A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA

Komponis Kini 2019 #2

Sabtu, 22 Juni 2019 Bentara Budaya Bali | Pukul 19.00 WITA

Bila seri Komponis Kini 2016 adalah sebuah persembahan untuk komposer pelopor I Wayan Lotring, kali ini sepanjang tahun 2019 akan digelar serangkaian New Music for Gamelan berupa A Tribute to Wayan Beratha. Mengawali presentasi pertunjukan pada seri Komponis Kini 2019 akan tampil dua komposer muda, I Putu Adi Septa Suweca Putra dan Priya Kumara Janardhana, yang akan menghadirkan komposisi terkini mereka, sekaligus karya klasik dari para maestro terdahulu. 

Dengan demikian, program ini adalah sebuah upaya re-formasi, memberi format dan pemaknaan baru (re-interpretasi) terhadap gending-gending yang tergolong klasik atau yang sudah ada, sekaligus melakukan penciptaan (re-kreatif) yang (sama sekali) baru, buah respon perenungan yang panjang atas perjalanan ragam seni ini. Maka yang dikedepankan bukan semata sebuah upaya konservasi, namun juga eksplorasi yang lebih mendalam terhadap ragam komposisi musikal ini; sebuah penciptaan baru melampaui kebakuan serta tetap merefleksikan makna filosofis tertentu.

Upaya terencana dan berkelanjutan ini diniatkan bukan semata untuk memberikan pencerahan, namun juga berbagi apresiasi agar masyarakat turut merayakan bentuk-bentuk kesenian yang lahir dari ekspresi kekinian dengan capaian artistik yang terpujikan serta bermutu tinggi. Menarik menyimak komposisi dan presentasi dua komponis muda ini berikut sekaa gamelan mereka, bukan saja karena kreativitasnya yang terbilang lintas batas, namun juga masing-masing intens bergaul di dalam masyarakat penghayat gamelan yang boleh dikata punya langgam dan kecenderungan yang berbeda. I Putu Adi Septa Suweca Putra sempat bermukim di Solo, menekuni studi serta bergaul intens dengan seniman-seniman musik kota tersebut. Sedangkan Yan Priya Kumara Janardhana mengalami tahapan kreatif yang sama, namun di kota Yogyakarta.

A Tribute to Wayan Beratha tidak lain adalah sebuah penghargaan dan penghormatan mendalam kepada maestro gamelan yang karya-karyanya terbilang immortal. I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.

Di tahun 1957 di Banjar Belaluan, Beratha mendirikan Sekaa Gong Sad Merta. Ia juga mengajar tari dan tabuh di sejumlah sekaa gong di Bali, di antaranya; di Kerambitan Tabanan, Banjar Delodpeken, Singaraja, Banjar Pikat Klungkung, dan lain-lain. Beratha melahirkan sejumlah karya monumental, antara lain koreografi tari Yudha Pati, Tari Kupu-Kupu, dan Tari Tani. Beratha juga dikenal sebagai kreator gending Semar Pegulingan di Abiankapas Kaja Denpasar, dan juga pencipta gamelan Semara Dana, yang menggabungkan Gamelan Semarpegulingan dengan Gamelan Gong Kebyar. Ia sudah menciptakan sekitar 20 karya tari, gending, dan sendratari, antara lain Sendratari “Jayaprana“, Tabuh “Gesuri“, Sendratari “Ramayana“, Sendratari “Maya Denawa“, Instrumentalia “Palgunawarsa“ yang mendapat penghargaan tertinggi dalam festival gong kebyar seluruh Bali, Tari “Panyembrana“ dan lainnya.

Beratha juga turut berperan atas lahirnya sekolah seni tradisi modern seperti Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) yang dulunya disebut KOKAR (konservatori karawitan), ASTI, hingga ISI. Atas pengabdiannya dalam bidang kesenian, khususnya gamelan Bali, Beratha mendapatkan gelar kehormatan Empu Seni Karawitan pertama dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar (2012), serta sejumlah penghargaan lain: Anugerah Seni Nasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1972), Piagam Kerti Budaya (1979), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (1981), dan Penghargaan Ciwa Nataraja dari ISI Denpasar (1992).

Komponis Kini merupakan sebuah program digagas Bentara Budaya Bali bersama tiga komposer yang konsisten memperjuangkan New Music for Gamelan; I Wayan Gde Yudane, Wayan Sudirana dan Dewa Alit. Bertujuan untuk menciptakan atmosfer berkesenian bagi seniman-seniman gamelan di Bali dan di tanah air, dengan mengedepankan upaya-upaya penciptaan baru (new gamelan) yang berangkat dari kekayaan warisan seni-seni gamelan tradisi. Ini sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya. Selain menampilkan pertunjukan musik, acara juga akan diperkaya dengan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan; sebentuk pertanggungjawaban penciptaan. 

I Putu Adi Septa Suweca Putra, lahir 29 September 1992 di Padang Tegal, Ubud. Sedari remaja ia telah berpentas gamelan ke berbagai negara, antara lain di San Fransisco, Malaysia, serta bersama gamelan Salukat tampil di Cal Performances, Berkeley CA, Cutler Majestic Theatre, Boston dan Brooklyn Academy of Music, New York sebagai musisi dalam pementasan Opera a House in Bali. Bersama grup JingGong Septa melakukan pementasan musik samulnori fusion di Korea Selatan. Selanjutnya septa diundang sebagai artist in residence of the Danish Centre for Culture and Development (CKU) Denmark pada tahun 2015. Sebagai kolaborator, Septa juga pernah membuat karya bersama dengan group Dafra Kura Band (Afrika), Filastine (Barcelona) dan Bloco (Singapura). Komposisi yang diciptakannya antara lain: Star Cluster, Lali, Space, Prastuti, Centhana Acenthana, Circle, Sekat, Uger-Uger, Mebat, Janari, Float, dan Tapak Dara. Kini ia mendirikan grup gamelan yang bernama Gamelan Natha Svara, aktif sebagai komposer, musisi gamelan dan direktur Gamelan Natha Svara.

Yan Priya Kumara Janardhana, S. Sn, lahir di Tabanan, 28 September 1992. Ia merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sedari tahun 2007 telah aktif terlibat dalam berbagai pertunjukan gamelan, seperti pada Pesta Kesenian Bali dan Jazz Goes to Campuss, kerjasama Universitas Indonesia dengan Institut Seni Indonesia Denpasar. Ia juga menciptakan sejumlah komposisi, semisal: “Simpang Siur“ dan “Kembung“ yang dipentaskan dalam Pekan Komponis Indonesia (2013) di Taman Ismail Marzuki, Disfonia (2013), “Not as short as you think“ (2016), dll. Ia kerap bekerjasama dengan sejumlah kelompok dan seniman dalam menggarap musik untuk pertunjukan atau teater, antara lain: berkolaborasi dengan IMUTA (Indonesia Music Talent) Orchestra dalam acara Christmas Charity Concert di Jakarta, grup tari Kontemporer “Tindak Alit“ untuk koreografi berjudul “Manusia Jatuh Tempo“, “Selaka Tanpa Guna“ dan “Sita Disita“, Cak Modern bekerjasama dengan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan. Selain mengkomposisi musik gamelan, ia juga pernah menciptakan komposisi untuk musikalisasi puisi. Meraih Juara I Lomba Seni Pertunjukan Kontemporer di Universitas Udayana (2014).

agenda acara bulan ini
  • CERITA PEREMPUAN PARUH BAYA

    Sudah menjadi keniscayaan dunia seni, tema tentang perempuan diangkat oleh para seniman lintas bidang. Namun kali ini, Sinema Bentara akan mengangkat cerita tentang perempuan paruh baya, tahapan usia yang mengundang aneka problematik kehidupan tersendiri. Bila masa muda diandaikan sebagai musim semi yang hari-harinya diwarnai keriangan dan pujian, akan tetapi saat seorang perempuan memasuki usia paruh baya, terasa benar berbagai masalah merundung keseharian mereka.