Foto: Risman Marah (2019)

AIR MATA AIR BENGAWAN

Pameran Foto

Selasa, 10 September 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Pembukaan: 
Selasa, 10 September 2019 | Pukul 19.30 WIB
Dibuka Gubernur Jawa Tengah
Ganjar Pranowo (masih dalam konfirmasi)
Hiburan ' AN-PLUCK ' Band
Pameran Berlangsung:
11-19 September 2019 | Pukul 09.30-21.30 WIB


Peserta Pameran:
Andry Prasetyo, Anin Astiti, Arbain Rambey, Aris Liem, Beawiharta, Boy Harjanto, Darwis Triadi, Dhiky Aditya, Dodi Sandradi, Dwi Oblo, Ebbie Vebri Adrian, Edial Rusli, Fajar Apriyanto, Fauzie Helmy, Gathot Subroto (Gathoe), Hery Gaos, Irwandi, Maulana Surya Tri Utama, Misbachul Munir, Oscar Motuloh, Pamungkas W.S., Pandji Vasco Da Gama, Pang Hway Sheng, Purwastya Pratmajaya A.L, Risman Marah, Romi Perbawa, Prof Soeprapto Soedjono, Stephanus Setiawan, Sugede S Sudarto, Tandur Rimoro, Tarko Sudiarno, Teguh Santosa, Yana Daloe, Yuyung Abdi


Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.
Bentara Budaya Solo-Balai Soedjatmoko pada September 2019 mengangkat tema “1001 Warna Bengawan“. Kegiatan yang merujuk tema tersebut adalah penyelenggaraan pameran foto yang berjudul Air Mata Air Bengawan. 
Banyak fakta disuguhkan dari bidikan lensa para fotografer. Fakta-fakta aktual yang didapatkan ketika mereka hunting di tempat-tempat yang memiliki keistimewaan. Di Dusun Kracakan, Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora. Pada musim kemarau, Bengawan Solo  menjadi tempat wisata. Debit air yang menyusut drastis menyebabkan relief-relief dasar sungai tampak ke permukaan. Terdapat juga air terjun yang cukup lebar. Masyarakat sekitar menyebutnya miniatur air terjun Niagara. Di tempat ini ikan-ikan berkumpul, sehingga menjadi tempat favorit untuk para pemancing ikan.  
Air mengalir dari sela-sela bebatuan besar di bebukitan yang indah. Bebatuan besar bertumpuk-tumpuk sehingga terlihat motif-motif yang menarik. Jernih air seperti batu-batu kristal berkumpul dalam kubangan-kubangan. Mata air Dlepih di Wonogiri merupakan salah satu hulu Bengawan Solo yang memperlihatkan pesona keindahan alam pegunungan. ¬¨¬¨Pohon beringin tua yang besar, membuat suasana tetap teduh pada musim kemarau seperti saat ini. Keberadaan pohon-pohon menjadi perawat sumber-sumber mata air Bengawan Solo. 
Kedung Bacin menjadi salah satu tempat bukti kemakmuran desa hingga mendapat perhatian dari dua kerajaan: Keraton (Nagari) Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran. Kedung Bacin berada di Kecamatan Kebak Kramat, Karanganyar. Terdapat sisa pesanggrahan milik bangsawan Keraton Surakarta Hadiningrat yang dikenal warga dengan sebutan Gusti Riya bergelar Pakuningrat. Kedung Bacin menjadi tujuan kunjungan rombongan Paku Buwono X yang berkuasa 1893-1939. Acaranya, menyaksikan panen ikan tahunan ketika musim kemarau tiba. Penduduk kumpul dengan hiburan klenengan di kanan kiri sungai.
Kebesaran dan keagungan Bengawan Solo yang pernah menjadi urat nadi perdagangan ini sangat kontradiktif dengan kondisi saat ini. Pertengahan Agustus 2019, kami bersama salah satu peserta pameran melihat lebih dekat sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Jawa. Melewati rumah penduduk di tepian Jembatan Jurug, kami turun ke tepi sungai, yang berseberangan dengan Taman Satwa Taru Jurug. 
Bau air yang anyir dan bau bangkai sangat menyengat. Banyak ikan sapu-sapu mati membusuk, sebagian masih basah dikerumuni belatung. Kami menduga ikan-ikan ini mati karena terkontaminasi limbah, terlihat beberapa perutnya membesar. Sontak kami kaget ketika ada benda melayang jatuh persis di permukaan sungai. Ternyata, pengendara motor yang melintas, yang dengan mudah membuang sampah rumah tangga mereka ke sungai. Kejadian yang berkali-kali. Ini secuil contoh yang kami lihat langsung. 
Di buku Ekspedisi Bengawan Solo yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas tahun 2007,  memberikan paparan yang lebih lengkap. Pencemaran sungai sangat parah. Sungai menjadi tempat sampah raksasa, baik sampah domestik hingga limbah pabrik. Sepanjang tepian sungai seperti “kapstok“ gantungan sampah-sampah plastik. Terdapat juga tikar, bantal, dan kasur. Berbagai macam bangkai, mulai dari ayam, anjing, kucing, hingga kambing. Sejumlah peternakan babi juga membuang limbahnya ke sungai. Perusahaan penguras tinja manusia juga membuang ke sungai. Limbah pabrik, terutama garmen dan tapioca, dibuang ke sungai. Baunya busuk sekali! Padahal, air Bengawan Solo menjadi bahan baku sejumlah instalasi perusahaan air minum di kota-kota yang dilalui: Solo, Cepu, dan Bojonegoro.
***
Bengawan Solo mengalir dari mata air di Pegunungan Seribu, perbatasan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) dan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) menuju ke utara bermuara di Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sepanjang kurang lebih 548 kilometer.
Sebelumnya, aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa ini mengalir ke selatan, bermura di Pantai Sadeng, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dikenal dengan Bengawan Solo Purba. Dikarenakan peristiwa geologi jutaan tahun yang lalu, yakni pengangkatan tanah akibat tumbukan dua lempeng, Asia dan Australia. Peristiwa itulah yang menyebabkan perubahan aliran sungai Bengawan Solo ke utara, seperti saat ini yang kita lihat. Kita masih bisa melacak bekas alirannya saat kita menyusuri kawasan Telaga Suling, Desa Pucung, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, lebih kurang 30 kilometer. 
Para fotografer peserta pameran melihat, menelusur dan merekam beberapa lokasi Bengawan Solo. Dari lokasi hulu di pegunungan seribu, Wonogiri, Solo, Cepu dan ada beberapa ke  hilir sungai di Gresik. Bahkan, ada beberapa fotografer yang membidik Bengawan Solo Purba hingga di lokasi yang diduga muara Bengawan Solo Purba, Teluk Sadeng. Bukan hanya persoalan lingkungan yang dibidik, namun hal-hal lain pun menjadi objek kajian  foto mereka.


agenda acara bulan ini
  • Orkes Keroncong Bali Nada

    Orkes yang pernah masuk dalam lima besar kategori kelompok keroncong terbaik di Kota Solo ini, lebih mengedepankan permainan keroncong dengan format asli. Pemilihan penggarapan dengan melestarikan lagu sesuai versi aslinya ini telah menjadi komitmen bersama para personel Bali Nada.

  • IMAJINARIUM

    Imajinarium, adalah ruang atau tempat yang terjadi sebagai hasil dari manifestasi pikiran dan perasaan seseorang. Imajinarium, sebuah sebutan kelompok yang digunakan sebagai ruang untuk berimajinasi demi mewujudkan karya-karya yang dianggap musikal maupun non-musikal.

  • CILPAA Creativity, Innovative, Learn, Productive of Art in Ability

    Teknologi memiliki peran penting dalam menunjang kemajuan di dunia pendidikan. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya negara yang berlomba-lomba menciptakan sebuah teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia terutama pada bidang pendidikan. Teknologi yang sering mengalami pembaruan dari masa ke masa salah satunya adalah teknologi digital. Peran teknologi digital dalam dunia pendidikan sangat berpengaruh khususnya dalam aktivitas belajar.