“A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“ #5

Komponis Kini 2019 Bersama I Wayan Gde Yudane dan Dewa Alit

Jumat, 20 September 2019 Bentara Budaya Bali | 19.00 WITA

Setelah menampilkan sekian komponis muda dalam serangkaian program berkala, Komponis Kini #5 terbilang khusus karena menghadirkan karya-karya terkini dua kurator, yakni I Wayan Gde Yudane berjudul  "Word in Iron" (komposisi baru untuk Gamelan Selonding) dan Dewa Alit bertajuk Siklus (komposisi baru untuk Gamelan Salukat). Pentas kali ini secara khusus dihadirkan sebagai bagian perjalanan menuju tur pentas internasional. 

Komponis Kini 2019 merujuk tajuk “A Tribute to Wayan Beratha“, tidak lain adalah sebuah penghargaan dan penghormatan mendalam kepada maestro gamelan yang karya-karyanya terbilang immortal. Upaya pencarian dan penemuan diri I Wayan Beratha itulah yang diharapkan menjadi  semangat program ‘Komponis Kini’ di Bentara Budaya Bali, sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya.

Komposisi I Wayan Gde Yudane "Word in Iron", berangkat dari kompleksitas pola temporal dengan mengambil jumlah maksimum dari pola akar, di atas semua level struktural yang mungkin. Tujuannya adalah untuk membangun ukuran kompleksitas tingkat tinggi yang  sesuai dengan gagasan manusia tentang subjektif kompleksitas. Komposisi ini mencerminkan pula kolaborasi kreatif puisi yang ditulis Ketut Yuliarsa. 

Sementara komposisi “Siklus“ buah cipta Dewa Alit  terinspirasi dari kehidupan alami masyarakat tradisional yang memakai kalender sebagai pedoman dalam beraktivitas sehari-hari. Siklus atau kalender itu sendiri tertuang dalam bentuk realisasi aktivitas kehidupan yang inovatif, melahirkan enerji berkualitas tinggi, kemudian diaktualisasikan lewat rangkaian warna-warna bunyi. Filosofi kalender yang membentuk konsep dipakai untuk mengatur terbentuknya pola-pola ataupun motif-motif, adalah sebagai proses upaya kreatif. Perputaran aspek-aspek alamiah yang berulang-ulang merefleksikan pengejawantahan nilai-nilai dari isi kalender itu sendiri, adalah struktur keseluruhan wujud komposisi musik.

Sedini awal, tahun 2012, program ini diniatkan sebagai sebuah upaya re-formasi, memberi format dan pemaknaan baru (re-interpretasi) terhadap gending-gending yang tergolong klasik atau yang sudah ada, sekaligus melakukan penciptaan (re-kreatif) yang (sama sekali) baru. Yang dikedepankan bukan semata konservasi, namun terutama adalah eksplorasi mendalam terhadap ragam komposisi musikal ini; sebuah penciptaan baru melampaui kebakuan, akan tetapi tetap merefleksikan filosofis tertentu.

Komponis Kini diprogramkan secara terencana dan berkelanjutan, bertujuan untuk menciptakan atmosfer berkesenian bagi seniman-seniman gamelan di Bali dan di tanah air, dengan mengedepankan upaya-upaya penciptaan baru (new music dan new gamelan). Agenda ini berupaya pula memberikan pencerahan bagi publik musik, sekaligus ajang apresiasi agar masyarakat turut merayakan bentuk-bentuk kesenian yang mencerminkan ekspresi kekinian, terpujikan secara artistik dan bermutu tinggi.

I WAYAN GDE YUDANE
Lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan Melbourne Age Criticism sebagaiCreative Excellent pada Festival Adelaide, Australia (2000) berkolaborasi dengan Paul Gabrowsky; Penghargaan Helpman sebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater Temps Fort, Grup France and Cara Bali, juga Festival Munich dan La Batie. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), Laughing Water and Terra-Incognita, dan Arak (2004), serta sebagainya. Pada tahun 2017, bersama Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram, ia terpilih menghadirkan karya komposisi terkininya pada program Festival Europalia di Perancis, Belgia, dan Jerman serta mendapat apresiasi yang cemerlang.

DEWA ALIT 
Lahir dari keluarga seniman di Bali pada tahun 1973. Sedini muda ini telah bersentuhan dengan gamelan Bali. Ia dikenal memiliki pendekatan yang terbilang ‘’avantgrade“ namun tetap mempertimbangkan nilai-nilai tradisi dalam musiknya. Karyanya “Geregel“ (2000) sangat berpengaruh baik di Bali maupun di luar negeri, menjadi bahan analisis 50 halaman pada “ The Perspectives on New Music“. Ia kerap diundang untuk mengajar dan membuat komposisi gamelan Bali di luar negeri. Dia juga menulis musik untuk ensambel non-gamelan seperti MIT’s Gamelan Electrika dan Talujon Percussion, USA. Komposisi berjudul “Open My Door“ ditulisnya tahun 2014 untuk Ensemble Modern dari Frankfurt, Jerman.  Dewa Alit mendirikan grup Gamelan Salukat pada 2007, mengkhususkan diri dalam memainkan komposisi-komposisi terkini ciptaan Dewa Alit. Gamelan Salukat telah melakukan tur ke USA dengan Bang on the Can, USA dalam produksi opera baru Evan Ziporyn “A House in Bali“ pada tahun 2009 dan 2010. Kelompok melakukan tur Eropa pertama mereka pada bulan Juni 2018.

agenda acara bulan ini
  • BELUDRU PROJECT: Sustainability Spirit of Art in Bali

    Pameran seni rupa kali ini menampilkan karya-karya terpilih dari Kelompok Mangurupa, Badung. Merujuk tajuk “Beludru Project: Sustainability Spirit of Art in Bali“, eksibisi kali ini mencoba mengeksplorasi Beludru sebagai medium utama penciptaan. Daerah Badung sendiri dikenal menjadi titik tolak sejarah kesenian yang menggunakan kain beludru sebagai medium, dengan salah satu tokoh pelopornya yakni adalah Ida Bagus Gede (79).

    Beludru dan Bali cukup menarik jika ditelisik lebih dalam. Kain beludru boleh dikata selalu hadir di setiap upacara di Bali serta merupakan salah satu medium tradisi semisal untuk ukiran, aksesoris penari dan pendeta, menyimbolkan pula kemewahan dan ketenangan. Berangkat dari upaya eksplorasi medium beludru ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam medan seni rupa kontemporer Bali serta menjadi salah satu strategi gerakan seni kedaerahan yang mampu memberikan penawaran untuk menggerakkan kesadaran masyarakat akan seni rupa Bali saat ini.