Karya Tien Hong

“ABSTRACT IS“

Pameran Tujuh Perupa Muda

12 Okt 2017 ~ 22 Okt 2017 Bentara Budaya Bali | 18.30 WITA

Pembukaan : Kamis, 12 Oktober 2017   |   Pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 13 – 22 Oktober 2017   |   Pukul 10.00 – 18.00 WITA 


Sungguhkah seni yang dianut kaum modernis, menjunjung keuniversalan, sudah selesai seturut mewabahnya paradigma postmodern? Perdebatan menyoal hal ini bisa berkepanjangan, termasuk pula tentunya karya-karya seni abstrak yang capaian estetiknya dianggap telah dieksplorasi hingga penghujung kemungkinannya. 

Tujuh perupa muda Bali ini sepakat berpameran bersama, justru memilih ragam seni abstrak sebagai rujukan rupa; menjadikan karya nir-sosok ini sebagai pilihan stilistik sekaligus tematik, ya, ‘Abstrac Is’. Mereka meyakini karya-karya beraliran abstrak ini memungkinkan menyampaikan pesan atau suatu renungan yang tengah merundung keseharian para perupa ini. Mereka berasal dari ISI Yogyakarta, ISI Denpasar dan Seni Rupa Undiksha.

Apakah pameran ini, berupa dua dimensi maupun tiga dimensi, berangkat dari satu kesadaran bahwa seni abstrak juga kuasa mempresentasikan realita, atau sekaligus merupakan ekspresi keyakinan mereka akan adanya ke-niskala-an yang dianut masyarakat Bali, dan tentu meresapi keseharian para perupa ini pula? Karya-karya merekalah, I Made Kenak Dwi Adnyana, I Ketut Agus ‘Dangap’ Murdika, I Kadek Darma Negara, I Komang Trisno Adi Wirawan, I Putu Sastra Wibawa, Tien Hong dan I Wayan Piki Suyestra; yang akan menjawabnya. 

Dikuratori oleh Made Susanta Dwitanaya, mereka sebelumnya juga pernah berpameran di Bentara Budaya Yogyakarta pada 4-12 Oktober 2016, merujuk tajuk “Benang Merah“. Hal mana ini mengingatkan pula akan kehadiran perupa muda lainnya melalui pameran “Bali Emerging Artist“ di Bentara Budaya Bali pada 25 Juli – 3 Agustus 2016 lalu; menunjukkan adanya tekad bersama untuk memperjuangkan ruang bagi para kreator yang tengah meneguhkan eksistensinya. 

Karya-karya pelukis muda tentulah menarik untuk disimak, sebab pada tahapan cipta ini biasanya tecermin dinamika kreativitas dengan kegairahan yang tinggi; mengemuka sebagai kegentingan antara meraih keotentikan yang mempribadi, berikut jejak pengaruh para pendahulu. Pada titik ini, terlihat kegigihan mereka bersiteguh untuk melampaui segala yang disebut figurasi, melalui kebebasan menghablurkan aneka warna sebagaimana langgam musikalisasi Kandinski, atau ragam visual geometri ala Mondrian, atau pilihan minimalis nir-figur, seturut abstrakisme lainnya. 

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara #KhususMisbar

    Dunia kini disatukan oleh informasi yang serba digitalisasi. Sehingga batas-batas sosial kultural masyarakat seringkali menjadi maya, apa yang terjadi di belahan benua lain dapat seketika dan serentak disaksikan pula di Indonesia atau negeri-negeri manapun. Melalui tajuk “Pujian bagi Tanah Air“, Sinema Bentara kali ini mengetengahkan sejumlah film terpilih Indonesia dan mancanegara yang sama-sama mengkritisi dan menimbang ulang apa itu nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme, di tengah perjuangan penegakan kemanusiaan yang bersifat lintas bangsa.

  • Kelas Kreatif Bentara

    Kelas Kreatif kali ini merupakan kelanjutan dari program serupa pada bulan Juli lalu yang mengedepankan upaya berbagi pengalaman dan pemahaman terkait menulis resensi film. Setelah sebelumnya dipaparkan perihal dasar-dasar penulisan, struktur dan sistematika penulisan resensi, juga langkah-langkah menulis resensi serta contoh-contohnya, kini akan difokuskan pada pendalaman.

  • Gelar Paduan Suara

    Gelar Paduan Suara “Ode Bulan Agustus“ kembali diselenggarakan di Bentara Budaya Bali, kali ini akan tampil 9 kelompok paduan suara terpilih yang akan unjuk kepiawaian seraya merayakan dan memaknai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73. Program ini telah berlangsung sedari tahun 2015, bertempat di empat lokasi Bentara Budaya, antara lain: Bentara Budaya Jakarta, Bentara Budaya Yogyakarta Bentara Budaya, Balai Soedjatmoko Solo dan Bentara Budaya Bali.

  • Pameran Seni Rupa

    Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menyelenggarakan pameran perupa dari Tanah Minang. Pada tahun 2013, tepatnya tanggal 26 Mei hingga 4 Juni, telah hadir karya terpilih Kamal Guci (59) yang membentangkan pemandangan alam Minangkabau nan molek dalam kanvas, namun jauh dari nada nostalgik romantik ala pelukis naturalistik.