sebagai melulu yang lampau dan yang terkini.

Kita kini memang memasuki era yang lintas batas, kecanggihan teknologi informasi adalah keniscayaan yang mendorong kita untuk mengkritisi segala hal yang baku, berbagai terminologi, bahkan batas-batas sebuah negeri yang dulu dipandang hakiki. Tema “X“ – tion yang direspon para perupa muda ini, selaras dengan kenyataan kini. Dengan demikian, diharapkan mereka akan terpicu juga melahirkan karya-karya masterpieces, yang kuasa melampaui segala hal yang dikotomis dan problematis, sebagaimana disinggung di atas. 

Kerja kreatif berkesenian kini, karenanya tak lagi bisa bersandar hanya pada bakat alam, atau melulu intuitif, akan tetapi mensyaratkan adanya riset yang mendalam berikut pendekatan referensial ke segala lini, di mana sang kreator bekerja dalam laboratorium cipta pribadinya sebagai sebentuk pertanggungjawaban seorang ‘intelektual’. Dan sejatinya, seorang seniman adalah seorang cendekia dalam pengertian yang sebenarnya. 

Bentara Budaya Bali selalu dengan sukacita bekerjasama dengan para seniman muda, atau siapa saja, yang kritis pada segala fenomena, sekaligus bersedia melakukan otokritik atau mulat sarira. Dua sikap dasar ini memungkinkan kita sepenuh sungguh #BerkolaborasiUntukIndonesia.

Pameran yang merupakan kerja sama Bentara Budaya Bali dengan Gurat Institute dan didukung Richstone Art & Design ini diikuti 20 seniman, antara lain: Ida Bagus Gde Adi Jaya Artha, Agus Ramantha, I Made Budiyasa, Luh Gede Gita Sangita Yasa, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Ni Nengah Mega Risna Dewi, I Kadek Suardana, I Ketut Suryawan, I Wayan Suwarita, Tri Akta Bagus Prasetya, I Made Marthana Yusa, Putu Suhartawan, Putu Dudik Ariawan, I Nyoman Kariasa, I Made Jendra, I Nyoman Suarnata ‘Rako, I Gede Jaya Putra ‘Dekde’, I Ketut Kerta Yoga, Luh De Widya,  Ketut Gede Susana. 

agenda acara bulan ini
  • CERITA PEREMPUAN PARUH BAYA

    Sudah menjadi keniscayaan dunia seni, tema tentang perempuan diangkat oleh para seniman lintas bidang. Namun kali ini, Sinema Bentara akan mengangkat cerita tentang perempuan paruh baya, tahapan usia yang mengundang aneka problematik kehidupan tersendiri. Bila masa muda diandaikan sebagai musim semi yang hari-harinya diwarnai keriangan dan pujian, akan tetapi saat seorang perempuan memasuki usia paruh baya, terasa benar berbagai masalah merundung keseharian mereka.